Kamis, 25 Oktober 2018

#CatatanArinaPart4

What i've missed the most is senam kewer-kewernya smp 4. Persis kayak yang ada di video nih. Percaya deh, mereka kalo lagi senam tuh lucu dan itu menghibur banget. 

Anyway, ini kita lagi ada di Taman Botani Sukorambi.






#CatatanArinaPart3

Dan ini juga bagian terpenting selama 2 bulan itu,
26 orang yang sebelumnya tidak saling kenal, tetapi menjadi saling sayang dan kompak. 26 orang yang menjadi bagian ceritaku. 26 orang yang tiap nggak sengaja ketemu bisa heboh dan rame sendiri. 26 orang yang menjadi penenun canda dan tawaku. 26 orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Yahya
Lidiya
Rovita
Zainap
Whenni
Arina
Rio
Sigit
Seby
Lina
Ambar
Oryza
Eka
Meidian
Ayu
Danis
Bidaya
Novy
Irma
Mila
Agung
Nindya
Miya
Debby
Nisyak
Rizkhy

Daya ingat orang kan beda-beda, barangkali besok-besok aku lupa makanya aku tulis satu-satu hehe. Sukses  terus, Rek.












#CatatanArinaPart2

"Bu, ini bener?"
"Bu, gimana kok bisa gitu?"
"Bu, kok cuma 2 bulan?"
"Maaf ya Bu kalau kita rame"
"Itu bu yang rame, dicatet aja Buuuu...."
"Bu.."
"Bu.."
dan masih banyak lagi keluh kesah mereka :')

Pertama kali dipanggil Bu guru, rasanya bangga dan terharu. Dah setua ini ternyata.

Intinya adalah...
Terima kasih untuk sambutan yang luar biasa, antusiasnya, ramainya, perhatian dan seluruh pelajaran berharganya selama 2 bulan kemarin, Nak-anakku.
See you on top, Kelas 7D SMP Negeri 4 Jember. 










Rabu, 24 Oktober 2018

#CatatanArinaPart1

"Doamu yang mana? Usahamu yang mana?"

Mungkin, kita merasa apa yang kita lakukan selama ini telah mencapai batas maksimal. Mungkin, kita sering berkeluh kesah. Mungkin, ada kalanya kita berpikir apa yang kita kerjakan belum menuai hasil sesuai apa yang kita inginkan.

Lantas, siapa yang patut disalahkan?

Sering sekali, diri saya merasa apa yang terjadi saat ini tidak adil. Kerap kali menyesali apa yang terjadi. Menyesali mengapa dahulu tidak menata goals dengan benar, mengapa dahulu tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Ah, dan ujung-ujungnya menyesal lagi.

Dan puncaknya adalah sekarang. Baru terasa sekarang. Pada saat semua teman seperjuangan mulai berada di titik one step closer, dan saya masih stuck di sini, di titik ini, tidak ada kemajuan.

Tetapi ada suatu kutipan yang saat ini dan sampai kapanpun akan menjadi asupan semangat saya.
"Everyone in this world works based on their time zone. They are theirs and you are yours. Don't envy them and don't mock them"
Dan lagi.....
Apakah yakin kamu sudah berdoa dengan tulus? Dan apakah kamu yakin dengan usahamu selama ini?

#SelfReminder

Senin, 22 Oktober 2018

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Menghitung Kadar Hemoglobin


MENGHITUNG KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PADA VERTEBRATA BESERTA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT HEMOMETER

Arina Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121

ABSTRAK
Eritrosit hewan vertebrata mengandung pigmen pernapasan yang disebut hemoglobin. Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh pada mamalia dan  hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Penting diketahui mengenai kadar tinggi rendahnya hemoglobin dalam tubuh, karena apabila kadar hemoglobin rendah dapat mengindikasikan penyakit tertentu. Oleh karena itu, percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar Hb pada vertebrata, dalam percobaan ini yakni manusia. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemometer, pipet dan batang pengaduk. Sedangkan bahan yang digunakan adalah darah kapiler, 0.1 HCl, aquadest, tissue dan kapas. Metode dilakukan dengan memasukkan 0.1 HCl ke dalam tabung pengencer hemometer sampai angka 2, kemudian memasukkan darah kapiler yang sebelumnya telah dihisap dengan pipet Hb sampai angka 20 kedalam tabung pengencer yang terisi 0.1 HCl. Lalu HCl dalam tabung yang tercampur dengan darah dihisap dan dikeluarkan hingga tiga kali. Setelah itu, diencerkan dengan menggunakan aquades ssetetes demi setetes hingga warnanya sesuai dengan standart. Kemudian kadar Hb pada tabung pengencer hemometer yang terletak sesuai dengan tinggi permukaan larutan darah tersebut. Kadar hemoglobin sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya umur, jenis kelamin, kondisi ingkungan, berat badan dan tinggi badan.

Kata kunci : hemoglobin, hemometer
                                                                          


PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Pigmen respirasi yang terdapat pada hampir semua vertebrata dan banyak invertebrata adalah hemoglobin. Pada vertebrata, hemoglobin terkandung di dalam eritrosit. Hemoglobin vertebrata terdiri dari empat subunit (rantai-rantai polipeptida), masing-masing dengan satu kofaktor yang disebut gugus heme (heme group) yang mengandung satu atom besi di pusatnya. Setiap atom besi mengikat satu molekul O2 dengan demikian, satu molekul hemoglobin tunggal dapat mengangkut empat molekul-molekul O2, seperti semua pigmen respirasi, hemoglogin berikatan dengan O2 secara reversibel, memuat O2 di dalam paru-paru atau insang, dan melepaskannya di bagian-bagian tubuh yang lain. Proses ini bergantung pada kekompakan di antara subunit-subunit hemoglobin (Campbell, 2008: 83).
Hemoglobin adalah suatu pigmen (yang berwarna merah secara alami). Karena kandungan besinya maka hemoglobin tampak kemerahan jika berikatan dengan O2 dan keunguan jika mengalami deoksigenasi. Karena itu, darah arteri yang teroksigenasi penuh akan berwarna merah dan darah vena yang telah kehilangan sebagian dari kandungan O2 –nya di tingkat jaringan, memiliki rona kebiruan. Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapa berikatan dengan yang berikut
a.        Karbon dioksida
b.       Bagian ion hidrogen asam (H+)
c.        Karbon monoksida (CO)
d.       Nitrat oksida (NO) (Ganong, 2008)
Hemoglobin (Hb) adalah protein tetramik, terdiri dari dua alfa (141 residu) dan dua rantai beta (146 residu), membentuk α2β2 heterotetramer 64 kDa. Setiap subunit menyimpan heme di tengahnya
yang bertanggung jawab atas kemampuan pengikatan oksigennya. Meski sering dipandang semata-mata sebagai protein pengangkut oksigen, Hb memiliki kaya akan zat kimia yang berkaitan dengan reaktivitas atom besi pada kelompok heme. Aktivitas seperti periosidase dimana ferric atau metHb (Fe3+) dapat bereaksi
dengan hidrogen peroksida (H2O2) untuk membentuk oksidan kuat feril Hb
(Fe4 +) bersama dengan protein-based radikal. Bentuk-bentuk Hb yang teroksidasi ini pada gilirannya sangat rekatif dan terlibat dalam keruskan oksidatif berbagai molekul oksidatif (Chanake,  2017).
Hemoglobin merupakan protein yang banyak mengandung zat besi dan memiliki afinitas terhadap oksigen untuk membentuk oksihemoglobin di dalam eritrosit. Dari mekanisme tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulmo menuju jaringan (Pearce, 1991). Pada hemoglobin manusia dewasa normal (hemoglobin A), terdapat 2 jenis rantai polipeptida yang dinamakan rantai α dan rantai β. Pada rantai α, masing-masing mengandung 141 gugus asam amino, sedangkan pada rantai β masing-masing mengandung 146 rantai asam amino. Sehingga hemoglobin A dinamai α2β2. Akan tetapi tidak semua hemoglobin dalam darah dewasa normal merupakan hemoglobin A, sekitar 2,5% hemoglobin merupakan hemoglobin A2, tempat rantai β diganti oleh rantai δ (α2δ2) (Ganong, 2008).
Hemoglobin (Hb) biasanya diukur sebagai bagian dari jumlah darah lengkap dari sampel darah. Hemoglobin berperan penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan periferal lain dari tubuh dan menukar oksigen untuk karbon dioksida dan kemudian membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru di mana ia menukar oksigen. Hemoglobin terdiri dari empat molekul protein, yang disebut rantai globulin; Setiap rantai globulin mengandung struktur pusat penting yang disebut molekul heme. Tertanam dalam molekul heme adalah besi yang sangat penting dalam mengangkut oksigen dan karbon dioksida dalam darah kita. Besi yang terkandung dalam hemoglobin bertanggung jawab atas warna merah darah. Jika kadar hemoglobin melewati batas kritis maka masalah terjadi seperti anemia pada hemoglobin dan polisitemia rendah pada tingkat hemoglobin yang tinggi. Beberapa metode digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin total dalam darah (Doshi, 2013).
Berdasarkan tingkat penderita hemoglobin dikategorikan mengalami anemia ringan, sedang atau berat. Anemia ringan (pasien laki-laki 12-12,9 gm / dl & pasien wanita 11-11,9 gm / dl), anemia sedang (pasien pria 9-11,9 gm / dl & pasien wanita 8 -10,9 gm / dl) dan anemia berat (pasien laki-laki < 9gm / dl & pasien wanita <8 gm / dl) (Kalasker, 2014).
Metode pemeriksaan hemoglobin paling sederhana adalah metode Sahli, pada metode Sahli hemoglobin dihidrolisis dengan HCL menjadi asam hematin yang berwarna coklat, warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar (Norsiah, 2015).  
Jenis metode dipilih berdasarkan kelayakan, efektivitas biaya, kesederhanaan, kehandalan dan mudah digunakan di laboratorium dan di lapangan. Metode Sahli dari pengukuran hemoglobin relatif murah, mudah digunakan, tidak membutuhkan listrik dan hanya membutuhkan sampel kecil darah. Di negara berkembang misalnya seperti India paling banyak menggunakan metode umum seperti metode sahli ini (Patil, 2013).
Metode Sahli yang masih sering digunakan di rumah sakit memiliki kelemahan bawaan, sperti subjektivitas terhadap hasil yang diberikan, misalnya subjektivitas terhadap warna visual perbandingan atau warna standart, kebutuhan untuk pipetting akurat (Srivastava,  2014).
Hemometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin. Hemometer sahli ialah pengukur kadar hemoglobin berdasarkan cara hematin asam dan terdiri dari alat pembanding warna, tabuing pengencer, pipet darah dan pipet pengencer.
Kadar Hb yang  normal dipengaruhi   oleh   konsumsi   zat   besi   dalam tubuh. Konsentrasi hemoglobin yang mengalami penurunan merupakan suatu tanda adanya anemia yang dapat disebabkan adanya defisiensi nutrisi terutama Fe dan asam amino tertentu, ketidakmampuan sumsum tulang memproduksi eritrosit, pendarahan yang hebat, dan hemolisis. Dalam sebuah penelitian, dilakukan peningkatan kadar Hemoglobin dengan hubungannya antara asupan zat besi dan aktivitas tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi zat besi menyebabkan kadar hemoglobin baik pada pria ataupun wanita tidak mengalami penurunan.
 
METODE PENELITIAN
                Sebelum melakukan percobaan, probandus yang telah ditentukan harus diketahui identitasnya terlebih dahulu, yaitu jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan umur. Perlu dilakukan pengukuran berkaitan dengan hal di atas, karena perbedaan umur dan jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada vertebrata
                Dalam menentukan kadar hemoglobin dalam darah diperlukan beberapa alat dan bahan yang digunakan. Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu hemometer, pipet dan batang pengaduk serta stopwatch. Untuk bahan yang digunakan yaitu darah kapiler, aquades, 0.1 HCl, kapas dan tissue.
                Hemometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin. Hemometer sahli ialah pengukur kadar hemoglobin berdasarkan cara hematin asam dan terdiri dari alat pembanding warna, tabuing pengencer, pipet darah dan pipet pengencer. Batang standar yang terdapat dalam alat pembanding warna itu terbuat dari kaca yang tidak dapat memucat. Tabung pengencer yang berupa persegi atau bulat sering mempunyai garis tanda pada kedua belah sisinya. Garis-garis tanda pada sisi pertama menunjukan kadar hemoglobin dalam persent dan garis tanda padasisi lain menunjukan kadar hemoglobin dalam gram/100ml darah. Pipet digunakan untuk meneteskan aquades kedalam tabung pengencer dan batang pengaduk digunakan untuk mengaduk campuran antara darah kapiler, 0.1 HCl dan aquades.
                Prosedur kerja percobaan penentuan kadar hemoglobin dalam darah vertebrata ni dimulai dengan memasukkan 0.1 HCl ke dalam tabung pengencer sampai angka 2, kemudian menghisap darah kapiler dengan pipet Hb sampai menujukkan angka 20. Memasukkan darah kapiler ke dalam tabung pengencer yang berisi 0.1 HCl tadi. Setelah itu, menghisap dan dikeluarkan HCl yang bercampur dengan darah kapiler, hal ini dilakukan sebanyak tiga kali. Setelah didiamkan selama tiga menit, campuran darah dan 0.1 HCl tadi diencerkan dengan aquades. Ini dilakukan dengan meneteskan aquades kedalam tabung pengencer hingga warna larutan yang ada di dalam tabung warnanya sama dengan standart. Apabila warna larutan yang ada di dalam tabung pengencer sudah sesuai dengan warna standart, maka akan dilakukan pengamatan kadar hemoglobin, dengan cara kadar hemoglobin pada tabung pengencer hemometer yang terletak sesuai dengan tinggi permukaan larutan darah yang ada di dalam tabung pengencer.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari percobaan menentukan kadar hemoglobin dapat dilihat di tabel hasil pengamatan dibawah ini.


               






No
Nama Probandus
Jenis Kelamin
Berat Badan
Tinggi Badan
Umur
Kadar Hemoglobin (gr%)
1
Erna
Perempuan
37.5 kg
157 cm
19 th
12.8
2
Purwo
Laki-laki
42 kg
163 cm
20 th
11.5
3
Ica
Perempuan
85 kg
148 cm
21 th
13
4
Rino
Laki-laki
51 kg
168 cm
21 th
12.1
5
Rizka
Perempuan
38 kg
153 cm
20 th
14.3
6
Zuhri
Laki-laki
48 kg
156 cm
21 th
14.4



Data yang terdapat di tabel hasil pengamatan di atas menunjukkan ada 6 probandus dengan kadar hemoglobin berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal seperti jenis kelamin, umur, berat badan dan tinggi badan maupun faktor eksternal seperti kondisi lingkungan. Probandus pertama (Erna), berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 37.5 kg dan tinggi badan 157 cm, berumur 19 tahun, memiliki kadar hemoglobin 12.8 gr%. Probandus kedua (Purwo), berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 42 kg dan tinggi badan 163 cm, berumur 20 tahun, dan memiliki kadar hemoglobin paling rendah dibandingkan dengan probandus lainnya yaitu sebesar 11.5 gr%. Probandus ketiga (Ica), berjenis kelamin perempuan dengan berat badan 85 kg dan tinggi badan 148 cm, berumur 21 tahun, memiliki kadar hemoglobin yaitu sebesar 13 gr%. Pada probandus keempat (Rino), berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 51 kg dan tinggi badan 168 cm, berumur 21 tahun, memiliki kadar hemoglobin sebesar 12.1 gr%. Probandus kelima (Rizka), berjenis kelamin perempuan memiliki berat badan 38 kg dan tinggi badan 153 cm dan beumur 20 tahun, memiliki kadar hemoglobin 14.3 gr%. Serta yang terakhir, probandus keenam (Zuhri), berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 48 kg dengan tinggi badan 156 cm, berumur 21 tahun, yang memiliki kadar hemoglobin paling tinggi di antara probandus yang lainnya yaitu sebesar 14.4 gr%.
Nilai normal hemoglobin bagi wanita yaitu 12-16 gr/dL, sedangkan bagi laki-laki yaitu 14-18 gr/dL. Berdasakan tabel di atas, setiap probandus wanita (kelompok 1, kelompok 3 dan kelompok 5) memiliki kadar hemoglobin yang normal. Berdasarkan tabel di atas pula, dapat diamati bahwa umur seseorang juga akan mempengaruhi kadar hemoglobin; kelompok 1 (Erna) yang memiliki umur paling kecil dibandingkan lima probandus lainnya, seharusnya memiliki kadar hemoglobin yang paling tinggi dikarenakan semakin kecil/muda umur  seseorang maka kadar hemoglobinnya akan semakin tinggi.
Terdapat dua probandus yang memiliki kadar hemoglobin yang tidak sesuai dengan teori yaitu kelompok 2 (Purwo) dan kelompok 4 (Rino). Seharusnya bagi laki-laki kadar hemoglobin normal yaitu 14-18 gr/dL, namun pada kedua probandus tersebut, kadar hemobglobinnya hanya menunjukkan angka 11.5 dan 12.1. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi seperti faktor umur, kondisi lingkungan dan kegiatan tubuh serta posisi/ keadaan tubuh.
Pada percobaan penentuan kadar hemoglobin ini menggunakan sebuah metode yang umum digunakan yaitu Metode Sahli. Metode pemeriksaan hemoglobin paling sederhana adalah metode Sahli, pada metode Sahli hemoglobin dihidrolisis dengan HCL menjadi asam hematin yang berwarna coklat, warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar (Norsiah, 2015). Penggunaan HCl di praktikum ini bertujuan untuk melisiskan eritrosit sehingga hemoglobin yang terdapat di dalam eritrosit dapat keluar dan bereaksi dengan HCl membentuk asam hematin.
Setelah HCl dan darah dicampurkan, maka akan dilakukan proses menghisap dan mengeluarkan larutan campuran tersebut sampai tiga kali. Ini bertujuan guna menghomogenkan campuran dari HCl dan darah kapiler tersebut. Setelah diberikan perlakuan menghisap dan mengeluarkan, campuran HCl dan darah akan didiamkan selama tiga menit, perlakuan ini bertujuan untuk menghemolisiskan semua eritrosit yang tidak bernukleus.
Penambahan aquades setelah didiamkan selama 3 menit bertujuan agar campuran HCl dan darah menjadi encer dan warnanya sesuai dengan standart. Penambahan aquades dilakukan setetes demi setetes supaya warna yang dihasilkan sama dengan standart dan tidak terlalu encer. Dalam pemberian larutan aquades harus berhati-hati, karena apabila aquades yang diberikan berlebihan, hal ini akan berpengaruh terhadap besar kecilnya kadar hemoglobin suatu organisme. Untuk menentukan kadar hemoglobin, yang menjadi ukuran/indikator adalah tinggi permukaan larutan darah yang telah ditetesi aquades tersebut, sehingga jika terlalu banyak memberikan aquades akan menyebabkan ukuran kadar hemoglobinnya menjadi tidak valid.
Kadar hemoglobin yang kurang dari rujukan merupakan salah satu tanda dari anemia. Menurut morfologi eritrosit di dalam sediaan darah apus, anemia dapat digolongkan atas tiga golongan yaitu anemia mikrositik hipokrom, anemia makristik dan anemia normostik normokrom. Namun apabila kadar hemolobin lebih tinggi dari nilai rujukan, maka dapat mengindikasikan keadaan polistemia. Polistemia ada tiga macam yaitu polistemia vera, suatu penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, polistemia sekunder, suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat berkurangnya saturasi oksigen misalnya kelainan jantung bawaan, penyakit paru-paru karena peningkatan kadar eritoprotein berlebih, dan polistemia relatif yaitu suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma misal pada luka bakar.
Banyak sedikitnya kadar hemoglobin pada makhluk hidup dapa di pengaruhi oleh banyak fakor. Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah umur, jenis kelamin, geografi (tinggi rendahnya daerah), nutrisi, faktor kesehatan dan genetik.
Umur, semakin tua umur seseoang maka semakin berkurang kadar hemoglobinnya. Jenis kelamin, pada umumnya pria memiliki kadar hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan kadar hemoglobin pada wanita. Hal ini juga bersangkut paut terhadap kandungan hormon pada pria maupun wanita. Kadar hemoglobin wanita lebih rendah kaena faktor aktivitasnya yang lebih sedikit dibandingkan aktivitas pada pria, selain itu wanita juga mengalami menstruasi.
Geografi (tinggi rendahnya daerah), tempat tinggi di dataran tinggi, makhluk hidup di sana tubuhnya cenderung lebih aktif dalm memproduksi sel darah merah untuk meningkatkan suhu tubuh dan lebih aktif mengikat kadar O2, begitupun sebaliknya bagi makhluk hidup yang tinggal di dataran rendah. Hemoglobin makhluk hidup yang tinggal di pesisiran pantai cenderung mempunyai hemoglobin yang rendah, sebab tubuh memproduksi sel darah merah dalam keadaan normal.
Nutrisi, bila makanan yang dikonsumsi banyak mengandung Fe atau besi, maka sel darah yang diproduksi akan mengkat sehingga hemoglobin yang terdapat dalam darah akan meningkat. Dan begitupun sebaliknya.
Kecukupan besi dalan tubuh dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia karena kekurangan besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan heoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh untuk diekskresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom dan komponen lain pada sistem end=zi pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase dan peroksidase. Besi perperan dalam sintesis hemoglobin dalam darah merah dan mioglobin dalam sel otot.
Faktor kesehatan, kesehatan sangat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah. Jika kesehatan terjaga dengan baik, maka kadar hemoglobin akan dalam keadaan normal. Dan yang terkhir adalah faktor genetik. Hal ini berkaitan dengan penyakit keturunan, misalnya saja anemia sel sabit merupakan penyakit turunan berupa kelainan hemoglobin (hemoglobinopati) yaitu terbentuknya heoglobin S yang fungsinya terganggu sehingga sel darah merah berbentuk bulan sabit.



KESIMPULAN
                Pada pengamatan mengenai penentuan kadar hemoglobin ini menggunakan alat hemometer. Darah kapiler yang telah dicampur dengan larutan 0.1 HCl, dan diencerkan dengan aquades warna yang dihasilkan harus sama dengan standart yang ditentukan.
                Beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya kadar hemoglobin seseorang adalah umur, jenis kelamin, kondisi lingkungan, nutrisi, faktor kesehatan dan faktor genetik.












































DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece, et al. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Chanake, et al. 2017. Fetal hemoglobin is much less prone to DNA cleavage compared to the adult protein. Redox Biology Journal Vol. 12: 114-120.
Doshi, Rajashree dan Anagha Panditrao, 2013. Optical Sensor System for Hemoglobin Measurement. International Journal of Computational Engineering Research Vol. 3 (7): 41-45.
Ganong, W. F. 2008. Fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC.
Kalasker, Vishal, et al. 2014. Effect of Iron Deficiency Anemia on Glycosylated Hemoglobin Levels in Non Diabetic Indian Adults. International Journal of Medical and Health Sciences Vol. 3 (1): 40-43.
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira. Jakarta: EGC.
Norsiah, Wardah. 2015. PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN METODE SIANMETHEMOGLOBIN DENGAN DAN TANPA SENTRIFUGASI PADA SAMPEL LEUKOSITOSIS. Medical Laboratory Technology Journal Vol.1 (2): 72-83.
Patil, Prashant Jijabrao, Girish Vithal Thakare, Sarika Prashant Patil. 2014. Variability And Accuracy Of Sahli’s Method In Estimation Of Haemoglobin Concentration. Variability And Accuracy Of Sahli’s Method In Estimation Journal Vol.4 (1): 38-44.
Pearce, C.E. 1991 . Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Srivastava, Tanushree, et al. 2014. Methods for Hemoglobin Estimation: A Review of “What Works”. Journal of Hematology and Transfusion Vol. 2 (3): 1-7.



Mari Berbagi!

  SOAL BIOLOGI #PART 1 1.       Berikut ini adalah lima pokok data ilmiah: 1.       Hasil eksperimen 2.       Merumuskan masalah 3.   ...