MENGHITUNG
KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PADA VERTEBRATA BESERTA FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
DENGAN MENGGUNAKAN ALAT HEMOMETER
Arina
Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln
Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121
ABSTRAK
Eritrosit
hewan vertebrata mengandung pigmen pernapasan yang disebut hemoglobin. Hemoglobin adalah metaloprotein (protein
yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen
dari paru-paru
ke seluruh tubuh pada mamalia dan hewan
lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh.
Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu
molekul organik dengan satu atom besi. Penting diketahui mengenai kadar tinggi
rendahnya hemoglobin dalam tubuh, karena apabila kadar hemoglobin rendah dapat
mengindikasikan penyakit tertentu. Oleh karena itu, percobaan ini bertujuan
untuk menentukan kadar Hb pada vertebrata, dalam percobaan ini yakni manusia. Alat
yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemometer, pipet dan batang pengaduk.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah darah kapiler, 0.1 HCl, aquadest, tissue
dan kapas. Metode dilakukan dengan memasukkan 0.1 HCl ke dalam tabung pengencer
hemometer sampai angka 2, kemudian memasukkan darah kapiler yang sebelumnya
telah dihisap dengan pipet Hb sampai angka 20 kedalam tabung pengencer yang
terisi 0.1 HCl. Lalu HCl dalam tabung yang tercampur dengan darah dihisap dan
dikeluarkan hingga tiga kali. Setelah itu, diencerkan dengan menggunakan
aquades ssetetes demi setetes hingga warnanya sesuai dengan standart. Kemudian
kadar Hb pada tabung pengencer hemometer yang terletak sesuai dengan tinggi
permukaan larutan darah tersebut. Kadar hemoglobin sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya umur, jenis kelamin, kondisi ingkungan, berat
badan dan tinggi badan.
Kata
kunci : hemoglobin, hemometer
PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang
disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada
gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi
tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel
darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Pigmen respirasi yang terdapat pada hampir
semua vertebrata dan banyak invertebrata adalah hemoglobin. Pada vertebrata,
hemoglobin terkandung di dalam eritrosit. Hemoglobin vertebrata terdiri dari
empat subunit (rantai-rantai polipeptida), masing-masing dengan satu kofaktor
yang disebut gugus heme (heme group)
yang mengandung satu atom besi di pusatnya. Setiap atom besi mengikat satu
molekul O2 dengan demikian, satu molekul hemoglobin tunggal dapat
mengangkut empat molekul-molekul O2, seperti semua pigmen respirasi,
hemoglogin berikatan dengan O2 secara reversibel, memuat O2
di dalam paru-paru atau insang, dan melepaskannya di bagian-bagian tubuh yang
lain. Proses ini bergantung pada kekompakan di antara subunit-subunit
hemoglobin (Campbell, 2008: 83).
Hemoglobin adalah suatu pigmen (yang
berwarna merah secara alami). Karena kandungan besinya maka hemoglobin tampak
kemerahan jika berikatan dengan O2 dan keunguan jika mengalami deoksigenasi.
Karena itu, darah arteri yang teroksigenasi penuh akan berwarna merah dan darah
vena yang telah kehilangan sebagian dari kandungan O2 –nya di tingkat jaringan,
memiliki rona kebiruan. Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapa berikatan
dengan yang berikut
a.
Karbon
dioksida
b.
Bagian
ion hidrogen asam (H+)
c.
Karbon
monoksida (CO)
d.
Nitrat
oksida (NO) (Ganong, 2008)
Hemoglobin (Hb) adalah protein tetramik,
terdiri dari dua alfa (141 residu) dan dua rantai beta (146 residu), membentuk
α2β2 heterotetramer 64 kDa. Setiap subunit menyimpan heme di tengahnya
yang bertanggung jawab atas kemampuan pengikatan oksigennya. Meski sering
dipandang semata-mata sebagai protein pengangkut oksigen, Hb memiliki kaya akan
zat kimia yang berkaitan dengan reaktivitas atom besi pada kelompok heme.
Aktivitas seperti periosidase dimana ferric atau metHb (Fe3+) dapat bereaksi
dengan hidrogen peroksida (H2O2) untuk membentuk oksidan kuat feril Hb
(Fe4 +) bersama dengan protein-based radikal. Bentuk-bentuk Hb yang teroksidasi
ini pada gilirannya sangat rekatif dan terlibat dalam keruskan oksidatif
berbagai molekul oksidatif (Chanake, 2017).
Hemoglobin
merupakan protein yang banyak mengandung zat besi dan memiliki afinitas
terhadap oksigen untuk membentuk oksihemoglobin di dalam eritrosit. Dari
mekanisme tersebut dapat berlangsung proses distribusi oksigen dari pulmo
menuju jaringan (Pearce, 1991). Pada hemoglobin manusia dewasa normal
(hemoglobin A), terdapat 2 jenis rantai polipeptida yang dinamakan rantai α dan
rantai β. Pada rantai α, masing-masing mengandung 141 gugus asam amino,
sedangkan pada rantai β masing-masing mengandung 146 rantai asam amino.
Sehingga hemoglobin A dinamai α2β2. Akan tetapi tidak semua hemoglobin dalam
darah dewasa normal merupakan hemoglobin A, sekitar 2,5% hemoglobin merupakan
hemoglobin A2, tempat rantai β diganti oleh rantai δ (α2δ2) (Ganong, 2008).
Hemoglobin (Hb)
biasanya diukur sebagai bagian dari jumlah darah lengkap dari sampel darah.
Hemoglobin berperan penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan
periferal lain dari tubuh dan menukar oksigen untuk karbon dioksida dan
kemudian membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru di mana ia menukar
oksigen. Hemoglobin terdiri dari empat molekul protein, yang disebut rantai
globulin; Setiap rantai globulin mengandung struktur pusat penting yang disebut
molekul heme. Tertanam dalam molekul heme adalah besi yang sangat penting dalam
mengangkut oksigen dan karbon dioksida dalam darah kita. Besi yang terkandung
dalam hemoglobin bertanggung jawab atas warna merah darah. Jika kadar
hemoglobin melewati batas kritis maka masalah terjadi seperti anemia pada
hemoglobin dan polisitemia rendah pada tingkat hemoglobin yang tinggi. Beberapa
metode digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin total dalam darah (Doshi,
2013).
Berdasarkan
tingkat penderita hemoglobin dikategorikan mengalami anemia ringan, sedang atau
berat. Anemia ringan (pasien laki-laki 12-12,9 gm / dl & pasien wanita
11-11,9 gm / dl), anemia sedang (pasien pria 9-11,9 gm / dl & pasien wanita
8 -10,9 gm / dl) dan anemia berat (pasien laki-laki < 9gm / dl & pasien
wanita <8 gm / dl) (Kalasker, 2014).
Metode pemeriksaan hemoglobin paling
sederhana adalah metode Sahli, pada metode Sahli hemoglobin dihidrolisis dengan
HCL menjadi asam hematin yang berwarna coklat, warna yang terbentuk
dibandingkan dengan warna standar (Norsiah, 2015).
Jenis metode dipilih berdasarkan
kelayakan, efektivitas biaya, kesederhanaan, kehandalan dan mudah digunakan di
laboratorium dan di lapangan. Metode Sahli dari pengukuran hemoglobin relatif
murah, mudah digunakan, tidak membutuhkan listrik dan hanya membutuhkan sampel
kecil darah. Di negara berkembang misalnya seperti India paling banyak
menggunakan metode umum seperti metode sahli ini (Patil, 2013).
Metode Sahli
yang masih sering digunakan di rumah sakit memiliki kelemahan bawaan, sperti
subjektivitas terhadap hasil yang diberikan, misalnya subjektivitas terhadap
warna visual perbandingan atau warna standart, kebutuhan untuk pipetting akurat
(Srivastava, 2014).
Hemometer merupakan alat yang digunakan
untuk mengukur kadar hemoglobin. Hemometer sahli ialah pengukur
kadar hemoglobin berdasarkan cara hematin asam dan terdiri dari alat pembanding
warna, tabuing pengencer, pipet darah dan pipet pengencer.
Kadar Hb yang
normal dipengaruhi oleh konsumsi
zat besi dalam tubuh. Konsentrasi hemoglobin yang
mengalami penurunan merupakan suatu tanda adanya anemia yang dapat disebabkan
adanya defisiensi nutrisi terutama Fe dan asam amino tertentu, ketidakmampuan
sumsum tulang memproduksi eritrosit, pendarahan yang hebat, dan hemolisis. Dalam sebuah penelitian, dilakukan peningkatan kadar
Hemoglobin dengan hubungannya antara asupan zat besi dan aktivitas tubuh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsumsi zat besi menyebabkan kadar hemoglobin
baik pada pria ataupun wanita tidak mengalami penurunan.
METODE PENELITIAN
Sebelum melakukan percobaan,
probandus yang telah ditentukan harus diketahui identitasnya terlebih dahulu,
yaitu jenis kelamin, berat badan, tinggi badan dan umur. Perlu dilakukan
pengukuran berkaitan dengan hal di atas, karena perbedaan umur dan jenis
kelamin merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada
vertebrata
Dalam menentukan kadar
hemoglobin dalam darah diperlukan beberapa alat dan bahan yang digunakan. Alat
yang digunakan dalam percobaan ini yaitu hemometer, pipet dan batang pengaduk
serta stopwatch. Untuk bahan yang digunakan yaitu darah kapiler, aquades, 0.1
HCl, kapas dan tissue.
Hemometer merupakan alat yang
digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin. Hemometer sahli ialah
pengukur kadar hemoglobin berdasarkan cara hematin asam dan terdiri dari alat
pembanding warna, tabuing pengencer, pipet darah dan pipet pengencer. Batang
standar yang terdapat dalam alat pembanding warna itu terbuat dari kaca yang
tidak dapat memucat. Tabung pengencer yang berupa persegi atau bulat sering
mempunyai garis tanda pada kedua belah sisinya. Garis-garis tanda pada sisi
pertama menunjukan kadar hemoglobin dalam persent dan garis tanda padasisi lain
menunjukan kadar hemoglobin dalam gram/100ml darah. Pipet digunakan untuk
meneteskan aquades kedalam tabung pengencer dan batang pengaduk digunakan untuk
mengaduk campuran antara darah kapiler, 0.1 HCl dan aquades.
Prosedur
kerja percobaan penentuan kadar hemoglobin dalam darah vertebrata ni dimulai
dengan memasukkan 0.1 HCl ke dalam tabung pengencer sampai angka 2, kemudian
menghisap darah kapiler dengan pipet Hb sampai menujukkan angka 20. Memasukkan
darah kapiler ke dalam tabung pengencer yang berisi 0.1 HCl tadi. Setelah itu,
menghisap dan dikeluarkan HCl yang bercampur dengan darah kapiler, hal ini
dilakukan sebanyak tiga kali. Setelah didiamkan selama tiga menit, campuran
darah dan 0.1 HCl tadi diencerkan dengan aquades. Ini dilakukan dengan
meneteskan aquades kedalam tabung pengencer hingga warna larutan yang ada di
dalam tabung warnanya sama dengan standart. Apabila warna larutan yang ada di
dalam tabung pengencer sudah sesuai dengan warna standart, maka akan dilakukan
pengamatan kadar hemoglobin, dengan cara kadar hemoglobin pada tabung pengencer
hemometer yang terletak sesuai dengan tinggi permukaan larutan darah yang ada
di dalam tabung pengencer.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil dari percobaan menentukan
kadar hemoglobin dapat dilihat di tabel hasil pengamatan dibawah ini.
No
|
Nama Probandus
|
Jenis Kelamin
|
Berat Badan
|
Tinggi Badan
|
Umur
|
Kadar Hemoglobin (gr%)
|
1
|
Erna
|
Perempuan
|
37.5 kg
|
157 cm
|
19 th
|
12.8
|
2
|
Purwo
|
Laki-laki
|
42 kg
|
163 cm
|
20 th
|
11.5
|
3
|
Ica
|
Perempuan
|
85 kg
|
148 cm
|
21 th
|
13
|
4
|
Rino
|
Laki-laki
|
51 kg
|
168 cm
|
21 th
|
12.1
|
5
|
Rizka
|
Perempuan
|
38 kg
|
153 cm
|
20 th
|
14.3
|
6
|
Zuhri
|
Laki-laki
|
48 kg
|
156 cm
|
21 th
|
14.4
|
Data yang
terdapat di tabel hasil pengamatan di atas menunjukkan ada 6 probandus dengan
kadar hemoglobin berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat
disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal seperti jenis
kelamin, umur, berat badan dan tinggi badan maupun faktor eksternal seperti
kondisi lingkungan. Probandus pertama (Erna), berjenis kelamin perempuan dengan
berat badan 37.5 kg dan tinggi badan 157 cm, berumur 19 tahun, memiliki kadar
hemoglobin 12.8 gr%. Probandus kedua (Purwo), berjenis kelamin laki-laki dengan
berat badan 42 kg dan tinggi badan 163 cm, berumur 20 tahun, dan memiliki kadar
hemoglobin paling rendah dibandingkan dengan probandus lainnya yaitu sebesar
11.5 gr%. Probandus ketiga (Ica), berjenis kelamin perempuan dengan berat badan
85 kg dan tinggi badan 148 cm, berumur 21 tahun, memiliki kadar hemoglobin
yaitu sebesar 13 gr%. Pada probandus keempat (Rino), berjenis kelamin laki-laki
dengan berat badan 51 kg dan tinggi badan 168 cm, berumur 21 tahun, memiliki kadar
hemoglobin sebesar 12.1 gr%. Probandus kelima (Rizka), berjenis kelamin
perempuan memiliki berat badan 38 kg dan tinggi badan 153 cm dan beumur 20
tahun, memiliki kadar hemoglobin 14.3 gr%. Serta yang terakhir, probandus
keenam (Zuhri), berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 48 kg dengan
tinggi badan 156 cm, berumur 21 tahun, yang memiliki kadar hemoglobin paling
tinggi di antara probandus yang lainnya yaitu sebesar 14.4 gr%.
Nilai normal
hemoglobin bagi wanita yaitu 12-16 gr/dL, sedangkan bagi laki-laki yaitu 14-18
gr/dL. Berdasakan tabel di atas, setiap probandus wanita (kelompok 1, kelompok
3 dan kelompok 5) memiliki kadar hemoglobin yang normal. Berdasarkan tabel di
atas pula, dapat diamati bahwa umur seseorang juga akan mempengaruhi kadar hemoglobin;
kelompok 1 (Erna) yang memiliki umur paling kecil dibandingkan lima probandus
lainnya, seharusnya memiliki kadar hemoglobin yang paling tinggi dikarenakan
semakin kecil/muda umur seseorang maka
kadar hemoglobinnya akan semakin tinggi.
Terdapat dua
probandus yang memiliki kadar hemoglobin yang tidak sesuai dengan teori yaitu
kelompok 2 (Purwo) dan kelompok 4 (Rino). Seharusnya bagi laki-laki kadar
hemoglobin normal yaitu 14-18 gr/dL, namun pada kedua probandus tersebut, kadar
hemobglobinnya hanya menunjukkan angka 11.5 dan 12.1. Hal ini dapat disebabkan
oleh beberapa faktor yang mempengaruhi seperti faktor umur, kondisi lingkungan
dan kegiatan tubuh serta posisi/ keadaan tubuh.
Pada percobaan
penentuan kadar hemoglobin ini menggunakan sebuah metode yang umum digunakan
yaitu Metode Sahli. Metode
pemeriksaan hemoglobin paling sederhana adalah metode Sahli, pada metode Sahli
hemoglobin dihidrolisis dengan HCL menjadi asam hematin yang berwarna coklat,
warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar (Norsiah, 2015).
Penggunaan HCl di praktikum ini bertujuan untuk melisiskan eritrosit sehingga
hemoglobin yang terdapat di dalam eritrosit dapat keluar dan bereaksi dengan
HCl membentuk asam hematin.
Setelah HCl dan darah dicampurkan, maka akan
dilakukan proses menghisap dan mengeluarkan larutan campuran tersebut sampai
tiga kali. Ini bertujuan guna menghomogenkan campuran dari HCl dan darah
kapiler tersebut. Setelah diberikan perlakuan menghisap dan mengeluarkan,
campuran HCl dan darah akan didiamkan selama tiga menit, perlakuan ini
bertujuan untuk menghemolisiskan semua eritrosit yang tidak bernukleus.
Penambahan aquades setelah didiamkan
selama 3 menit bertujuan agar campuran HCl dan darah menjadi encer dan warnanya
sesuai dengan standart. Penambahan aquades dilakukan setetes demi setetes
supaya warna yang dihasilkan sama dengan standart dan tidak terlalu encer.
Dalam pemberian larutan aquades harus berhati-hati, karena apabila aquades yang
diberikan berlebihan, hal ini akan berpengaruh terhadap besar kecilnya kadar
hemoglobin suatu organisme. Untuk menentukan kadar hemoglobin, yang menjadi
ukuran/indikator adalah tinggi permukaan larutan darah yang telah ditetesi
aquades tersebut, sehingga jika terlalu banyak memberikan aquades akan menyebabkan
ukuran kadar hemoglobinnya menjadi tidak valid.
Kadar hemoglobin yang kurang dari rujukan
merupakan salah satu tanda dari anemia. Menurut morfologi eritrosit di dalam
sediaan darah apus, anemia dapat digolongkan atas tiga golongan yaitu anemia
mikrositik hipokrom, anemia makristik dan anemia normostik normokrom. Namun
apabila kadar hemolobin lebih tinggi dari nilai rujukan, maka dapat
mengindikasikan keadaan polistemia. Polistemia ada tiga macam yaitu polistemia
vera, suatu penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, polistemia sekunder,
suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat berkurangnya saturasi oksigen
misalnya kelainan jantung bawaan, penyakit paru-paru karena peningkatan kadar
eritoprotein berlebih, dan polistemia relatif yaitu suatu keadaan yang terjadi
sebagai akibat kehilangan plasma misal pada luka bakar.
Banyak sedikitnya kadar hemoglobin pada
makhluk hidup dapa di pengaruhi oleh banyak fakor. Beberapa
faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah umur, jenis kelamin, geografi
(tinggi rendahnya daerah), nutrisi, faktor kesehatan dan genetik.
Umur, semakin
tua umur seseoang maka semakin berkurang kadar hemoglobinnya. Jenis kelamin,
pada umumnya pria memiliki kadar hemoglobin yang lebih tinggi dibandingkan
kadar hemoglobin pada wanita. Hal ini juga bersangkut paut terhadap kandungan
hormon pada pria maupun wanita. Kadar hemoglobin wanita lebih rendah kaena
faktor aktivitasnya yang lebih sedikit dibandingkan aktivitas pada pria, selain
itu wanita juga mengalami menstruasi.
Geografi (tinggi
rendahnya daerah), tempat tinggi di dataran tinggi, makhluk hidup di sana
tubuhnya cenderung lebih aktif dalm memproduksi sel darah merah untuk
meningkatkan suhu tubuh dan lebih aktif mengikat kadar O2, begitupun sebaliknya
bagi makhluk hidup yang tinggal di dataran rendah. Hemoglobin makhluk hidup
yang tinggal di pesisiran pantai cenderung mempunyai hemoglobin yang rendah,
sebab tubuh memproduksi sel darah merah dalam keadaan normal.
Nutrisi, bila
makanan yang dikonsumsi banyak mengandung Fe atau besi, maka sel darah yang
diproduksi akan mengkat sehingga hemoglobin yang terdapat dalam darah akan
meningkat. Dan begitupun sebaliknya.
Kecukupan besi
dalan tubuh dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia karena
kekurangan besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil
dan kandungan heoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil
dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke
jaringan tubuh untuk diekskresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom dan
komponen lain pada sistem end=zi pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase
dan peroksidase. Besi perperan dalam sintesis hemoglobin dalam darah merah dan
mioglobin dalam sel otot.
Faktor
kesehatan, kesehatan sangat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah. Jika
kesehatan terjaga dengan baik, maka kadar hemoglobin akan dalam keadaan normal.
Dan yang terkhir adalah faktor genetik. Hal ini berkaitan dengan penyakit
keturunan, misalnya saja anemia sel sabit merupakan penyakit turunan berupa
kelainan hemoglobin (hemoglobinopati) yaitu terbentuknya heoglobin S yang
fungsinya terganggu sehingga sel darah merah berbentuk bulan sabit.
KESIMPULAN
Pada pengamatan mengenai
penentuan kadar hemoglobin ini menggunakan alat hemometer. Darah kapiler yang
telah dicampur dengan larutan 0.1 HCl, dan diencerkan dengan aquades warna yang
dihasilkan harus sama dengan standart yang ditentukan.
Beberapa faktor yang
mempengaruhi besar kecilnya kadar hemoglobin seseorang adalah umur, jenis
kelamin, kondisi lingkungan, nutrisi, faktor kesehatan dan faktor genetik.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell,
Reece, et al. 2008. Biologi Edisi
Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Chanake, et al. 2017. Fetal hemoglobin is much less prone
to DNA cleavage compared to the adult protein. Redox Biology Journal Vol. 12: 114-120.
Doshi,
Rajashree dan Anagha Panditrao, 2013. Optical Sensor System for Hemoglobin
Measurement. International Journal of
Computational Engineering Research Vol. 3 (7): 41-45.
Ganong,
W. F. 2008. Fisiologi kedokteran. Jakarta:
EGC.
Kalasker,
Vishal, et al. 2014. Effect of Iron Deficiency Anemia on Glycosylated
Hemoglobin Levels in Non Diabetic Indian Adults. International Journal of Medical and Health Sciences Vol. 3 (1):
40-43.
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira.
Jakarta: EGC.
Norsiah, Wardah.
2015. PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN METODE SIANMETHEMOGLOBIN DENGAN DAN TANPA
SENTRIFUGASI PADA SAMPEL LEUKOSITOSIS. Medical
Laboratory Technology Journal Vol.1 (2): 72-83.
Patil,
Prashant Jijabrao, Girish Vithal Thakare, Sarika Prashant Patil. 2014.
Variability And Accuracy Of Sahli’s Method In Estimation Of Haemoglobin
Concentration. Variability And Accuracy
Of Sahli’s Method In Estimation Journal Vol.4 (1): 38-44.
Pearce,
C.E. 1991 . Anatomi dan Fisiologi untuk
Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Srivastava,
Tanushree, et al. 2014. Methods for Hemoglobin Estimation: A Review of “What
Works”. Journal of Hematology and
Transfusion Vol. 2 (3): 1-7.