REFLEKS SPINAL
AKIBAT PERUSAKAN SUMSUM TULANG BELAKANG
PADA TUNGKAI KATAK (Rana sp.)
TERHADAP PEMBERIAN RESPON KIMIA DAN VOLTASE LISTRIK
Arina
Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln
Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121
ABSTRAK
Pengamatan ini bertujuan
untuk mengetahui aktivitas refleks yang ada pada tubuh hewan khususnya katak. Gerak
refleks merupakan gerak yang ditimbulkan oleh bagian tubuh yaitu pada
pengamatan ini berupa tungkai katak (Rana
sp.) akibat adanya stimulus berupa respon kimia dan variasi berbagai
voltase listrik. Aktivitas refleks tubuh pada tungkai katak ini juga disertai
dengan perusakan sumsum tulang belakang (spinal cord) sebanyak 1 hingga 2 ruas
tulang. Pengamatan ini dilakukan dengan dua perlakuan yang berbeda yakni respon
kimia berupa pemberian asam cuka terhadap tungkai katak dan pemberian berbagai
voltese listrik yaitu 3V, 6V dan 9V.
Kata
kunci : saraf, gerak refleks, katak, rangsangan
PENDAHULUAN
Gerak refleks
merupakan bagian dari mekanisme pertahanan pada tubuh dan terjadi jauh lebih
cepat dari gerak sadar, misalnya saat menutup mata dan saat terkena
debu,menarik kembali tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa
sengaja. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar; misalnya, bukan saja
tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan
benda panas itu (Pearce, 2000:292).
Medula
spinalis atau sumsum tulang belakang bermula pada medula oblongata, menjulur ke
arah kaudal melalui foramen megnum dan berakhir di antara vertebra lumbalis
pertama dan kedua. Disini medula spinalis meruncing sebagai konus medularis, dan kemudian sebuah
sambungan tipis dari pia mater yang disebut filum
terminale, yang menembus kantong dura mater, bergerak menuju koksigis. Pada
sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, yaitu penebalan servikal an
penebalan lumbial (Pearce, 2000: 290-291).
Secara
deskriptif sistem saraf dibagi menjadi dua bagian utama: susunan saraf pusat yang terdiri dari otak dan medulla spinalis,
serta susunan saraf tepi yang
terdiri dari saraf-saraf otak dan saraf-saraf spinal serta ganglia yang
terkait. Pada susunan saraf pusat, otak dan medulla spinalis merupakan pusat
utama terjadinya korelasi dan integrasi informasi saraf. Otak dan medulla
spinalis dibungkus oleh sistem membran yang disebut meningen dan dikelilingi oleh liquor
cerebrospinalis, kemudian dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak dan
columna vertebralis. Susunan saraf pusat terdiri dari sejumlah besar sel-sel
sraf dengan prosesus-prosesusnyayang disebut neuron dan disokong oleh jaringan khusus disebut neuroglia (Snell, 2009)
Umumnya
medula spinalis berbentuk silindris. Di sepanjang medulla spinalis , melekat 31
pasang saraf spinal melalui radix anterior atau motorik dan radix posterior
atau sensorik (Snell, 2009).
Impuls
dapat menjalar/ menyebar dari tempat awal pembentuknya hingga ke ujung akson,
bahkan mungkin ke sel lainnya. Impuls yang menjalar dari suatu sel saraf ke sel
yang lain pasti akan melintasi sinaps. Sinaps merupakan tempat pertemuan antara
akson dari suatu sel saraf dengan sel saraf lainnya. Sinaps juga dapat
terbentuk antara sel saraf dengan sel otot atau kelenjar (Isnaeni, 2006: 71).
Lesi
otak atau gangguan sumsum tulang belakang menyebabkan gangguan pada jalur
kortikospinal dan jalur lainnya. Dan juga akan menghambat gerak terutama gerak
refleks. Hipertensi spastik merupakan istilah bagi tidak terkendalinya
hipereksitabilitas sensorik dari bagian anggota yang mengalami gangguan,
kemungkinan disertai denga perubahan strukturalotot dan jaringanikat. Hal ini
juga dapat menyebabkan pengurangan sendi rentang gerak dan menyebabkan
kontraktur klinis (Xu, 2015).
Reseptor
yang dikelompokkan dengan berbagai cara, yaitu berdasarkan struktur, lokasi
sumber rangsang dan jenis atau sifat rangsang yang apat diterima oleh rangsang
tersebut. Berdasarkan strukturya, reseptor dapat dibedakan menjadi dua yaitu
resptor saraf dab reseptor bukan saraf. Berdasarkan jenis ragsang yang
diterimanya, reseptor dapat dibedakan menjadi enam yaitu kemoreseptor,
termoreseptor, mekanoreseptor, fotoreseptor, magnetoreseptor dan
elektroreseptor.
Susunan saraf merupakan jaringan sistem manunggal dan terpadu. Berdasarkan basis anatomi secara global, susunan saraf dikelompokkan menjadi dua yaitu susunan saraf pusat dan susunan saraf perifer. Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Masing-masing dilindungi oleh tulang tengkorak dan kolumna vertebralis. Susunan saraf pusat merupakan sistem sentral pengontrol tubuh yang menerima, meninterpretasi dan mengintegrasi semua stimulus, menyampaikan impuls saraf ke otot dan kelenjar serta menciptakan aksi selanjutnya. Sistem saraf perifer terdiri dari saraf kranial, saraf spinal, dan ganglia (kumpulan sel saraf). Saraf kranial akan berhubungan dengan otak, sementara saraf spinal berkaitan dengan medula spinalis. Susunan saraf jenis ini terdiri dari sel-sel saraf dan serabutnya terletak di luar otak dan medula spinalis, yang merupakan penghubung ke bagian tubuh lainnya.
Bagian tengah umumnya berisi sejumlah interneuron, karena latensi yang relatif panjang. Rute jalur yang berbeda bisa bermacam-macam, dapat dari jalur respons yang berbeda tampaknya berasal dari vestibulo spinal dan atau orretikulo spinal neurons, karena keduanya mendapat respons bahkan dapat diperoleh pada bayi baru lahir anencephaly tanpa neuron kortiko spinal dan rubrospinal (Futagi.2012).
Stress refleks atau disebut reflek peregangan merupakan sistem saraf terhadap bagaimana mengatur nada otot, mengubah sistem muskulo skeletal menjadi kerangka tubuh yang seirama untuk pergerakan. Contoh dari refleks peregangan yaitu, suatu rangsangan dari lingkungan luar , misalnya suatu hewan diburu oleh mangsanya itu tidak memicu gerakan dalam segmen tunggal atau beberapa bagian tubuh saja, melainkan melibatkan tubuh secara keseluruhan. Singkatnya, otot seluruh tubuh terpanggil bergerak untuk mempertahankan postur tubuh terhadap lingkungan luar yang mengancamnya (Dimon.2014).
METODE
PENELITIAN
Pengamatan
ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas refleks yang
ditimbulkan oleh bagian tubuh hewan yaitu tungkai katak (Rana sp.) akibat adanya pengaruh kimia dan voltase listrik. Alat
yang digunakan dalam pengamatan ini adalah alat bedah secukupnya, kaca
pengaduk, statip, benang dan adaptor dengan variabel voltase, beaker glass dan
pipet tetes. Alat bedah berfungsi dalam banyak hal seperti menusuk bagian
kepala katak, memotong rahang dan menguliti bagian bawah tungkai katak. Kaca
pengaduk berfungsi untuk mengoleskan asam cuka pada tungkai katak. Statip dan
benang berfungsi sebagai media untuk menggantung katak selama proses pengamatan
gerak refleks. Adaptor voltase sebagai sumber arus listrik dan beaker glass
serta pipet tetes sebagai wadah garam fisiologis. Kemudian beberapa bahan yang
berperan dalam pengamatan ini adalah katak (Rana
sp.), asam cuka pekat, garam fisiologis. Asam cuka berfungsi utama sebagai
larutan untuk melihat dan mengamati bagaimana kecepatan gerak refleks yang
terjadi. Sedangkan garam fisiologis berfungsi untuk membersihkan tubuh katak
dari lendir dan menjaga otot di bagian tungkai katak agar tidak kering.
Berikut
prosedur kerja yang dilakukan dalam pengamatan pengaruh asam cuka terhadap
gerak refleks katak diawali dari membunuh katak dengan cara menusuk bagian
kepala, hal ini bertujuan untuk merusak otak yang berfungsi sebagai saraf
pusat. Kemudian memotong rahang katak dan menyisakan bagian rahang bawah saja,
setelah itu bagian rahang bawah ditusuk
menggunakan jarum hingga
terbentuk lubang yang digunakan untuk memasukkan benang lalu katak tersebut
digantung pada statip. Membersihkan tubuh katak dari lendir yang menempel dan
menguliti atau menyayat kulit di bagian tungkai katak. Usahakan agar bagian
tubuh yang sudah disayat kulitnya tetap dalam keadaan basah menggunakan garam
fisiologis guna menjaga otot agar tidak kering. Kemudian mengolesi bagian
tungkai katak dengan menggunakan asam cuka (bergantian antara tungkai kanan dan
kiri). Perlakuan pemberian asam cuka ini dilakukan sebanyak tiga kali
pengulangan yaitu tanpa perusakan tulang belakang, perusakan satu ruas tulang
belakang dan perusakan dua ruas tulang belakang.
Begitupun
dengan prosedur kerja pada pengaruh arus listrik, dimulai dari menyiapkan katak
seperti proses sebelumnya hingga katak sudah disayat kulitnya/dikuliti di
bagian tungkai katak. Kemudian menyiapkan adaptor yang telah dialiri listrik
dengan voltase 3V, 6V dan 9V. Menciptakan ujung kabel positif pada masing-masing
tungkai katak untuk masing-masing voltase diatas. Lalu mengamati gejala yang
terjadi dan mencatat ditabel hasil pengamatan. Dan dilakukan pengulangan
perlakuan untuk katak yang telah dirusk satu ruas dan dua ruas tulang belakang.
Indikator
cepat lambatnya suatu gerak refleks pada percobaan ini yaitu cepat (++), lambat
(+) dan tidak bergerak sama sekali (-)
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tabel uji pengaruh asam cuka pekat dan pengaruh tegangan listrik
Klp
|
Perlakuan
|
Tungkai
|
Tanpa perusakan
|
Perusakan 1
|
Perusakan 2
|
||||||
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
|||
1
|
Asam cuka
|
Kanan
|
++
|
-
|
+
|
++
|
+
|
-
|
+
|
+
|
-
|
Kiri
|
-
|
+
|
+
|
+
|
-
|
++
|
+
|
-
|
-
|
||
2
|
Arus listrik
|
Kanan 3v
6v
9v
|
++
++
++
|
++
++
++
|
+
++
+
|
+
++
+
|
+
++
+
|
+
++
+
|
++
+
+
|
+
+
+
|
+
+
+
|
Kiri 3v
6v
9v
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
||
3
|
Asam cuka
|
Kanan
|
++
|
-
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Kiri
|
++
|
+
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
||
4
|
Arus listrik
|
Kanan 3v
6v
9v
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
+
++
++
|
+
++
++
|
+
++
++
|
+
++
++
|
+
++
++
|
+
++
++
|
Kiri 3v
6v
9V
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
++
++
++
|
||
5
|
Asam cuka
|
Kanan
|
++
|
-
|
+
|
++
|
+
|
-
|
+
|
+
|
-
|
Kiri
|
-
|
+
|
+
|
+
|
-
|
++
|
+
|
-
|
-
|
||
Gerak
refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan pada tubuh dan terjadi jauh
lebih cepat dari gerak sadar, misalnya saat menutup mata dan saat terkena
debu,menarik kembali tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa
sengaja. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar. Untuk terjadinya
gerak refleks, maka dibutuhkan sebagai berikut : Organ sensorik yang menerima
impuls, misalnya kulit, serabut saraf sensorik yang mengantarkan impuls-impuls
tersebut menuju sel-sel dalam gangliom radix posterior, dan selanjutnya serabut
sel-sel itu akan meneruskan impuls-impuls itu menuju substansi kelabu pada
kornu posterior medula spinalis.
Pada
tubuh hewan dan manusia gerak refleks disebut dengan pivoting dan righting
untuk mempertahankan orientasi tubuh. Orientasi tubuh itu diatur oleh sistem
vestibula (keseimbangan) yang terdapat di dalam telinga. Di dalam sistem
vestibula terdapat sel-sel rambut yang bertindak sebagai reseptor (penerima)
stimulus
Sistem syaraf merupakan sistem koordinasi yang
berfungsi sebagai penerima dan penghantar rangsangan ke semua bagian tubuh.
Sistem syaraf pada vertebrata terbagi atas 2 bagian, yaitu syaraf pusat
(Systema Nemosum Centrale) dan syaraf tepi (Systema Nervosum Periphericum).
Sistem syaraf pusat yang terdiri atas otak (enchepalon)
dan sumsum tulang belakang (medula
spinalis). Sistem syaraf pusat inilah yang memiliki kaitan dengan gerak
refleks karena berhubungan dengan kontraksi otot. Gerak refleks yang diamati
adalah gerak refleks pada tungkai katak (Rana
sp.).
Gerak refleks merupakan gerakan yang tanpa disadari karena
menanggapi implus secara langsung sedangkan refleks adalah suatu respon
organ efektor (otot ataupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar
terhadap suatu stimulus tertentu. Suatu refleks juga dapat diartikan respon
otomatis dari sebagian tubuh terhadap stimulus. Gerak refleks yang terjadi pada
tungkai katak ini erat kaitannya dengan sumsum tulang belakang, sehingga ketika
terjadi perusakan sumsum tulang
belakang, terjadi penurunan kecepatan gerak refleks.
Gerak spontan yang tidak melibatkan kerja otak
melainkan sumsum tulang belakang. Gerak ini dilakukan tanpa kesadaran. Gerak ini berfungsi untuk mengatasi kejadian yang tiba-tiba. Mekanisme
kerjanya yaitu rangsang diterima reseptor lalu diteruskan ke sumsum
tulang belakang melalui saraf sensorik. Dari sumsum tulang belakang, rangsang
diteruskan ke efektor tanpa melalui saraf motorik ke otak, tetapi langsung ke
otot melalui jalan terpendek yang disebut lengkung refleks.
Jalannya
impuls saraf pada hewan vertebrata,
rangsang dari reseptor menimbulkan impuls aferen yang menimbulkan impuls aferen
yang menjulur menuju kedalam sumsum tulang belakang (tempat neuron bersinapsis
dengan interneuron). Interneuron meneruskan ke sumsum tulang belakang dan
membawa impuls itu kembali melalui syaraf spinal ke sekelompok otot untuk
kontraksi.
Terjadinya gerak refleks pada
tubuh katak dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor yang mendukung hal
tersebut. Dalam pengamatan ini dapat dijelaskan terdapat dua faktor yang
menyebabkan terjadinya gerakan refleks yaitu adanya rangsang dan berfungsi atau
tidaknya sumsum tulang belakang. Adanya rangsangan berupa larutan kimia yaitu
asam cuka dan arus listrik sebesar 3V, 6V dan 9V. Kemudian faktor lain yang
turut mendukung yaitu berfungsinya sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang mempunyai dua fungsi penting yaitu untuk mengatur
impuls dari dan ke otak dan sebagai pusat refleks, dengan adanya sumsum tulang belakang pasangan syaraf spinal dan
kranial menghubungkan tiap reseptor dan efektor dalam tubuh sampai terjadi
respon. Apabila sumsum tulang belakang telah rusak total maka tidak ada lagi
efektor yang menunjukkan respon terhadap stimulus atau rangsang.
Dalam memberikan gerakan refleks
pada tubuh katak, maka perlu suatu rangsangan/ stimulus. Pada pengamatan kali
ini rangsangan diperoleh dari dua sumber yakni secara kimiawi (asam cuka) dan
arus listrik. Asam cuka berfungsi sebagai stimulus/ rangsangan kimiawi yang
berasal dari tubuh katak. Begitupun arus listrik dengan besar yang berbeda-beda
berfungsi sebagai rangsangan dari luar tubuh katak. Selain kedua jenis
rangsangan tersebut, terdapat larutan garam fisiologis dalam praktikum ini.
Garam fisiologis memiliki kegunaan untuk menjaga tubuh katak tetap lembab dan
menjaga otot agar tidak kering sehingga gerak refleks dari katak masih dapat
diamati kecepatannya.
Kelompok 1, 3 dan 5 melakukan
pengamatan dengan perlakuan kimia yaitu pemberian asam cuka. Dalam hal ini,
rata-rata hasil dari ketiganya hampir mempunyai data yang sama. Dapat dilihat
saat perusakan tulang belakang baik sebanyak 1 ruas ataupun 2 ruas. Kebanyakan
hasil pengamatan yang diperoleh memberikan respon negatif (tidak ada
pergerakan) saat telah dilakukan perusakan tulang belakang. Hal ini sesuai
dengan teori yang ada bahwasanya sumsum tulang belakang sangat berpengaruh
terhadap penghantaran gerak refleks. Berfungsi atau tidaknya sumsum tulang
belakang menjadi parameter kecepatan dalam gerakan refleks. Salah satu faktor
yang turut mendukung terjadinya gerak refleks adalah berfungsinya sumsum tulang
belakang.
Pada
kelompok 1 yang diberikan perlakuan asam cuka, sebelum dilakukan perusakan
tulanng belakang, pada pengulangan pertama kecepatan respons sangat cepat,
pengulangan kedua tidak terjadi pergerakan dan pengulangan ketiga terjadi
pergerakan yang lambat (tungkai kanan) sedangkan tungkai kiri pada pengulangan
pertama tidak terjadi pergerakan, untuk pengulangan kedua dan ketiga terjadi
pergerakan namun sangat lambat.
Kelompok
2 menggunakan rangsangan berupa arus listrik berbagai voltase yakni 3V, 6V dan
9V. Dari semua data menunjukkan adanya gerakan refleks baik kecepatan yang
lambat maupun cepat.
Kelompok
3 menggunakan asam cuka, pada perlakuan tanpa perusakan tulang belakang,
pengulangan pertama terjadi pergerakan yang cepat. Tungkai kiri yang seelalu
memberikan respon meskipun hanya pergerakan lambat pada pengulangan kedua dan
ketiga. Sedngkan setelah perusakan tulang belakang hampir semua data
menunjukkan respons negatif.
Kelompok
4 menggunakan arus listrik sebagai rangsangan/stimulus gerak refleks. Data
hasil kelompok 4 ini sama seperti kelompok 2 yaitu menujukkan respon postif
baik yang pergerakan refleks lambat maupun gerak refleks yang cepat.
Kelompok
5 menggunakan asam cuka. Pada saat perlakuan tanpa perusakan tulang belakang,
bagian tungkai kanan pada pengulangan satu dan dua menunjukkan respon gerak
refleks yang cepat sedangkan pengulangan ketiga tidak terjadi pergerakan. Pada
tungkai kiri hampir semuanya terjadi pergerakan.
Sedangkan pada kelompok 2 dan 4
menggunakan rangsangan berupa arus listrik sebesar 3V, 6V dan 9V. Rata-rata
data yang telah diperoleh antara kedua kelompok tersebut selalu menunjukkan
respon positif (terdapat gerakan) baik saat tanpa perusakan tulang belakang
maupun setelah perusakan tulang belakang. Fenomena ini berkebalikan atau tidak
sesuai dengan literatur. Seharusnya apabila telah dilakukan perusakan pada
tulang belakang, respon yang diberikan negatif atau kecepatan gerak refleks
berkurang.
Kedua jenis rangsangan atau
stimulus yang berasal dari luar tubuh katak ini sangat berpengaruh terhadap
gerak refleks yang ditimbulkan. Akan tetapi, dari keduanya ini gerakan refleks
yang paling besar ditimbulkan adalah yang berasal dari voltase atau arus
listrik. Hal ini didasarkan pada hasil pengamatan yang diperoleh. Kedua
kelompok yang telah melakukan pengamatan
ini menunjukkan hasil yang sama, baik dari perlakuan tanpa perusakan tulang
belakang maupun dengan perusakan tulang belakang dan dengan ketiga kali
pengulangan, semuanya menunjukkan terjadi pergerakan refleks (lambat ataupun
cepat). Inilah yang menjadikan indikator bahwa pengaruh rangsangan voltase
sangat besar.
Dapat disimpulkan pengaruh
perusakan tulang belakang (medulla
spinalis) terhadap mekanisme gerakan rangsang adalah apabila terjadi
kerusakan seharusnya gerakan rangsang menjadi lambat atau bahkan tidak terjadi
pergerakan. Dari penjelasan ini, data yang menggunakan asam cuka sesuai dengan
teoi tersebut, namun yang pemberian voltase tidak sesuai dengan teori yang ada.
KESIMPULAN
Gerak refleks merupakan gerak
yang ditimbulkan karena adanya rangsang atau stimulus. Gerak refleks ini
berkaitan dengan sumsum tulang belakang. Jadi, apabila terjadi kerusakan pada
sumsum tulag belakang maka mekanisme perambatan rangsang juga akan terganggu.
Rangsang atau stimulus dapat berasal dari manapun misalnya dari luar tubuh,
seperti larutan kimia (asam cuka) dan arus listrik (voltase).
Perusakan sumsum tulang belakang
akan mnyebabkan melemahnya perambatan rangsang sehingga gerak refleks semakin
lambat. Pemberian asam cuka memiliki kesesuaian data yang dihasilkan dengan
teori, namun perlakuan pemberian arus listrik tidak sesuai dengan terori.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimon, Theodore Jr.
2014 .The Organization of Movement Four Talks on the Primary Control Part 3:
The Organizing Principle of Head and Trunk: How the Relation of the Head to the
Trunk Organizes Movement in Space.
AmSAT
Journal Spring. Issue No. 5
Futagi,Yasuyuki, Yasuhisa Toribe,and Yasuhiro Suzuki.2012.
The Grasp Reflex and Moro Reflex in Infants: Hierarchyof Primitive Reflex Responses. Article
ID 191562, 10
Isnaeni, Wiwi.2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.
Pearce,C. Evelyn. 2000. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Umum.
Spell, Richard, S. 2009. Neuroanatomi Klinik. Jakarta: Buku
Penerbit Jakarta.
Xu,
Dali, et al. 2015. Assessment
of Hyperactive Reflexes in Patients with Spinal Cord Injury. BioMed Research International
Tidak ada komentar:
Posting Komentar