PERBEDAAN
JENIS MAKANAN TERHADAP SISTEM PENCERNAAN DAN LAMA WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK
MENCERNA PADA BURUNG DARA (Columba livia)
Arina
Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln
Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121
ABSTRAK
Proses pencernaan makanan
pada hewan vertebrata dilakukan secara mekanis oleh saluran pencernaan makanan
dan secra kimiawi oleh enzim-enzim yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar
pencernaan makanan. Saluran pencernaan makanan pada burung meliputi rongga
mulut, kerongkongan (esofagus), tembolok, ventrikulus, proventrikulus, usus
halus (intestinum tenue), usus besar (kolon) dan anus. Proses pencernaan merupakan proses
penguraian bahan makanan kedalam zat-zat makanan agar dapat diserap dan
digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Sistem pencernaan makanan terdiri dari
alat-alat pencernaan yang berhubungan langsung membentu saluran pencernaan.
Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi
otot. Saluran pencernaan akan mencerna makanan, memecahnya menjadi bagian yang
lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Tujuan dari
praktikum mengenai proses pencernaan ini adalah untuk mengetahui perubahan
bentuk beberapa jenis makanan dalam proses pencernaan dan untuk mengetahui
waktu yanag diperlukan oleh organ pencernaan dalam mencerna beberapa jenis
makanan. Sedangkan tujuan dari adanya proses pencernaan dari suatu organisme
adalah untuk mengubah substansi makanan menjadi bentuk yang ukurannya kecil dan
larut dalam air sehingga dengan mudah menembus dinding usus dan dapat segera
digunakan oleh sel-sel untuk sintesa sel-sel baru serta untuk menghilangkan
kemungkinan adanya sifat antigenetik dari substansi makanan terutama protein.
Alat yang digunakan dalam praktiku proses pencernaan makanan meliputi
timbangan, sangkar (terbuat dari kardus dan kawat), seperangkat alat seksio,
papan seksio, cutter ukuran besar, gunting, penggaris dan kertas HVS. Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan yaitu 24 ekor burung dara yang relatif sama, makanan
berupa jagung dan gabah, lateks dan masker. Metode praktikum proses pencernaan
pada hewan (burung dara) dengan cara hewan dibuat dalam kondisi lapar pada saat
hari pembedahan, yaitu tidak diberikan makanan selama 1 jam sebelum pembedahan
dimulai. Proses pembedahan dimulai pada pukul 06.00 WIB, dan sebelum itu burung
dara diberi makanan mulai pukul 04.00-05.00 WIB. Tetapi 1 hari sebelum hari
pembedahan, burung dara tersebut juga diberikan makanan kurang lebih 12 jam
(hingga pukul 16.00 WIB), hal ini bertujuan untuk mengetahui tektstur feses
dari burung dara tersebut.
Kata
kunci : pencernaan, ventrikulus, proventrikulus, saluran, organ
PENDAHULUAN
Sistem
pencernaan pada unggas sangat sederhana dan merupakan hewan monogastrik
(berlambung tunggal). Sistem pencernan unggas terbagi
menjadi dua bagian, yaitu saluran cerna utama yang terdiri atas mulut (paruh),
esofagus, tembolok (ingluvies), proventrikulus, ventrikulus, usus halus, sekum,
usus besar, dan kloaka serta kelenjar pelengkap (asesoris) yaitu hati dan
pankreas. Tembolok merupakan pelebaran esofagus yang dilapisi oleh epithelium
squamosa berlapis. Kelenjar tembolok ditemukan di bagian yang berdekatan dengan
esofagus. Tembolok hanya terdapat pada bangsa burung yang makan biji-bijian,
tidak terdapat pada bangsa burung pemakan serangga. Fungsi utama tembolok
adalah untuk menerima dan menyimpan makanan sementara sebelum masuk ke
proventrikulus, terutama pada saat memakan makanan dalam jumlah yang banyak. Pada
bagian dinding tembolok terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan mukus,
berfungsi sebagai cairan lubrikasi yang bersifat melunakkan makanan (Zainuddin,
2015).
Grit adalah
batu-batuan kecil seperti batu kerikil, batu kapur termasuk kulit kerang, yang
dikonsumsi oleh ternak ayam yang dapat ditemukan dalam ampela. Grit sebagai
pengganti gigi digunakan oleh ternak ayam untuk membantu ampela dalam
memecahkan partikel yang besar dari ransum menjadi partikel yang lebih kecil.
Selain membantu dalam proses pencernaan grit juga berperan dalam
perkembangan saluran pencernaan yakni membuat saluran pencernaan bertambah
panjang dan membuat bobot ampela bertambah berat (Sabuna, 2015).
Proses
pencernaan makanan pada merpati
berlangsung di dalam usus halus meliputi pencernaan pati, glukosa, sakarida,
maltosa dan sukrosa yang dicernakan menjadi gula-gula sederhana. Usus halus
terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Duodenum
memiliki lipatan mukosa yang melingkar dan memiliki banyak vili, jejenum mirip
dengan daerah duodenum. Ukuran vili jejenum lebih langsing dan jumlahnya lebih
sedikit daripada duodenum. Ileum mirip dengan jejenum, vili pada ileum
membentuk kelompok. Ileum tidak memiliki lipatan-lipatan mukosa. Usus halus
relatif panjang, ini memungkinkan kontak
yang lama antara makanan dan enzim-enzim
pencernaan serta hasil-hasil pencernaan dan sel-sel absorptif epitel. Usus
halus merupakan saluran pencernaan yang di mulai dari duodenum dan berakhir di
permulaan usus besar di bagian paling belakang. Penyerapan makanan terjadi di
usus halus, selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol
seperti jari, fungsinya sebagai penggerak aliran pakan dan juga untuk menaikkan
permukaan penyerapan sari makanan (Zainuddin, 2015).
Saluran
pencernaan memiliki peranan yangbpenting dalam aktivitas masuk dann keluarnya
makanan dalam studi ontogenies burung karena berkaitan dengan fungsi mencerna
yaitu sebagai asupan gisi. Dalam studi ontogenies, morfologi usus, kegiatan
enzim mukosa dan aktivitas enzim pankreas ditentukan mulai dari burung menetas
hingga berumur 14 hari. Perkembangan yang cepat dapat diamati segera setelah
menetas. Aktivitas enzim mukosa di dalam duodenum, jejunum dan ileum bervariasi
secara signifikan berdasarkan segmen usia, dimana aktivitas enzim meningkat
secara cepat dalam jejunum dibandingkan dengan duodenum dan ileum untuk sukrose
dan aktivitas maltase dari hari menetas sampai hari kedelapan dan untuk
aktivitas alkali fosfotase hingga hari ke-empat belas (Dong, 2017).
Kelenjar
glandular atau pada proventriculus relatif kecil dan tubular. Itu terletak
ekornya pada lambung. Berhubungan dengan punggung ke paru kiri, testis atau
ovarium dan ginjal bagian kranial; ventrally, medial dan lateral ke lobus kiri
hati. Juga limpa itu terletak di dinding medialnya. Itu tingkat kaudal
proventriculus ditandai oleh penyempitan yaitu gastritis. Perut otot atau
ventrikulus terletak di dekat setelah
proventrikulus. Bagian ini di antara lobus dan sebagian di belakang cuping
jantung kiri. Berbentuk oval dalam semua kelompok aves. Terdiri dari tubuh dengan
2 ujung runcing, saccus cranialis dan saccus caudalis yang berwarna merah muda.
Dinding berotot lebih tebal terdiri dari otot crassus caudodorsalis dan crassus
cranioventralis yang berwarna coklat kemerahan gelap. Lapisan otot yang jauh
lebih tipis, yang terdiri dari otot tenuis craniodorsalis dan caudoventralis
yang terdapat pada saccus cranialis da saccus caudalis (Mahmud, 2015).
Dinding ileum distal
terdiri dari tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika
serosa. Mukosa Tunika dilemparkan ke lipatan vili yang dilapisi oleh epitel
kolumnar sederhana. epitel berisi beberapa sel goblet, submukosa dari ileum
distal terdapat banyak kelenjar sedangkan tunika muskularis ditunjukkan dengan lapisan
membujur bagian dalam memanjang, tengah melingkar, dan luar sel otot polos. Di persimpangan
ileo-CECO-rektum, tunika muskularis menunjukkan lapisan menebal dari serat otot
polos miring diposisikan antara lapisan otot tengah lingkaran dan luar
memanjang halus (Udoumoh, 2017).
Pengolahan
makanan dapat dibagi menjadi empat tahap yang berbeda: ingesti, digesti,
absorpsi dan eliminasi. Ingesti (ingestion) merupakan tidakan makan.
Makanan dapat ditelan dalam banyak bentuk cair dan padat. Mengingat
bervariasanya smber-sumber makanan, tidaklah mengejutkan bahwa strategi untuk
mengekstrak sumber daya dari makanan juga sangat berbeda di antara
spesies-spesies hewan. Dalam digesti (digestion) atau pencernaan, tahap kedua dari pengolahan makanan, makanan
dipecah menjadi molekul-molekul yang cukup kecil untuk diabrorpsi oleh tubuh.
Tahap ini penting karena hewan tidak dapat langsung menggunakan protein,
karbohidrat, asam nukleat, lemak dan fosfolipid dalam makanan. Dua tahap
terakhir pengolahan makanan terjadi setelah makanan dicerna. Pada tahap ketiga,
absorpsi (absorption), sel-sel hewan mengambil (menyerap) molekul-molekul
kecil seperti asam amino dan gula sederhana. Eliminasi menyelesaikan
proses tersebut saat material yang tak tercerna dikeluarkan dari sistem
pencernaan. Kebanyakan burung memiliki tiga ruang yang terpisah, yaknik
tembolok, lambung dan empedal (tempat makanan digiling dan diaduk-aduk sebelum
diteruskan ke dalam usus. Fungsi tembolok dan empedal burung lebih mirip dengan
yang ada pada cacing tanah. Pada sebagian besar burung, digesti kimiawi dan
absorpsi nutrien terjadi di dalam usus (Campbell, 2008).
Fiturkimia dari jenis makanan akan mendorong diversifikasi morfologi pencernaan
sistem, fisiologi, dan biokimia. Misalnya, jenis makanan dapat meningkatan
jumlah material untuk pencernaan yang cepat dengan
enzim endogen (yaitu, lokal pada saluran pencernaan), seperti sumber sel-dinding atau arthropoda kutikula / kitin. Sebagai
salah satu terlihat di taksa hewan kita
melihat bahwa meskipun tidak ada data untuk setiap jenis makanan di setiap
takson, berarti efisiensi pencernaan untuk jenis makanan berbanding terbalik
dengan jumlah relatif bahan refraktori dalam makanan (Karasov, 2013).
Pada vertebrata dan invertebrata, fitur morfologis dan fungsional dari
gastrointestinal (GI) saluran umumnya mencerminkan jenis kimia makanan, seperti
konten dari karbohidrat, protein dan lemak.
Refrakter terhadap pencernaan yang cepat (misalnya, selulosa). Ekspresi
enzim pencernaan dan pengangkut nutrisi kurang sesuai dengan beban substrat
masing-masing, dengan kelebihan kapasitas yang relatif sederhana. Mekanisme
menjelaskan perbedaan aktivitas hidrolase antara populasi dan spesies termasuk
gen polimorfisme nukleotida tunggal (Karasov, 2013).
Di dalam usus
halus pada burung biasanya ditemukan banyak parasit, seperti cacing. Gangguan
parasit pada burung perlu diperhatikan karena parasit mengakibatkan munculnya
gejala penyakit atau perlukaan bahkan dapat membahayakan kesehatan
manusia. Infestasi ektoparasit sangat
mempengaruhi kinerja reproduksi karena dapat menyebabkan kematian burung.
Ektoparasit lebih sering menyerang burung yang tinggal di sarang dan
mengakibatkan burung lebih memilih meninggalkan sarang. Ektoparasit merupakan
permasalahan klasik yang merugikan, namun kurang mendapat perhatian. Kerugian
yang ditimbulkan sangat besar, mulai dari penurunan berat badan burung,
penurunan produksi, kerontokan bulu, trauma, iritasi, anemia, bahkan kematian
(Bahtiar, 2014).
METODE PENELITIAN
Praktikum
mengenai proses pencernaan makanan hewan yakni burung dara (Columba livia) bertujuan untuk
mengetahui perubahan bentuk beberapa jenis makanan dalam proses pencernaan dan
untuk mengetahui waktu yang diperlukan oleh organ pencernaan dalam mencerna beberapa
jenis makanan. Beberapa alat yang digunakan dalam praktikum adalah timbangan,
sangkar burung yang terbuat dari kardus dan kawat, seperangkat alat seksio,
papan seksio, cutter, penggaris dan HVS. Masing-masing alat yang digunakan saat
praktikum memiliki fungsi dan kegunaan. Timbangan berfungsi untuk menimbang
makanan dari burung yakni jagung dan gabah, sangkar burung sebagai tempat dari
burung dara sebelum dilakukan pembedahan, sangkar burung ini terbuat dari
kardus dan kawat. Seperangkat alat seksio yang digunakan ketika pembedahan
burung dara, papan seksio sebagai tempat ketika dilakukan pembedahan pada
burung. Cutter ukuran besar untuk membunuh dan membedah burung dara yang
digunakan saat praktikum. HVS yang digunakan untuk melapisi papan seksio ketika
dilakukan pembedahan serta penggaris untuk mengukur panjang dari usus burung
dara.
Prosedur
kerja yang dilakukan dimulai dari 1 hari sebelum dilakukan pembedahan dari
burung dara. Pembedahan burung dara dilakukan pada hari sabtu (tanggal 25
November) pagi, dimana 1 hari sebelumnya yakni hari jumat (tanggal 24 November)
burung dara diberi makan
hingga pukul 16.00 WIB, hal ini bertujuan untuk
mengetahui tekstur dari feses yang dihasilkan oleh burung dara tersebut.
Setelah pukul 16.00 WIB burung dara tersebut dipuasakan hingga hari sabtu pagi
yakni pukul 04.00 WIB. Kemudian selama 1 jam burung dara diberi makan lagi.
Jenis makanan yang diberikan yakni jagung dan gabah yang pembagian jenis
makanannya telah diatur dan disesuaikan dengan banyaknya kelompok. Burung dara
tersebut diberi makan hingga pukul 05.00 WIB. Setelah itu, burung dara tersebut
dipuasakan lagi hingga dibedah. Pembedahan yang dilakukan dimulai dari pukul
06.00 WIB, pembedahan ini dilakukan dengan selisih 1 jam hingga pukul 17.00
WIB. Setiap satu jam pembedahan terdapat 2 kelompok yang melakukan hal
tersebut.
Sebelum
proses pembedahan, menimbang sisa makanan (100 gr) dan minuman burung dara kemudian
dicatat di tabel hasil pengamatan. Kemudian burung dara yang akan diamati
dibunuh terlebih dahulu. Letakkan diatas papan seksio, kemudian dibedah dengan
menggunakan cutter yang berukuran besar dan dengan menggunakan alat seksio
ketika membedah bagian dalam/ organ saluran pencernaan dari burung dara.
Mengamati bagian-bagian dari saluran pencernaan, yakni tembolok,
proventrikulus, ventrikulus, usus halus dan usus besar. Hal-hal yang menjadi
objek pengamatan adalah kondisi makanan yaitu tekstur dan warnanya dan juga
parasit yang terdapat di dalam organ saluran pencernaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses pencernaan pada burung dara dapat di amati di tabel
berikut ini
Kelas/Kel
|
Jenis makanan
|
Jam Bedah
|
Makanan
|
Minuman
|
Panjang Usus
|
Organ
|
Kondisi Makanan
|
||||
Awal
|
Akhir
|
Awal
|
Akhir
|
Warna
|
Tekstur
|
Parasit
|
|||||
12
|
gabah
|
11.00
|
50 gr
|
48 gr
|
50 ml
|
12 ml
|
Usus Halus
|
Tembolok
|
Kuning
|
Kasar
|
-
|
35,5 cm
|
Proventrikulus
|
Hijau Kuning
|
Padat
|
-
|
|||||||
Ventrikulus
|
Hijau
|
Padat
|
-
|
||||||||
Usus Besar
|
Usus Halus
|
Kuning
|
Lembek
|
Cacing (3)
|
|||||||
40,4 cm
|
Usus Besar
|
Kuning kunyit
|
Padat
|
-
|
|||||||
Feses Sebelum
|
Hijau muda
|
Agak cair, lembek dan kasar
|
-
|
||||||||
Feses Sesudah
|
Hijau tua
|
Padat
|
-
|
||||||||
Praktikum proses
pencernaan makanan bertujuan untuk mengetahui perubahan bentuk beberapa jenis
makanan dalam proses pencernaan dan untuk mengethaui waktu yang diperlukan oleh
organ pencernaan dalam mencerna beberapa jenis makanan. Sistem pencernaan makanan
terdiri dari alat-alat pencernaan yang berhubungan langsung membentu saluran
pencernaan. Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang
dikelilingi otot. Saluran pencernaan akan mencerna makanan, memecahnya menjadi
bagian yang lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Proses
pencernaan makanan pada hewan vertebrata dilakukan secara mekanis oleh saluran
pencernaan makanan dan secra kimiawi oleh enzim-enzim yang disekresikan oleh
kelenjar-kelenjar pencernaan makanan. Saluran pencernaan makanan pada burung
meliputi rongga mulut, kerongkongan (esofagus), tembolok, ventrikulus,
proventrikulus, usus halus (intestinum tenue), usus besar (kolon) dan anus. Proses pencernaan
merupakan proses penguraian bahan makanan kedalam zat-zat makanan agar dapat
diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh.
Percobaan pencernaan makanan
pada hewan ini dilakukan dengan perbedaan perlakuan yaitu pada jenis makanan
yang diberikan terhadap burung dara. Jenis makanan yang diberikan berupa jagung
dan gabah. Perbedaan perlakuan jenis makanan yang diberikan bertujuan untuk
mengetahui bagaimana perubahan bentuk jenis makanan dalam proses pencernaan
burung. Antara kedua jenis makanan yaitu jagung dan gabah memiliki perbedaan
struktur baik bentuk, ukuran dan tekstur. Jagung memiliki ukuran yang lebih
besar, begitupun dengan bentuknya juga lebih padat dan berisi serta tekstur
dari jagung yang lebih keras dibandingkan dengan gabah. Tentu saja adanya
perbedaan jenis makanan akan menyebabkan perbedaan pada kecepatan dalam
mencerna makanan tersebut. Jenis makanan gabah akan lebih mudah dicerna menjadi
bentuk yang lebih halus dibandingkan jagung. Jenis makanan jagung masih tampak
kasar di bagian organ-organ pencernaan tertentu ketika dibandingkan dengan
gabah yang telah berubah tekstur menjadi halus. Perubahan jenis makanan ini
juga dapat diamati dari bentuk makanan, jenis-jenis makanan yang diberikan akan
berubah bentuk menjadi lebih kecil dibandingkan saat sebelum dicerna oleh
saluran-saluran pencernaan, proses mencerna makanan menjadi lebih kecil hingga
terbentuk feses ini dibantu dengan enzim dan mikroorganisme.
Berdasarkan data hasil
pengamatan proses pencernaan makanan hewan yang telah diperoleh selama
praktikum 12 jam yaitu dilakukan mulai pukul 06.00-17.00 WIB, dapat dibuktikan
bahwa gabah lebih cepat dicerna oleh organ-organ pencernaan dibandingkan
jagung. Pada jenis makanan jagung, pada organ pencernaan tembolok dapat dilihat mulai awal pembedahan hingga
akhir pembedahan, menunjukkan tekstur dan bentuk yang kasar di organ
temboloknya. Berbeda halnya, dengan jenis makanan gabah yang dikonsumsi oleh
burng dara, jenis makanan ini lebih cepat berubah tekstur menjadi lebih halus.
Perubahan bentuk makanan dari gabah ini berkaitan dengan waktu, semakin lama
waktu yang dibutuhkan ketika mencerna maka tekstur gabah akan menjadi halus.
Dapat diamati pada pembedahan burung yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul
17.00 WIB, tekstur dari jenis makanan gabah telah menjadi halus total, karena
tidak ditemukan lagi biji gabah di organ-oragan pencernaan.
Pada organ proventrikulus,
perubahan bentuk jenis makanan gabah untuk menverna makanan menjadi halus
membutuhkan waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan jagung. Dapat
diamati di pembedahan jam 12.00 WIB, jenis makanan jagung telah berubah berubah
bertekstur halus. Sedangkan pada jenis makanan jagung, keseluruhan bertekstur
kasar di proventrikulusnya, hanya pada pembedahan pukul 16.00 WIB, tektur jenis
makanan jagung berubah menjadi halus.
Pada bagian organ
ventrikulus, perubahan bentuk makanan gabah umumnya hampir semua pembedahan
menunjukkan tekstur yang kasar dan disertai dengan adanya kerikil. Begitupun
dengan jenis makanan jagung, rata-rata menunjukkan tekstur yang kasar dan
terdapat kerikil namun ukurannya lebih besar.
Selanjutnya, pada usus
halus, jenis makanan gabah dan jagung keduanya relatif menunjukkan hasil yang
sama yaitu makanan yang dicerna bertekstur halus, lembek, berair dan encer. Hal
ini dapat diamati hampir di setiap pembedahan.
Kedua jenis makanan ketika
di usus besar sudah terlihat lembek dan berair dari awal pembedahan hingga
akhir, hal ini disebabkan karena kemungkinan organ-organ pencernaan tersebut
mencerna makanan yang hari-hari sebelumnya telah dimakan oleh burung ara tersebut.
Perbedaan bentuk makanan di
masing-masing organ pencernaan berkaitan dengan fisiologis dari organ pecernaan
yang bersangkutan. Misalnya, pada oragan tembolok. Menurut Zainuddin (2015) Fungsi utama tembolok adalah untuk menerima dan
menyimpan makanan sementara sebelum masuk ke proventrikulus, terutama pada saat
memakan makanan dalam jumlah yang banyak. Pada bagian dinding tembolok terdapat
banyak kelenjar yang menghasilkan mukus, berfungsi sebagai cairan lubrikasi
yang bersifat melunakkan makanan. Dikarenakan di organ tembolok hanya befungsi
untuk menerima dan menyimpan sementra, maka makanan yang masuk masih utuh.
Kemudian pada organ
pencernaan proventrikulus, mulai ada perubahan tekstur menjadi lebih halus
apabila dibandingkan keadaannya pada saat di tembolok. Menurt Zainuddin (2015)
yaitu penghalusan makanan pada saat makanan melewati proventrikulus dengan
bantuan enzim-enzim pencernaan. Sedangkan menurut Mahmud (2015) menyatakan
bahwa kelenjar
glandular atau pada proventriculus relatif kecil dan tubular.
Lalu makanan akan lanjut ke
organ pencernaan ventrikulus. Ketika di dalam organ ini, makanan akan menjadi
lebih halus lagi dibandingkan dengan yang ada di proventrikulus, karena pada
organ ini akan terjadi pecernaan secara kimiawi dengan bantuan enzim-enzim dan
dengan adanya bantuan dari grit (kerikil). Seperti halnya menurut Sabuna (2015)
yang menyatakan bahwa Grit merupakan batu-batuan
kecil seperti batu kerikil, batu kapur termasuk kulit kerang, yang dikonsumsi
oleh ternak ayam yang dapat ditemukan dalam ampela. Grit sebagai pengganti gigi
digunakan oleh ternak ayam untuk membantu ampela dalam memecahkan partikel yang
besar dari ransum menjadi partikel yang lebih kecil. Selain membantu dalam
proses pencernaan grit juga berperan dalam perkembangan saluran
pencernaan yakni membuat saluran pencernaan bertambah panjang dan membuat bobot
ampela bertambah berat.
Ketika
makanan telah sampai di usus halus, umunya tektur makanan tersebut akan berubah
dari halus menjadi lembek dan encer. Proses pencernaan makanan pada merpati berlangsung di dalam usus halus
meliputi pencernaan pati, glukosa, sakarida, maltosa dan sukrosa yang
dicernakan menjadi gula-gula sederhana. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian
yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Duodenum memiliki lipatan mukosa yang
melingkar dan memiliki banyak vili, jejenum mirip dengan daerah duodenum.
Ukuran vili jejenum lebih langsing dan jumlahnya lebih sedikit daripada
duodenum. Ileum mirip dengan jejenum, vili pada ileum membentuk kelompok. Ileum
tidak memiliki lipatan-lipatan mukosa. Usus halus relatif panjang, ini
memungkinkan kontak yang lama antara makanan dan enzim-enzim
pencernaan serta hasil-hasil pencernaan dan sel-sel absorptif epitel. Usus
halus merupakan saluran pencernaan yang di mulai dari duodenum dan berakhir di
permulaan usus besar di bagian paling belakang. Penyerapan makanan terjadi di
usus halus, selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol
seperti jari, fungsinya sebagai penggerak aliran pakan dan juga untuk menaikkan
permukaan penyerapan sari makanan (Zainuddin, 2015).
Di dalam organ
usus besar merupakan organ yang mempersiapkan dalam membentuk feses sehingga
tekstur dari makanan yang telah dicerna akan menjadi lembek dan berair, dan
makanan tersebut akan siap untuk diekskresikan.
Saat pembedahan
dilakukan peda pencernaan burung dara, dapat ditemukan adanya parasit dengan
jumlah yang sedikit hingga banyak dalam satu individu burung dara. Umumnya
parasit yang ditemukan, terdapat di usus halus. Ini dapat terjadi karena
parasit yang ada di usus halus akan menyerap sari-sari makanan. Fungsi dari
usus halus sendiri yaitu menyerap sari-sari makanan, sehingga parasit terdapat
di dalam organ tersebut, dikarenakan di bagian-bagian organ lain tidak
melakuakan penyerapan sari makanan seperti yang dilakukan oleh usus halus.
Sebab lain adanya parasit di dalam organ pencernaan adalah karena makanan yang
dikonsumsi oleh burung dara terjadi kontaminasi, sehingga parasit-parasit yang
turut masuk ke dalam organ pencernaan dengan perantara makanan akan hidup dan
bberkembang di dalam tubuh hewan inang.adanya parasit di dalam organ pencernaan
akan mengganggu daam meyerap sari makanan karena tidak terjadi proses
pencernaan secara maksimal. Jenis parasit yang telah ditemukan di dalam organ
pencernaan usus halus berupa cacing Ascaris suum dan Ascaris lumbricoides.
Tujuan dari
kegiatan dipuasakan terlebih dahulu sebelum dibedah adalah agar dapat
mengetahui posisi makanan pada jam-jam tertentu yang telah disesuaikan saat
pembedahan. Alasan lain mengapa burung dipuasakan terlebih dahulu adalah agar
tidak ada jenis makanan lain yang masuk ke dalam tubuh burung dara sehingga
tidak mengganggu hasil pengamatan praktikum.
Adanya perbedaan
tekstur, warna dan bau pada feses yang dihasilkan disebabkan oleh beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut adalah jenis makanan, antara jagung dan gabah
tentu akan menghasilkan jenis feses yang berbeda, umumnya jenis makan jagung
fesesnya kan lebih padat dibandingkan dengan jenis makanan gabah. Keadaan tubuh
dari burung dara, apabila burung dara dalam keadaan stress atau sakit tentu
akan mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga proses pencernaan yang terjadi
tidak maksimal dan akan menghasilkan feses yang berbeda-beda. Ada tidaknya
parasit, berdasarkan hasil pengamatan, dari 24 burung dara hampir keseluruhan
terdapat parasit namun dalam jumlah yang berbeda. Semakin banyak parasit yang
ditemukan di dalam organ pencernaan akan menghasilkan feses yang lebih cair dan
lebih bau dibandingkan dengan burung dara dengan jumlah parasit yang sedikit.
Feses yang terbentuk menjadi lebih cair dikarenakan proses penyerapan di usus
halus tidak maksimal dan akan terganggu.
KESIMPULAN
Jenis makanan
yang berbeda akan mempengaruhi proses pencernaan pada hewan yang bersangkutan.
Pada praktikum ini menggunakan 2 jenis makanan yang berbeda yaitu jagung dan
gabah. Perubahan bentuk dari makanan dari jagung akan lebih padat dibandingkan
dengan gabah dikarenakan perbedaan tekstur dan dari kedua jenis makanan
tersebut.
Pada jenis
makanan jagung, waktu yang dibutuh kan dalam mencerna makanan akan butuh watu
yang lebih lama jika dibandingkan dengan makanan gabah. Hal ini dikarenakan
karena perbedaan struktur dari kedua jenis makanan tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Bahtiar,
Denny Herbianto, R Susanti dan Margareta Rahayuningsih. 2014. KEANEKARAGAMAN
JENIS EKTOPARASIT BURUNG PARUH BENGKOK FAMILI PSITTACIDAE DI TAMAN MARGASATWA
SEMARANG. Unnes Journal of Life Science Vol.
3 (2) : 139-147.
Campbell, Jane B. Reece & Lawrence G. Mitchell. 2008. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Dong, X.Y, Y. M. Wang, L. Dai, M. M. M. Azzam, C. Wang and X.
T. Zou. 2017. Posthatch development of intestinal morphology and digestive enzyme activities
in domestic pigeons (Columba livia). Journal
Poultry Production Department Vol. 3 (1).
Karasov,
William H. And Angela E. Douglas. 2013. Comparative Digestive Physiology. Journal Compr Physiol Vol. 3 (2):
741-783.
Mahmud,
Muhammad Abdullahi, Peter Shaba, Sani Abdullahi Shehu, Abubakar Danmaigaro,
James Gana and Wosilat Abdussalam. 2015. Gross Morphological and Morphometric
Studies on Digestive Tracts of Three Nigerian Indigenous Geotypes of Chicken
with Speciel Reference to sexual Dimorphism. Journal of World’s Poultry Research Vol. 5 (2): 32-41.
Udoumoh,
Anietie Francis, Udensi Maduabuchi Igwebuike dan Wilfred Ikechukwu Ugwouke.
2017. Morphological features of the distal ileum and ceca of the common pigeon (Columba livia). Journal of
Experimental and Clinical Anatomy Vol. 15 (1): 27-30.
Zainuddin,
Dian Masyitha, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan Mulyadi
Adam. 2015. GAMBARAN HISTOLOGI KELENJAR TEMBOLOK AYAM KAMPUNG, BEBEK DAN
MERPATI. Jurnal Medika Veterinaria Vol.
9 (1): 68-70.
Zainuddin,
Dian Masyitha, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan Mulyadi
Adam. 2016. GAMBARAN HISTOLOGI KELENJAR INTESTINAL PADA DUODENUM AYAM KAMPUNG (Gallus domesticus), MERPATI (Columba domesticus) DAN BEBEK. (Anser anser domesticus). Jurnal Medika Veterinaria Vol. 10 (1): 9-11.
Sabuna,
Cytske, Jublin Franzina Bale-Therik dan Ni Gusti Ayu Mulyantini. 2015. Pemberian Grit pada Ayam Buras Memperpanjang Saluran Pencernaan, Menambah Bobot Ampela dan Bobot
Tulang Karkas. Jurnal Veteriner Vol.
16 (1): 132-138.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar