Sabtu, 24 Maret 2018

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Sistem Pencernaan


PERBEDAAN JENIS MAKANAN TERHADAP SISTEM PENCERNAAN DAN LAMA WAKTU YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENCERNA PADA BURUNG DARA (Columba livia)

Arina Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121

ABSTRAK
           
                   Proses pencernaan makanan pada hewan vertebrata dilakukan secara mekanis oleh saluran pencernaan makanan dan secra kimiawi oleh enzim-enzim yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar pencernaan makanan. Saluran pencernaan makanan pada burung meliputi rongga mulut, kerongkongan (esofagus), tembolok, ventrikulus, proventrikulus, usus halus (intestinum tenue), usus besar (kolon) dan anus. Proses pencernaan merupakan proses penguraian bahan makanan kedalam zat-zat makanan agar dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Sistem pencernaan makanan terdiri dari alat-alat pencernaan yang berhubungan langsung membentu saluran pencernaan. Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi otot. Saluran pencernaan akan mencerna makanan, memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Tujuan dari praktikum mengenai proses pencernaan ini adalah untuk mengetahui perubahan bentuk beberapa jenis makanan dalam proses pencernaan dan untuk mengetahui waktu yanag diperlukan oleh organ pencernaan dalam mencerna beberapa jenis makanan. Sedangkan tujuan dari adanya proses pencernaan dari suatu organisme adalah untuk mengubah substansi makanan menjadi bentuk yang ukurannya kecil dan larut dalam air sehingga dengan mudah menembus dinding usus dan dapat segera digunakan oleh sel-sel untuk sintesa sel-sel baru serta untuk menghilangkan kemungkinan adanya sifat antigenetik dari substansi makanan terutama protein. Alat yang digunakan dalam praktiku proses pencernaan makanan meliputi timbangan, sangkar (terbuat dari kardus dan kawat), seperangkat alat seksio, papan seksio, cutter ukuran besar, gunting, penggaris dan kertas HVS. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu 24 ekor burung dara yang relatif sama, makanan berupa jagung dan gabah, lateks dan masker. Metode praktikum proses pencernaan pada hewan (burung dara) dengan cara hewan dibuat dalam kondisi lapar pada saat hari pembedahan, yaitu tidak diberikan makanan selama 1 jam sebelum pembedahan dimulai. Proses pembedahan dimulai pada pukul 06.00 WIB, dan sebelum itu burung dara diberi makanan mulai pukul 04.00-05.00 WIB. Tetapi 1 hari sebelum hari pembedahan, burung dara tersebut juga diberikan makanan kurang lebih 12 jam (hingga pukul 16.00 WIB), hal ini bertujuan untuk mengetahui tektstur feses dari burung dara tersebut.


Kata kunci : pencernaan, ventrikulus, proventrikulus, saluran, organ



PENDAHULUAN
                Sistem pencernaan pada unggas sangat sederhana dan merupakan hewan monogastrik (berlambung tunggal). Sistem pencernan unggas terbagi menjadi dua bagian, yaitu saluran cerna utama yang terdiri atas mulut (paruh), esofagus, tembolok (ingluvies), proventrikulus, ventrikulus, usus halus, sekum, usus besar, dan kloaka serta kelenjar pelengkap (asesoris) yaitu hati dan pankreas. Tembolok merupakan pelebaran esofagus yang dilapisi oleh epithelium squamosa berlapis. Kelenjar tembolok ditemukan di bagian yang berdekatan dengan esofagus. Tembolok hanya terdapat pada bangsa burung yang makan biji-bijian, tidak terdapat pada bangsa burung pemakan serangga. Fungsi utama tembolok adalah untuk menerima dan menyimpan makanan sementara sebelum masuk ke proventrikulus, terutama pada saat memakan makanan dalam jumlah yang banyak. Pada bagian dinding tembolok terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan mukus, berfungsi sebagai cairan lubrikasi yang bersifat melunakkan makanan (Zainuddin, 2015).
                Grit adalah batu-batuan kecil seperti batu kerikil, batu kapur termasuk kulit kerang, yang dikonsumsi oleh ternak ayam yang dapat ditemukan dalam ampela. Grit sebagai pengganti gigi digunakan oleh ternak ayam untuk membantu ampela dalam memecahkan partikel yang besar dari ransum menjadi partikel yang lebih kecil. Selain membantu dalam proses pencernaan grit juga berperan dalam perkembangan saluran pencernaan yakni membuat saluran pencernaan bertambah panjang dan membuat bobot ampela bertambah berat (Sabuna, 2015).
                Proses pencernaan makanan  pada merpati berlangsung di dalam usus halus meliputi pencernaan pati, glukosa, sakarida, maltosa dan sukrosa yang dicernakan menjadi gula-gula sederhana. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Duodenum memiliki lipatan mukosa yang melingkar dan memiliki banyak vili, jejenum mirip dengan daerah duodenum. Ukuran vili jejenum lebih langsing dan jumlahnya lebih sedikit daripada duodenum. Ileum mirip dengan jejenum, vili pada ileum membentuk kelompok. Ileum tidak memiliki lipatan-lipatan mukosa. Usus halus relatif panjang, ini memungkinkan  kontak yang  lama antara makanan dan enzim-enzim pencernaan serta hasil-hasil pencernaan dan sel-sel absorptif epitel. Usus halus merupakan saluran pencernaan yang di mulai dari duodenum dan berakhir di permulaan usus besar di bagian paling belakang. Penyerapan makanan terjadi di usus halus, selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari, fungsinya sebagai penggerak aliran pakan dan juga untuk menaikkan permukaan penyerapan sari makanan (Zainuddin, 2015).
                Saluran pencernaan memiliki peranan yangbpenting dalam aktivitas masuk dann keluarnya makanan dalam studi ontogenies burung karena berkaitan dengan fungsi mencerna yaitu sebagai asupan gisi. Dalam studi ontogenies, morfologi usus, kegiatan enzim mukosa dan aktivitas enzim pankreas ditentukan mulai dari burung menetas hingga berumur 14 hari. Perkembangan yang cepat dapat diamati segera setelah menetas. Aktivitas enzim mukosa di dalam duodenum, jejunum dan ileum bervariasi secara signifikan berdasarkan segmen usia, dimana aktivitas enzim meningkat secara cepat dalam jejunum dibandingkan dengan duodenum dan ileum untuk sukrose dan aktivitas maltase dari hari menetas sampai hari kedelapan dan untuk aktivitas alkali fosfotase hingga hari ke-empat belas (Dong, 2017).
                Kelenjar glandular atau pada proventriculus relatif kecil dan tubular. Itu terletak ekornya pada lambung. Berhubungan dengan punggung ke paru kiri, testis atau ovarium dan ginjal bagian kranial; ventrally, medial dan lateral ke lobus kiri hati. Juga limpa itu terletak di dinding medialnya. Itu tingkat kaudal proventriculus ditandai oleh penyempitan yaitu gastritis. Perut otot atau ventrikulus terletak di dekat  setelah proventrikulus. Bagian ini di antara lobus dan sebagian di belakang cuping jantung kiri. Berbentuk oval dalam semua kelompok aves. Terdiri dari tubuh dengan 2 ujung runcing, saccus cranialis dan saccus caudalis yang berwarna merah muda. Dinding berotot lebih tebal terdiri dari otot crassus caudodorsalis dan crassus cranioventralis yang berwarna coklat kemerahan gelap. Lapisan otot yang jauh lebih tipis, yang terdiri dari otot tenuis craniodorsalis dan caudoventralis yang terdapat pada saccus cranialis da saccus caudalis (Mahmud, 2015).
Dinding ileum distal terdiri dari tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Mukosa Tunika dilemparkan ke lipatan vili yang dilapisi oleh epitel kolumnar sederhana. epitel berisi beberapa sel goblet, submukosa dari ileum distal terdapat banyak kelenjar sedangkan tunika muskularis ditunjukkan dengan lapisan membujur bagian dalam memanjang, tengah melingkar, dan luar sel otot polos. Di persimpangan ileo-CECO-rektum, tunika muskularis menunjukkan lapisan menebal dari serat otot polos miring diposisikan antara lapisan otot tengah lingkaran dan luar memanjang halus (Udoumoh, 2017).
                Pengolahan makanan dapat dibagi menjadi empat tahap yang berbeda: ingesti, digesti, absorpsi dan eliminasi. Ingesti (ingestion) merupakan tidakan makan. Makanan dapat ditelan dalam banyak bentuk cair dan padat. Mengingat bervariasanya smber-sumber makanan, tidaklah mengejutkan bahwa strategi untuk mengekstrak sumber daya dari makanan juga sangat berbeda di antara spesies-spesies hewan. Dalam digesti (digestion) atau pencernaan, tahap kedua dari pengolahan makanan, makanan dipecah menjadi molekul-molekul yang cukup kecil untuk diabrorpsi oleh tubuh. Tahap ini penting karena hewan tidak dapat langsung menggunakan protein, karbohidrat, asam nukleat, lemak dan fosfolipid dalam makanan. Dua tahap terakhir pengolahan makanan terjadi setelah makanan dicerna. Pada tahap ketiga, absorpsi (absorption), sel-sel hewan mengambil (menyerap) molekul-molekul kecil seperti asam amino dan gula sederhana. Eliminasi  menyelesaikan proses tersebut saat material yang tak tercerna dikeluarkan dari sistem pencernaan. Kebanyakan burung memiliki tiga ruang yang terpisah, yaknik tembolok, lambung dan empedal (tempat makanan digiling dan diaduk-aduk sebelum diteruskan ke dalam usus. Fungsi tembolok dan empedal burung lebih mirip dengan yang ada pada cacing tanah. Pada sebagian besar burung, digesti kimiawi dan absorpsi nutrien terjadi di dalam usus (Campbell, 2008).
Fiturkimia dari jenis makanan akan  mendorong diversifikasi morfologi pencernaan sistem, fisiologi, dan biokimia. Misalnya, jenis makanan dapat meningkatan jumlah material untuk pencernaan yang cepat dengan enzim endogen (yaitu, lokal pada saluran pencernaan), seperti sumber  sel-dinding atau arthropoda kutikula / kitin. Sebagai salah satu terlihat di taksa hewan  kita melihat bahwa meskipun tidak ada data untuk setiap jenis makanan di setiap takson, berarti efisiensi pencernaan untuk jenis makanan berbanding terbalik dengan jumlah relatif bahan refraktori dalam makanan (Karasov, 2013).
Pada vertebrata dan invertebrata, fitur morfologis dan fungsional dari gastrointestinal (GI) saluran umumnya mencerminkan jenis kimia makanan, seperti konten dari karbohidrat, protein dan lemak.  Refrakter terhadap pencernaan yang cepat (misalnya, selulosa). Ekspresi enzim pencernaan dan pengangkut nutrisi kurang sesuai dengan beban substrat masing-masing, dengan kelebihan kapasitas yang relatif sederhana. Mekanisme menjelaskan perbedaan aktivitas hidrolase antara populasi dan spesies termasuk gen polimorfisme nukleotida tunggal (Karasov, 2013).
Di dalam usus halus pada burung biasanya ditemukan banyak parasit, seperti cacing. Gangguan parasit pada burung perlu diperhatikan karena parasit mengakibatkan munculnya gejala penyakit atau perlukaan bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia.  Infestasi ektoparasit sangat mempengaruhi kinerja reproduksi karena dapat menyebabkan kematian burung. Ektoparasit lebih sering menyerang burung yang tinggal di sarang dan mengakibatkan burung lebih memilih meninggalkan sarang. Ektoparasit merupakan permasalahan klasik yang merugikan, namun kurang mendapat perhatian. Kerugian yang ditimbulkan sangat besar, mulai dari penurunan berat badan burung, penurunan produksi, kerontokan bulu, trauma, iritasi, anemia, bahkan kematian (Bahtiar, 2014).

METODE PENELITIAN
                Praktikum mengenai proses pencernaan makanan hewan yakni burung dara (Columba livia) bertujuan untuk mengetahui perubahan bentuk beberapa jenis makanan dalam proses pencernaan dan untuk mengetahui waktu yang diperlukan oleh organ pencernaan dalam mencerna beberapa jenis makanan. Beberapa alat yang digunakan dalam praktikum adalah timbangan, sangkar burung yang terbuat dari kardus dan kawat, seperangkat alat seksio, papan seksio, cutter, penggaris dan HVS. Masing-masing alat yang digunakan saat praktikum memiliki fungsi dan kegunaan. Timbangan berfungsi untuk menimbang makanan dari burung yakni jagung dan gabah, sangkar burung sebagai tempat dari burung dara sebelum dilakukan pembedahan, sangkar burung ini terbuat dari kardus dan kawat. Seperangkat alat seksio yang digunakan ketika pembedahan burung dara, papan seksio sebagai tempat ketika dilakukan pembedahan pada burung. Cutter ukuran besar untuk membunuh dan membedah burung dara yang digunakan saat praktikum. HVS yang digunakan untuk melapisi papan seksio ketika dilakukan pembedahan serta penggaris untuk mengukur panjang dari usus burung dara.
                Prosedur kerja yang dilakukan dimulai dari 1 hari sebelum dilakukan pembedahan dari burung dara. Pembedahan burung dara dilakukan pada hari sabtu (tanggal 25 November) pagi, dimana 1 hari sebelumnya yakni hari jumat (tanggal 24 November) burung dara diberi makan
hingga pukul 16.00 WIB, hal ini bertujuan untuk mengetahui tekstur dari feses yang dihasilkan oleh burung dara tersebut. Setelah pukul 16.00 WIB burung dara tersebut dipuasakan hingga hari sabtu pagi yakni pukul 04.00 WIB. Kemudian selama 1 jam burung dara diberi makan lagi. Jenis makanan yang diberikan yakni jagung dan gabah yang pembagian jenis makanannya telah diatur dan disesuaikan dengan banyaknya kelompok. Burung dara tersebut diberi makan hingga pukul 05.00 WIB. Setelah itu, burung dara tersebut dipuasakan lagi hingga dibedah. Pembedahan yang dilakukan dimulai dari pukul 06.00 WIB, pembedahan ini dilakukan dengan selisih 1 jam hingga pukul 17.00 WIB. Setiap satu jam pembedahan terdapat 2 kelompok yang melakukan hal tersebut.
                Sebelum proses pembedahan, menimbang sisa makanan (100 gr) dan minuman burung dara kemudian dicatat di tabel hasil pengamatan. Kemudian burung dara yang akan diamati dibunuh terlebih dahulu. Letakkan diatas papan seksio, kemudian dibedah dengan menggunakan cutter yang berukuran besar dan dengan menggunakan alat seksio ketika membedah bagian dalam/ organ saluran pencernaan dari burung dara. Mengamati bagian-bagian dari saluran pencernaan, yakni tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus halus dan usus besar. Hal-hal yang menjadi objek pengamatan adalah kondisi makanan yaitu tekstur dan warnanya dan juga parasit yang terdapat di dalam organ saluran pencernaan.


























HASIL DAN PEMBAHASAN






Proses pencernaan pada burung dara dapat di amati di tabel berikut ini


Kelas/Kel
Jenis makanan
Jam Bedah
Makanan
Minuman
Panjang Usus
Organ
Kondisi Makanan
Awal
Akhir
Awal
Akhir
Warna
Tekstur
Parasit
12
gabah
11.00
50 gr
48 gr
50 ml
12 ml
Usus Halus
Tembolok
Kuning
Kasar
-







35,5 cm
Proventrikulus
Hijau Kuning
Padat
-








Ventrikulus
Hijau
Padat
-







Usus Besar
Usus Halus
Kuning
Lembek
Cacing (3)







40,4 cm
Usus Besar
Kuning kunyit
Padat
-








Feses Sebelum
Hijau muda
Agak cair, lembek dan kasar
-








Feses Sesudah
Hijau tua
Padat
-





Praktikum proses pencernaan makanan bertujuan untuk mengetahui perubahan bentuk beberapa jenis makanan dalam proses pencernaan dan untuk mengethaui waktu yang diperlukan oleh organ pencernaan dalam mencerna beberapa jenis makanan. Sistem pencernaan makanan terdiri dari alat-alat pencernaan yang berhubungan langsung membentu saluran pencernaan. Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi otot. Saluran pencernaan akan mencerna makanan, memecahnya menjadi bagian yang lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Proses pencernaan makanan pada hewan vertebrata dilakukan secara mekanis oleh saluran pencernaan makanan dan secra kimiawi oleh enzim-enzim yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar pencernaan makanan. Saluran pencernaan makanan pada burung meliputi rongga mulut, kerongkongan (esofagus), tembolok, ventrikulus, proventrikulus, usus halus (intestinum tenue), usus besar (kolon) dan anus. Proses pencernaan merupakan proses penguraian bahan makanan kedalam zat-zat makanan agar dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh.
Percobaan pencernaan makanan pada hewan ini dilakukan dengan perbedaan perlakuan yaitu pada jenis makanan yang diberikan terhadap burung dara. Jenis makanan yang diberikan berupa jagung dan gabah. Perbedaan perlakuan jenis makanan yang diberikan bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan bentuk jenis makanan dalam proses pencernaan burung. Antara kedua jenis makanan yaitu jagung dan gabah memiliki perbedaan struktur baik bentuk, ukuran dan tekstur. Jagung memiliki ukuran yang lebih besar, begitupun dengan bentuknya juga lebih padat dan berisi serta tekstur dari jagung yang lebih keras dibandingkan dengan gabah. Tentu saja adanya perbedaan jenis makanan akan menyebabkan perbedaan pada kecepatan dalam mencerna makanan tersebut. Jenis makanan gabah akan lebih mudah dicerna menjadi bentuk yang lebih halus dibandingkan jagung. Jenis makanan jagung masih tampak kasar di bagian organ-organ pencernaan tertentu ketika dibandingkan dengan gabah yang telah berubah tekstur menjadi halus. Perubahan jenis makanan ini juga dapat diamati dari bentuk makanan, jenis-jenis makanan yang diberikan akan berubah bentuk menjadi lebih kecil dibandingkan saat sebelum dicerna oleh saluran-saluran pencernaan, proses mencerna makanan menjadi lebih kecil hingga terbentuk feses ini dibantu dengan enzim dan mikroorganisme.
Berdasarkan data hasil pengamatan proses pencernaan makanan hewan yang telah diperoleh selama praktikum 12 jam yaitu dilakukan mulai pukul 06.00-17.00 WIB, dapat dibuktikan bahwa gabah lebih cepat dicerna oleh organ-organ pencernaan dibandingkan jagung. Pada jenis makanan jagung, pada organ pencernaan tembolok  dapat dilihat mulai awal pembedahan hingga akhir pembedahan, menunjukkan tekstur dan bentuk yang kasar di organ temboloknya. Berbeda halnya, dengan jenis makanan gabah yang dikonsumsi oleh burng dara, jenis makanan ini lebih cepat berubah tekstur menjadi lebih halus. Perubahan bentuk makanan dari gabah ini berkaitan dengan waktu, semakin lama waktu yang dibutuhkan ketika mencerna maka tekstur gabah akan menjadi halus. Dapat diamati pada pembedahan burung yang dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, tekstur dari jenis makanan gabah telah menjadi halus total, karena tidak ditemukan lagi biji gabah di organ-oragan pencernaan.
Pada organ proventrikulus, perubahan bentuk jenis makanan gabah untuk menverna makanan menjadi halus membutuhkan waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan jagung. Dapat diamati di pembedahan jam 12.00 WIB, jenis makanan jagung telah berubah berubah bertekstur halus. Sedangkan pada jenis makanan jagung, keseluruhan bertekstur kasar di proventrikulusnya, hanya pada pembedahan pukul 16.00 WIB, tektur jenis makanan jagung berubah menjadi halus.
Pada bagian organ ventrikulus, perubahan bentuk makanan gabah umumnya hampir semua pembedahan menunjukkan tekstur yang kasar dan disertai dengan adanya kerikil. Begitupun dengan jenis makanan jagung, rata-rata menunjukkan tekstur yang kasar dan terdapat kerikil namun ukurannya lebih besar.
Selanjutnya, pada usus halus, jenis makanan gabah dan jagung keduanya relatif menunjukkan hasil yang sama yaitu makanan yang dicerna bertekstur halus, lembek, berair dan encer. Hal ini dapat diamati hampir di setiap pembedahan.
Kedua jenis makanan ketika di usus besar sudah terlihat lembek dan berair dari awal pembedahan hingga akhir, hal ini disebabkan karena kemungkinan organ-organ pencernaan tersebut mencerna makanan yang hari-hari sebelumnya telah dimakan oleh burung ara tersebut.
Perbedaan bentuk makanan di masing-masing organ pencernaan berkaitan dengan fisiologis dari organ pecernaan yang bersangkutan. Misalnya, pada oragan tembolok. Menurut Zainuddin (2015) Fungsi utama tembolok adalah untuk menerima dan menyimpan makanan sementara sebelum masuk ke proventrikulus, terutama pada saat memakan makanan dalam jumlah yang banyak. Pada bagian dinding tembolok terdapat banyak kelenjar yang menghasilkan mukus, berfungsi sebagai cairan lubrikasi yang bersifat melunakkan makanan. Dikarenakan di organ tembolok hanya befungsi untuk menerima dan menyimpan sementra, maka makanan yang masuk masih utuh.
Kemudian pada organ pencernaan proventrikulus, mulai ada perubahan tekstur menjadi lebih halus apabila dibandingkan keadaannya pada saat di tembolok. Menurt Zainuddin (2015) yaitu penghalusan makanan pada saat makanan melewati proventrikulus dengan bantuan enzim-enzim pencernaan. Sedangkan menurut Mahmud (2015) menyatakan bahwa kelenjar glandular atau pada proventriculus relatif kecil dan tubular.
Lalu makanan akan lanjut ke organ pencernaan ventrikulus. Ketika di dalam organ ini, makanan akan menjadi lebih halus lagi dibandingkan dengan yang ada di proventrikulus, karena pada organ ini akan terjadi pecernaan secara kimiawi dengan bantuan enzim-enzim dan dengan adanya bantuan dari grit (kerikil). Seperti halnya menurut Sabuna (2015) yang menyatakan bahwa Grit merupakan batu-batuan kecil seperti batu kerikil, batu kapur termasuk kulit kerang, yang dikonsumsi oleh ternak ayam yang dapat ditemukan dalam ampela. Grit sebagai pengganti gigi digunakan oleh ternak ayam untuk membantu ampela dalam memecahkan partikel yang besar dari ransum menjadi partikel yang lebih kecil. Selain membantu dalam proses pencernaan grit juga berperan dalam perkembangan saluran pencernaan yakni membuat saluran pencernaan bertambah panjang dan membuat bobot ampela bertambah berat.
Ketika makanan telah sampai di usus halus, umunya tektur makanan tersebut akan berubah dari halus menjadi lembek dan encer. Proses pencernaan makanan  pada merpati berlangsung di dalam usus halus meliputi pencernaan pati, glukosa, sakarida, maltosa dan sukrosa yang dicernakan menjadi gula-gula sederhana. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Duodenum memiliki lipatan mukosa yang melingkar dan memiliki banyak vili, jejenum mirip dengan daerah duodenum. Ukuran vili jejenum lebih langsing dan jumlahnya lebih sedikit daripada duodenum. Ileum mirip dengan jejenum, vili pada ileum membentuk kelompok. Ileum tidak memiliki lipatan-lipatan mukosa. Usus halus relatif panjang, ini memungkinkan  kontak yang  lama antara makanan dan enzim-enzim pencernaan serta hasil-hasil pencernaan dan sel-sel absorptif epitel. Usus halus merupakan saluran pencernaan yang di mulai dari duodenum dan berakhir di permulaan usus besar di bagian paling belakang. Penyerapan makanan terjadi di usus halus, selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari, fungsinya sebagai penggerak aliran pakan dan juga untuk menaikkan permukaan penyerapan sari makanan (Zainuddin, 2015).
Di dalam organ usus besar merupakan organ yang mempersiapkan dalam membentuk feses sehingga tekstur dari makanan yang telah dicerna akan menjadi lembek dan berair, dan makanan tersebut akan siap untuk diekskresikan.
Saat pembedahan dilakukan peda pencernaan burung dara, dapat ditemukan adanya parasit dengan jumlah yang sedikit hingga banyak dalam satu individu burung dara. Umumnya parasit yang ditemukan, terdapat di usus halus. Ini dapat terjadi karena parasit yang ada di usus halus akan menyerap sari-sari makanan. Fungsi dari usus halus sendiri yaitu menyerap sari-sari makanan, sehingga parasit terdapat di dalam organ tersebut, dikarenakan di bagian-bagian organ lain tidak melakuakan penyerapan sari makanan seperti yang dilakukan oleh usus halus. Sebab lain adanya parasit di dalam organ pencernaan adalah karena makanan yang dikonsumsi oleh burung dara terjadi kontaminasi, sehingga parasit-parasit yang turut masuk ke dalam organ pencernaan dengan perantara makanan akan hidup dan bberkembang di dalam tubuh hewan inang.adanya parasit di dalam organ pencernaan akan mengganggu daam meyerap sari makanan karena tidak terjadi proses pencernaan secara maksimal. Jenis parasit yang telah ditemukan di dalam organ pencernaan usus halus berupa cacing  Ascaris suum dan Ascaris lumbricoides.
Tujuan dari kegiatan dipuasakan terlebih dahulu sebelum dibedah adalah agar dapat mengetahui posisi makanan pada jam-jam tertentu yang telah disesuaikan saat pembedahan. Alasan lain mengapa burung dipuasakan terlebih dahulu adalah agar tidak ada jenis makanan lain yang masuk ke dalam tubuh burung dara sehingga tidak mengganggu hasil pengamatan praktikum.
Adanya perbedaan tekstur, warna dan bau pada feses yang dihasilkan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah jenis makanan, antara jagung dan gabah tentu akan menghasilkan jenis feses yang berbeda, umumnya jenis makan jagung fesesnya kan lebih padat dibandingkan dengan jenis makanan gabah. Keadaan tubuh dari burung dara, apabila burung dara dalam keadaan stress atau sakit tentu akan mempengaruhi kondisi tubuhnya sehingga proses pencernaan yang terjadi tidak maksimal dan akan menghasilkan feses yang berbeda-beda. Ada tidaknya parasit, berdasarkan hasil pengamatan, dari 24 burung dara hampir keseluruhan terdapat parasit namun dalam jumlah yang berbeda. Semakin banyak parasit yang ditemukan di dalam organ pencernaan akan menghasilkan feses yang lebih cair dan lebih bau dibandingkan dengan burung dara dengan jumlah parasit yang sedikit. Feses yang terbentuk menjadi lebih cair dikarenakan proses penyerapan di usus halus tidak maksimal dan akan terganggu.

























KESIMPULAN

Jenis makanan yang berbeda akan mempengaruhi proses pencernaan pada hewan yang bersangkutan. Pada praktikum ini menggunakan 2 jenis makanan yang berbeda yaitu jagung dan gabah. Perubahan bentuk dari makanan dari jagung akan lebih padat dibandingkan dengan gabah dikarenakan perbedaan tekstur dan dari kedua jenis makanan tersebut.

Pada jenis makanan jagung, waktu yang dibutuh kan dalam mencerna makanan akan butuh watu yang lebih lama jika dibandingkan dengan makanan gabah. Hal ini dikarenakan karena perbedaan struktur dari kedua jenis makanan tersebut.























DAFTAR PUSTAKA



Bahtiar, Denny Herbianto, R Susanti dan Margareta Rahayuningsih. 2014. KEANEKARAGAMAN JENIS EKTOPARASIT BURUNG PARUH BENGKOK FAMILI PSITTACIDAE DI TAMAN MARGASATWA SEMARANG. Unnes Journal of Life Science Vol. 3 (2) : 139-147.










Campbell, Jane B. Reece & Lawrence G. Mitchell. 2008. Biologi jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Dong, X.Y, Y. M. Wang, L. Dai, M. M. M. Azzam, C. Wang and X. T. Zou. 2017.  Posthatch development of intestinal morphology and digestive enzyme activities in domestic pigeons (Columba livia). Journal Poultry Production Department Vol. 3 (1).












Karasov, William H. And Angela E. Douglas. 2013. Comparative Digestive Physiology. Journal Compr Physiol Vol. 3 (2): 741-783.





Mahmud, Muhammad Abdullahi, Peter Shaba, Sani Abdullahi Shehu, Abubakar Danmaigaro, James Gana and Wosilat Abdussalam. 2015. Gross Morphological and Morphometric Studies on Digestive Tracts of Three Nigerian Indigenous Geotypes of Chicken with Speciel Reference to sexual Dimorphism. Journal of World’s Poultry Research Vol. 5 (2): 32-41.

Udoumoh, Anietie Francis, Udensi Maduabuchi Igwebuike dan Wilfred Ikechukwu Ugwouke. 2017.  Morphological features of the distal ileum and ceca of the common pigeon (Columba livia). Journal of Experimental and Clinical Anatomy Vol. 15 (1): 27-30.

Zainuddin, Dian Masyitha, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan Mulyadi Adam. 2015. GAMBARAN HISTOLOGI KELENJAR TEMBOLOK AYAM KAMPUNG, BEBEK DAN MERPATI. Jurnal Medika Veterinaria Vol. 9 (1): 68-70.

Zainuddin, Dian Masyitha, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan Mulyadi Adam. 2016. GAMBARAN HISTOLOGI KELENJAR INTESTINAL PADA DUODENUM AYAM KAMPUNG (Gallus domesticus), MERPATI (Columba domesticus) DAN BEBEK. (Anser anser domesticus). Jurnal Medika Veterinaria Vol. 10 (1): 9-11.

Sabuna, Cytske, Jublin Franzina Bale-Therik dan Ni Gusti Ayu Mulyantini. 2015.  Pemberian Grit pada Ayam Buras Memperpanjang Saluran Pencernaan, Menambah Bobot Ampela dan Bobot Tulang Karkas. Jurnal Veteriner Vol. 16 (1):  132-138.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Berbagi!

  SOAL BIOLOGI #PART 1 1.       Berikut ini adalah lima pokok data ilmiah: 1.       Hasil eksperimen 2.       Merumuskan masalah 3.   ...