Senin, 05 November 2018

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Pengaruh Kepekatan Medium


PERBEDAAN TINGKAT KEPEKATAN MEDIUM TERHADAP BENTUK ERITROSIT PADA HEWAN POIKILOTERMIK DAN HEWAN HOMOIOTERMIK

Arina Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121

ABSTRAK
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Komposisi darah terdiri atas tiga bagian yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Struktur eritrosit normal adalah tidak memiliki inti dan berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter kira-kira 7-8 mikrometer dengan ketebalan 2,5 mikrometer pada bagian paling tebal serta 1 mikrometer atau kurang pada bagian tengahnya. Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler, hal tersebut disebabkan karena eritrosit memiliki toleransi osmotik yang berbeda. Berdasarkan pernyataan sebelumnya, eritrosit pada hewan poikilotermik dan hewan homoiotermik memiliki toleransi osmotik yang berbeda terhadapa berbagai tingkat kepekatan medium. Oleh karena itu, tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui besarnya toleransi eritrosit hewan poikilotermik dan homoiotermik terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Alat yang digunakan adalah mikroskop, kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, papan dan alat seksio serta gelas piala. Sedangkan bahan yang digunakan adalah garam fisiologis 0.7% NaCl, 0.9% NaCl, aquadest dan berbagai larutan garam dapur dengan berbagai konsentrasi. Bentuk sel eritrosit dipengaruhi oleh berbagai kepekatan medium. Pada larutan isotonis akan berbentuk normal (tidak ada perubahan), pada hewan poikilotermik larutan hipotonisnya 0.7% NaCl, sedangkan hewan homoiotermik larutan isotonisnya adalah 0.9% NaCl. Aquades bersifat hipotonis yang menyebabkan lisis, NaCl 1% bersifat hipertonis yangn menyebabkan krenasi. Pada praktikum ini, semua hasil yang diperoleh sesuai dengan teori.

Kata kunci : Darah, eritrosit, poikilotermik, homoiotermik, osmotik
                                                                          

PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Darah memiliki dua komponen utama - plasma dan elemen terbentuk. Hampir segala sesuatu yang membawa darah, seperti nutrisi, hormon dan limbah, dilarutkan dalam plasma, yang sebagian besar air. unsur terbentuk, yang merupakan sel dan bagian dari sel, juga mengapung dalam plasma. unsur terbentuk termasuk sel-sel darah putih (leukosit), yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, dan trombosit, yang membantu membentuk gumpalan. Sel darah merah (sel darah merah) bertanggung jawab untuk satu tugas darah yang paling penting - membawa oksigen dan  karbon dioksida (Neelam, et al 2015).

                    Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darah merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel-sel darah merah dengan bentuk-bentuk abnormal disebut poikilosit; sel-sel yang lebih kecil disebut mikrosit dan yang lebih besar disebut makrosit. Bila setetes darah diletakan pada kaca obyek dan ditutup dengan kaca penutup, sel- sel darah merah bertumpuk-tumpuk mirip tumpukan logam; keadaaan ini disebut formasi rouleaux (Bajpai, 2002).
                    Enzim sel darah merah seperti sel lain pada umumnya memiliki membran sel yang dapat memiliki berfungsi bermacam terhadap sel darah itu sendiri. Salah satu fungsi membran sel sebagai barier semipermeabel yang memungkinkan molekul berukuran kecil dapat keluar masuk keadalam sel. Hasil pengamatan mikroskop elektron terhadap membran sel menunjukan bahwa membran sel merupakan lipid bilayer. Penyusun utamanya adalah fosfolipid yang terdiri dari bagian kepala yang polar (hidrofilik) dan ekor non-polar (hidrofobik). Fosfolipid ini tersusun atas bagian nonpolar yang membentuk daerah hidrofobik yang diapit oleh daerah kepala pada bagian dalam dan luar membran (Alakomi, 2007).
       Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan memiliki karakteristik yang berbeda  pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi yang berbeda bergantung pada permeabilitas membran sel terhadap lingkungannya. Pada kondisi larutan yang hipotonis seperti larutan NaCl dengan konsentrasi NaCl 0.4%sel umumnya akan mengalami lisis. Pada kondisi larutan NaCl 0.9%, larutan dikatakan isotonis dengan eritrosit. Sedangkan pada larutan dengan kondisi hipertonik seperti pada NaCl 1.8%, eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya (McGill, 2013).
 
                    Tekanan osmotik berarti sebuah lorong/ tempat air dari yang berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermeabel ke daerah yang berkonsentrasi rendah (misalnya NaCl). Hal utama dalam tekanan osmotik adalah tranportasi pada larutan (sringkali air murni dan air garam), terpisah dengan filter khusus yaitu sebuah membran yang disebut membran semipermeabel. Membran semipermeabel adalah filter organik dengan lubang yang sangat kecil. Membran tersebut hanya akan memungkinkan molekul kecil seperti molekul air yang mampu melewatinya. Lapisan tipis dari membran semipermeabel itulah yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan osmotik (Adokar, 2013).
        Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup, misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika meletakan sel darah merah dalam suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darah akan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu meletakan sel darah merah dalam suatu larutan yang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari larutan tersebut akan ditarik masuk kedalam sel darah sehingga sel mengembang dan pecah. Proses ini disebut hemolisis (Isnaeni, 2006).
Osmosis adalah proses pergerakan molekul air dari larutan dengan konsentrasi rendah menuju larutan dengan konsentrasi tinggi melalui membran semipermeable (selektif permeable). Keadaan membran sel dan kapiler permeabel terhadap air sehingga kadarnya sama. Membran semipermeable adalah membran yang hanya dapat dilewati oleh beberapa molekul tertentu seperti air, namun tidak dapat dilewati zat terlarut secara langsung seperti protein. (I Made, 2011)
Krenasi adalah sebuah keadaan dimana sel menjadi mengkerut atau mengempis dikarenakan kehilangan atau keluarnya air dari dalam sel keluar sel dalam jumlah yang banyak karena dipengaruhi keadaan lingkungan sel yang hipertonis sehingga terjadi osmosis (Suwolo, 2000:89)
Lisis adalah keadaan dimana air dari lingkungan masuk kedalam sel dalam jumlah yang berlebih, akibatnya sel menggelembung dan pecah diakibatkan membran sel tidak mampu menahan bentuk sel, pada sel darah merah (eritrosit) peristiwa lisis disebut homeolisis atau peristiwa pecahnya eritrosit yang disebabkan masuknya air kedalam sel darah merah dan mengakibatkan hemoglobin keluar dari dalam sel dan laruta dengan lingkunya. Membran plasma sel darah merah selektif permeable sehingga dapat dilewati oleh air, dan zat – zat tertentu dapat juga melewatinya namun ada juga yang tidak dapat mlewatinya. (Suwolo, 2000:88)
 
                    
 
 
METODE PENELITIAN
Percobaan mengenai “Toleransi Osmotik Eritrosit Hewan Poikilotermik dan Hewan Homoiotermik Terhadap Berbagai Tingkat Kepekatan Medium” ini memiliki tujuan untuk mengetahui besarnya toleransi osmotik ertrosit di kedua jenis hewan tersebut  terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop, kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, jarum pentul,  papan dan alat seksiosedangkan bahan yang digunakan meliputi larutan garam fisiologis untuk poikilotermik 0.7%NaCl, untuk homoiotermik 0.9% NaCl, aquadest dan berbagai larutan garam dapur dengan berbagai konsentrasi.
                Papan seksio da alat seksio berfungsi untuk membedah hewan uji, pada percobaan kali ini hewan uji yang digunakan yaitu kadal dan mencit. Kemudian jarum pentul guna menusuk bagian pembuluh hingga keluar sel darah merahnya. Pipet tetes yang berfungsi untuk mengambil eritrosit dari hewan-hewan tersebut. Kaca benda dan kaca penutup digunakan untuk tempat atau wadah dari eritrosit hewan yang akan diamati di bawah mikroskop. Pada saat pengamatan di bawah mikroskop harus dilakukan dengan perbesaran lemah terlebih dahulu.
                Prosedur kerja yang dilakukan pada percobaan ini yaitu pertama, membunuh dan membedah hewan-hewan uji yang tergolong hewan poikilotermik (kadal) dan hewan homoiotermik (mencit). Setelah dilakukan pembedahan, pada bagian pembuluh hewan uji ditusuk dengan menggunakan jarum pentul hingga keluar darah. Ketika darah keluar, darah tersebut diambil atau dihisap dengan menggunakan pipet tetes. Setelah itu, darah yang ada di pipet tetes diletakkan di atas kaca benda. Terdapat beberapa perlakuan yang berbeda-beda pada bagian ini, ada yang tanpa diberikan larutan apapun (sebagai kontrol), ada yang ditetesi aquades, ada yang ditetesi larutan NaCl 0.7%, NaCl 1%, dan NaCl 0.9%. hal ini bertujuan agar mengetahui bagaimana bentuk dari eritrosit hewan-hewan trsebut terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Setelah itu, dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dan diamati bagaimana bentuk-bentuk dari eritrosit tersebut.
 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN

                Hasil yang diperoleh dari percobaan “Toleransi Osmotik Eritrosit Hewan Poikilotermik dan homoiotermik Terhadap Kepekatan Medium” dapat dilihat dan diamati pada tabel pengamatan di bawah ini.





Kelompok
Hewan
Medium
Keterangan
1
Kadal
Kontrol
Normal
Kadal
Aquadest
Lisis
2
Kadal
NaCl 0.7%
Normal
3
Kadal
NaCl 1%
Krenasi
4
Mencit
Kontrol
Normal
Mencit
Aquadest
Lisis
5
Mencit
NaCl 0.9%
Normal
Mencit
NaCl 1%
krenasi



Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa semua hasil dari pecobaan ini sesuai dengan teori atau literatur yang ada. Kelompok 1, mengamati bentuk eritrosit pada hewan poikilotermik yakni kadal, melakukan dua perlakuan medium yang berbeda yaitu kontrol (tanpa diberikan larutan apapun) dan diberikan larutan aquadest. Pada saat perlakuan kontrol, bentuk sel dari erirosit normal atau tidak terjadi perubahan, namun pada saat diberikan larutan aquadest, bentuk sel eritrosit menjadi lisis. Hal ini dikarenakan aquadest bersifat hipotonis. Pengenceran dengan aquades kurang dianjurkan kerena dapat menyebabkan sel mengembang dan pecah karena sifat aquadest yang hipotonis. Hal ini disebabkan karena cairan aquadest masuk ke dalam sel melalui membran semipermeabel (Diarti, 2013). Kelompok 2 mengamati eritrosit hewan kadal dan menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi yaitu NaCl 0.7%. Pada medium NaCl 0.7%, bentuk sel eritosit normal, hal ini dikarenakan pada umumnya cairan eritrosit poikilotermik (misalnya kadal) isotonis dengan 0.7% NaCl. Sedangkan pada kelompok 3, mengamati hewan poikilotermik (kadal) di medium NaCl 1%. Bentuk sel menjadi krenasi. Hal ini dikarenakan, NaCl 1% merupakan larutan hipertonis, sehingga sel eritrosit mengalami krenasi. Kelompok 4, mengamati eritrosit hewan homoiotermik yaitu mencit dengan dua medium yang berbeda yaitu kontrol dan diberikan aquades. Pada saat tanpa diberikan larutan (perlakuan kontrol), bentuk sel eritrosit normal atau tidak mengalami perubahan sedangkan saat diberikan larutan aquades mnjadi lisis. Hal ini sama halnya seperti pada perlakuan di kelompok 1, bahwasanya aquades bersifat hipotonis sehingga menyebabkan sel eritrosit hewan mengalami lisis. Kelompok 5 mengamati eritrosit pada hewan mencit dengan 2 medium yang berbeda yaitu NaCl 0.9% da NaCl 1%. Pada saat diberikan larutan NaCl 0.9%, bentuk sel eritrosit normal dikarenakan eritrosit homoiotermik isotonis dengan 0.9%, sedangkan saat diberikan larutan NaCl 1% akan mengalami krenasi karena larutan tersebut merupakan larutan hipertonis.
Proses osmosis dipengaruhi oleh kadar zat terlarut, baik yang terlarut di dalam lingkungan sel luar ataupun zat terlarut di dalam cairan sel. Antara kedua cairan tersebut dipisahkan oleh membran sel yang bersifat semipermebel. Osmosis sendiri diartikan sebagi peristiwa mengalirnya zat pelarut dari daerah yang hipotonis zat terlarut ke daerah hipertonis zat terlarut.
Umumnya cairan eritrosit poikilotermik isotonis dengan 0.7% NaCl dan cairan eritrosit homoiotermik isotonis dengan 0.9% NaCl. Apabila eritrosit dimasukkan ke dalam larutan yang hipotonis , maka akan mengalami lisis dikarenakan membran eritrosit tidak mampu lagi menahan tekanan zat pelarut. Sebaliknya, apabila erirosit dimasukkan ke dalam cairan hipertonis, maka air akan keluar dari dalam eritrosit dan eritrosit dapat mengalami krenasi.
Larutan-larutan yang digunakan pada percobaan ini yaitu aquades, NaCl 0.9%, NaCl 0.7% dan NaCl 1%. Perbedaan pemberian larutan ini agar mengetahui bagaimana bentuk dari eritrosit terhadap perbedaan jenis larutan tersebut. Aquades bersifat hipotonis yang akan menyebabkan sel eritrosit menjadi lisis, NaCl 1% yang bersifat hipertonis yang akan menyebabkan sel eritrosit menjadi krenasi. Sedangkan hewan poikilotermik akan isotonis dengan larutan NaCl 0.7% yang menyebabkan sel eritrosit berbentuk normal, dan hewan homoiotermik yang isotonis dengan larutan NaCl 0.9% yang menyebabkan bentuk sel eritrosit menjadi normal.
                    Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darah merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan memiliki karakteristik yang berbeda  pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi yang berbeda bergantung pada permeabilitas membran sel terhadap lingkungannya. Pada kondisi larutan yang hipotonis seperti larutan NaCl dengan konsentrasi NaCl 0.4% sel umumnya akan mengalami lisis. Pada kondisi larutan NaCl 0.9%, larutan dikatakan isotonis dengan eritrosit. Sedangkan pada larutan dengan kondisi hipertonik seperti pada NaCl 1.8%, eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya (McGill, 2013).  Sehingga fungsi dari eritrosit sendiri yang berkaitan dengan toleransi osmotik adalah:
a.     Mengamati peristiwa hemolisis. 
Kecepatan hemolisis eritrosit berbeda-beda tergantung pada tingkat konsentrasi larutan NaCl yang ditambahkan. 
b.     Menghitung Persentase Hemolisis
 
 






 
 

Bila eritrosit mengalami hemolisis maka hemoglobin akan larut dalam mediumnya. Akibat dari terlarutnya hemoglobin tersebut, medium akan berwarna merah. Makin banyak eritrosit yang mengalami hemolisis maka makin merah warna mediumnya. Dengan dibandingkan warna medium dengan larutan standar (eritrosit dalam air suling), maka dapat ditentukan tingkat kerapuhan membran eritrosit (tingkat toleransi osmotik membran eritrosit) (Soewolo, 2000).
                Terdapat perbedaan toleransi osmotik antara hewan poikilotermik dengan hewan homoiotermik. perbedaan tersebut teletak pada kadar larutan isotonisnya. Pada hewan poikilotermik misalnya kadal kadar isotonisnya yaitu 0.7% NaCl, sedangkan pada hewan homoiotermik kadar isotonisnyayaitu 0.9% NaCl.
                Sehingga dapat diamati bahwa, yang lebih toleran adalah pada hewan homoiotermik, karena pada hewan homoiotermik kadar isotonisnya lebih tinggi dibandingkan dengan hewan poikilotermik. Pada hewan homoiotermik kadar isotonis sebesar 0.9% NaCl.Salah satu faktor yang mempengaruhi toleransi osmotik terhadap berbagai tingkatan medium adalah faktor usia eritrosit. Semakin tua umur eritrosit maka inti dri eritrosit akan hilang dan lenyap, jadi terdapat ruang yang lebih di dalamnya untuk mengikat oksigen. Sehingga hubungan antara faktor usia dengan toleransi osmotik, apabila umur eritrosit semakin tua akan menyebabkan berkurangnya tingkat kemampuan eritrosit dalam meengikat oksigen.








KESIMPULAN
Bentuk sel eritrosit dipengaruhi oleh berbagai kepekatan medium. Pada larutan isotonis akan berbentuk normal (tidak ada perubahan), pada hewan poikilotermik larutan hipotonisnya 0.7% NaCl, sedangkan hewan homoiotermik larutan isotonisnya adalah 0.9% NaCl. Aquades bersifat hipotonis yang menyebabkan lisis, NaCl 1% bersifat hipertonis yangn menyebabkan krenasi. Pada praktikum ini, semua hasil yang diperoleh sesuai dengan teori.
 




















DAFTAR PUSTAKA

Adokar, Dineshkumar U. Danesh S. Patil and Amrita Gupta. 2013. Generation of Electricity by OSMOSIS. International

                   Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering Vol. 3(1): 846-851.
Alakomi, H. L. 2007. Weakening of the Gram-Negative Bacterial Outer Membrane: a Tool for Increasing Microbiological Safety, Finland: VTT Technical Research Centre.
Bajpai.2002. Histologi Dasar Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia.
Diarti, Maruni Wiwin. Erlin Yustin Tatontos dan Aden Turmji. 2013. LARUTAN PENGENCER ALTERNATIF NaCo 0.9% DALAM PENGECATAN GIEMSA PADA PEMERIKSAAN MORFOLOGI SPERMATOZOA. Jurnal Kesehatan Prima Vol.9 (2).
I Made Suma Anthara. 2011. Homeostatis Cairan Tubuh pada Anjing dan Kucing. Buletin Veteriner Udayana. ISSN 2085 – 2495 Vol 3 (1) :23 – 37.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius
Mc. Gill. 2013. Red Cell Fragility [online]. http ://www.Medicine.mcGill.ca/physio/vlab/bloodlab/eryfrag1_n.htm diakses pada tanggal 14 November 2017 pukul 00.15
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira. Jakarta: EGC.
Neelam, Singh, Semwall B.C, Maurya Krishna, Khatoon Ruqsana, et all. 2015.Artificial Blood a Tool For Survival of Human. Journal of Pharmacy. Vol 3(5):11-21.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.













Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Peranan Eritrosit dan Leukosit


PERANAN ERITROSIT DAN LEUKOSIT PADA HEWAN HOMOIOTERMIK MENCIT (Mus musculus) DAN POIKILOTERMIK KADAL (Mabouya multifasciata) SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Arina Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121

ABSTRAK
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Komposisi darah terdiri atas tiga bagian yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Kadar eritrosit dan leukosit antar hewan berbeda-beda, misalnya pada kadal yang tergolong hewan poikilotermik dan mencit yang tergolong hewan homoiotermik. Oleh karena itu, percobaan ini bertujuan untuk menghitung eritrosit dan leukosit hewan poikilotermik dan homoiotermik. Alat yang digunakan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit adalah hemocitometer yang terdiri atas dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan hayem untuk eritrosit dan turk untuk leukosit dan aquades. Pada mencit dilakukan dislokasi leher terlebih dahulu sebelum dilakukan pengamatan, sedangkan kadal dibius dengan menggunakan kloroform. Kemudian darah diambil dengan pipet yang dibedakan antara eritrosit dan leukositnya, diberikan larutan yang telah ditentukan. setelah itu, diamati di mikroskop untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit. Dalam menghitung jumlah eritosit menggunakan rumus Nx10.000 sedangkan menghitung leukosit menggunakan rumus Nx50.

Kata kunci : Darah, eritrosit, leukosit, poikilotermik, homoiotermik
                                                                          

PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Pigmen respirasi yang terdapat pada hampir semua vertebrata dan banyak invertebrata adalah hemoglobin. Pada vertebrata, hemoglobin terkandung di dalam eritrosit. Hemoglobin vertebrata terdiri dari empat subunit (rantai-rantai polipeptida), masing-masing dengan satu kofaktor yang disebut gugus heme (heme group) yang mengandung satu atom besi di pusatnya. Setiap atom besi mengikat satu molekul O2 dengan demikian, satu molekul hemoglobin tunggal dapat mengangkut empat molekul-molekul O2, seperti semua pigmen respirasi, hemoglogin berikatan dengan O2 secara reversibel, memuat O2 di dalam paru-paru atau insang, dan melepaskannya di bagian-bagian tubuh yang lain. Proses ini bergantung pada kekompakan di antara subunit-subunit hemoglobin (Campbell, 2008: 83).
                    Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darag merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel-sel darah merah dengan bentuk-bentuk abnormal disebut poikilosit; sel-sel yang lebih kecil disebut mikrosit dan yang lebig besar disebut makrosit. Bila setetes darah diletakan pada aca obyek dan ditutup dengan kaca penutup, sel- sel darah merah bertumpuk-tumpuk mirip tumpukan logam; keadaaan ini disebut formasi rouleaux (Bajpai, 2002).
                    Leukosit berjumlah 5 sampai 10 ribu per mm3 darah. Mereka digolongkan sebagai:
a.     Granulosit: memiliki granula dalam sitoplasma (60-70% jumlah total leukosit). Tipe granulosit adalah sebagai berikut:
1.       Neutrofil atau polimorf: (60 sampai 65% jumlah total leukosit). Mereka terpulas lemah, baik untuk zat warna asam dan basa
2.       Eosinofil: (1 sampai 7%) juga disebut asidofil, granula terpulas merah dengan zat warna seperti eosin.
3.       Basofil: (0.5 sampai 2%). Granula terpulas biru dengan zat warna basa seperti biru metilen atau hematoksilin
b.         Agranulosit: tanpa granula dalam sitoplasma (30 samapi 40% jumlah total leukosit). Tipe granulosit adala sebagai berikut:
1.          Limfosit
2.          Monosit (Bajpai, 2002).
 
Lingkungan dingin menimbulkan beberapa masalah bagi semua organisme hidup, terutama golongan hewan poikilotemik. Efek dari suhu rendah pada kinerja sebagian besar jenis hewan poikilotemik yaitu ditentukan oleh sejauh mana kegiatan tubuh dalam mengurangi suhu tubuhnya dan mengurangi laju reaksi biokimia yang terjadi. Proses-proses molekuler yang mendasari suatu fungsi sel normal, seperti protein dan membran integritas, yang memiliki hubungan erat dengan sifiat seluler seperti homeostasis dan aktivitas lanjutan sel  (Hayward et al, 2014).
Seperti diketahui, hasil metabolisme organisme memiliki rentang sempit kondisi fisik dan kimia internal. Banyak mekanisme yang memiliki fungsi untuk menjaga ketetapan internal relatif bahkan ketika ada perubahan besar di lingkungan sekitarnya (homeostasi). Homeostasis tergantung pada kemampuan organisme untuk merespons lingkungan dengan mengubah metabolismenya. Namun, mekanisme kehilangan panas tubuh dan sel-sel individual ternyata berbeda. Sperti diketahui, aliran panan eksternal dari tubuh dilakukan dengan cara radiasi, konduksi , konveksi dan penguapan air (Ibraimov, 2017).
Kandungan eritrosit dalam darah mengandung sebuah pigmen yang berfungsi mengikat oksigen. Hal inilah yang mendasari keadaan di lingkungan dingin memiliki jumlah eritrosit yang banyak. Hemoglobin (Hb) biasanya diukur sebagai bagian dari jumlah darah lengkap dari sampel darah. Hemoglobin berperan penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan periferal lain dari tubuh dan menukar oksigen untuk karbon dioksida dan kemudian membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru di mana ia menukar oksigen. Hemoglobin terdiri dari empat molekul protein, yang disebut rantai globulin; Setiap rantai globulin mengandung struktur pusat penting yang disebut molekul heme. Tertanam dalam molekul heme adalah besi yang sangat penting dalam mengangkut oksigen dan karbon dioksida dalam darah kita. Besi yang terkandung dalam hemoglobin bertanggung jawab atas warna merah darah. Jika kadar hemoglobin melewati batas kritis maka masalah terjadi seperti anemia pada hemoglobin dan polisitemia rendah pada tingkat hemoglobin yang tinggi. Beberapa metode digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin total dalam darah (Doshi, 2013).
Hemoglobin (Hb) adalah protein tetramik dalam  eritrosit yang terdiri atas  dua alfa (141 residu) dan dua rantai beta (146 residu), membentuk α2β2 heterotetramer 64 kDa. Setiap subunit menyimpan heme di tengahnya
yang bertanggung jawab atas kemampuan pengikatan oksigennya. Meski sering dipandang semata-mata sebagai protein pengangkut oksigen, Hb memiliki kaya akan zat kimia yang berkaitan dengan reaktivitas atom besi pada kelompok heme. (Chanake,  2017).
Berdasarkan tingkat penderita hemoglobin dikategorikan mengalami anemia ringan, sedang atau berat. Anemia ringan (pasien laki-laki 12-12,9 gm / dl & pasien wanita 11-11,9 gm / dl), anemia sedang (pasien pria 9-11,9 gm / dl & pasien wanita 8 -10,9 gm / dl) dan anemia berat (pasien laki-laki < 9gm / dl & pasien wanita <8 gm / dl) (Kalasker, 2014).
Polistemia. Berbeda dari anemia, ditandai dengan oleh SDM dalam darah yang terlalu banyak dan peningkatan hematokrit. Terdapat dua jenis umum polistemia, bergantung pada keadaan yang memicu produksi SDM berlebihan, polistemia primer dan polistemia sekunder. Polistemia Primer disebabkan oleh penyakit, mirip tumor di sumsum tulang belakang di mana eritropoliesis berlangsung dengan kecepatan berlebihan tak terkendalai dan tidak dapat diatur oleh mekanisme-mekanisme yang secara normal mengatur eritropoietrin. Polistemia sekunder, sebaliknya. Adalah mekanisme adaptif yang sesuai yang dipicu oleh eritropoietrin untuk memperbaiki kemampan darah mengangkut O2 sebagai respons terhadap penurunan berkepanjangan penyaluran O2 ke jaringan. Hal ini terjadi secara normal pada orang yang tinggal di tempat tinggi, di mana O2 yang tersedia di udara atmosfer lebih sedikit, atau orang yang penyaluran O2 nya ke jaringan terganggu oleh penyakit paru kronik atau gagal jantung (Sherwood, 2014).
Leukosit (Sel darah putih atau SDP) adalah satuan mobile pada sistem pertahanan imun tubuh. Imunitas adalah kemampuan tubuh menahan atau menyingkirkan benda asing. Berikut beberapa fugsi dari leukosit yaitu: 1). Neutrofil adalah spesialis fagositik 2). Eosinofil merupakan spesies jenis lain. Peninfkatan eosinofil dalam darah (eosinofilia) berkaitan dengan keadaan alergik (misalnya asma dan hay fever) 3). Basofil adalah leukosit yang paling sedikit dan paling kurang dipahami. Sel ini secara struktur dan fungsi cukup mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tetapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh (Sherwood, 2014).
Leukosit dan turunan-turunannya, bersama dengan berbagai protein plasma, membentuk sistem imun, suatu sistem pertahanan internal yang mengenali dan menghancurkan atau menetralkan benda-benda dalam tubuh yang asing bagi “diri normal”. Secara spesifik, sistem imun  (1) mempertahankan tubuh dari patogen penginvasi (mikroorganisme penyebab penyakit misalnya bakteri dan virus); (2) mengidentifikasi dan menghancrkan sel kanker yang timbl di tubuh; (3) berfungsi sebagai “petugas kebersihan” yang membersihkan sel-sel tua (misalnya sel darah merah yang sudah uzur) dn sisa jaringan (misalnya jaringan yang rusak akibat trauma atau penyakit) yang terakhir ini esensial bagi penyembuhan luka dan perbaikan jaringan (Sherwood, 2014).
 
 
METODE PENELITIAN
                    Percobaan “Menghitung Eritrosit dan Leukosit Hewan Poikilotermik dan Homoiotermik” memiliki tujuan yang sama dengan judul percobaan, yaitu untuk menghitung eritrosit dan leukosit pada hewan yang tergolong poikilotermik dan tergolong homoiotermik. hewan yang tergolong poikilotermik pada percobaan ini menggunakan kadal (Mabouya multifasciata) dan hewan yang tergolong homoiotermik adalah mencit (Mus musculus).
                    Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemocitometer yang terdiri atas pipet dan keping kaca, pipet terbagi atas dua macam yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Hemocitometer berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menghitung jumlah sel yang ada di eritrosit dan leukosit kedua jenis hewan tersebut. Hemocitometer ini terbagi atas pipet dan keping kaca. Ada dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah (yang memiliki tanda sel butiran darah merah) dan pipet untuk sel darah putih (yang bertanda butiran darah putih). Mikroskop digunakan untuk melihat banyaknya jumlah sel darah merah maupun sel darah putih yag terdapat di dalam setiap petak yang akan diamati di hemocitometer. Kaca penutup berfungsi sebagai penutup dari bagian hemocitometer yang akan diamati di mikroskop serta alat bedah yang berfungsi untuk membedah bagian dari kadal dan mencit untuk diambil bagian darahnya.
                    Bahan yang digunakan yaitu larutan hayem, larutan turk dan hewan coba (kadal dan mencit). Larutan hayem digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit sedangkan larutan turk untuk menghitung jumlah leukosit. Kloroform untuk membius hewan uji yaitu kadal agar memudahkan dalam melakukan pembedahan.
                    Prosedur kerja secara sistematis diawali dengan membunuh hewan uji yaitu kadal dan marmut. Kadal dibius terlebih dahulu menggunakan kloroform. Sedangkan marmut dibunuh dengan dilakukan dislokasi leher. Kemudian membedah bagian tubuh dari kedua hewan tersebut sehingga tampak jantung dan pembuluh darah besar. Menusuk salah satu pembuluh darah sehingga darah keluar. Setelah itu, darah yang keluar tersebut dengan pipet darah merah/pipet darah putih disesuaikan dengan sel darah yang akan diamati. Menghisap darah sampai tanda 0.5 setelah itu segera memasukkan pipet tersebut ke dalam masing-masing larutan. Bagi yang akan melakukan pengamatan menghitung sel darah merah (eritrosit) akan menggunakan larutan hayem, larutan hayem dihisap hingga mencapai angka 101. Sedangkan, apabila yang diamati adalah leukosit maka menggunakan larutan turk. Larutan turk yang dihisap berbeda jumlahnya dengan larutan hayem yaitu hanya mencapai angka 11 saja.
Mengkocok pipet yang berisi darah dengan masing-masing larutan (larutan hayem atau larutan turk) kira-kira selama 3 menit, mengkocoknya dengan gerakan membentuk angka delapan. Setelah selesai 3 menit melakukan pengocokan, menyentuhkan ujung pipet pada bagian ruangan udara hemocitometer yang telah ditutup menggunakan kaca penutup. Setelah semua bagian dari hemocitometer terisi larutan, akan dilakukan pengamatan di bawah mikroskpo dengan cara menghitung sel darah merah atau sel darah putih dalam petak. 
                    Perhitungan sel darah putih (leukosit) dilakukan di petak-petak bagian tepi yaitu hanya terdapat 4 petak saja, sedangkan perhitungan sel darah merah (eritrosit) menghitung jumlah sel darahnya yaitu di bagian tengah petak yang terdapat 5 petak.
                    Dalam perhitungan jumlah sel darah merah/ eritrosit menggunakan rumus:

 
 

Nx10.000
 

               

Begitupun dengan perhitungan jumlah sel darah putih/ leukosit juga terdapat rumus dalam menentukan jumlahnya. Rumus tersebut yaitu:

Nx50
 

















HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari percobaan menentuka jumah erirosit dan leukosit hewan poikilotermik dan homoiotermik dapat dilihat di tabel hasil pengamatan dibawah ini.





Kelompok
Poikilotermik
Homoiotermik
Leukosit
Eritrosit
Leukosit
Eritrosit
1

5.040.000


2



10.360.000
3


7.400

4
4.350



5

6.610.000


               


Berdasarkan tabel hasil pengamatan diatas. Kelompok 1 mengamati eritrosit pada hewan poikilotermik yaitu kadal (Mabouya multifasciata) dan diperoleh jumlah eritrosit sebanyak 5.040.000.  Kelompok  2 menghitung jumlah eritrosit pada hewan homoiotermik yaitu mencit (Mus musculus) dan  telah diperoleh jumlah eritrosit sebanyak 10.360.000. kelompok 3 mengamati jumlah leukosit pada hewan poikilotermik dan didapatkan hasil sebanyak 7.400 sedangkan kelompok 4 mengamati jumlah leukosit pada hewan homoiotermik dan diperoleh hasil sebanyak 4.350. kelompok 5 mengamati jumlah eritrosit pada hewan poikilotermik sama seperti kelompok 1 dan didapatkan sebanyak 6.610.000.
Darah merupakan sejenis jaringan ikat yang sel-selnya tertahan dan dibawa dalam matrik cairan (plasma). Sel darah adalah semua sel dalam segala bentuk yang secara normal ditemukan dalam darah. Pada mamalia, sel-sel darah dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: 1). Sel darah merah atau eritrosit, fungsi utama adalah untuk mengangkut oksigen 2). Sel darah putih atau leukosit, menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi 3). Keping darah berperan dalm koagulasi darah.
Eritrosit disebut juga sebagai sel darah merah. Warna merah pada eritrosit disebabkan oleh adanya hemoglobin. Hemoglobin tersusun dari senyawa besi hemin dan suatu jenis protein, yaitu globin. Peranan utama eritrosit adalah sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh


tubuh. Peranan lain eritrosit adalah menjaga keseimbangan asam-basa cairan darah dan juga mengangkut O2 di dalam tubuh. Setiap molekul hemoglobin (Hb) mengandung 4 atom besi dan setiap atom besi dapat mengangkut 1 molekul oksigen (O2). Molekul-molekul oksigen tersebut diangkut oleh Hb dalam bentuk oksihemoglobin.
Jumlah eritrosit pada hewan dan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis kelamin, umur dan adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan. Pada umumnya hewan jantan memiliki jumlh eritrosit lebih banyak dari pada hewan betina. Misalnya pada manusia jumlah eritrosit pria sekitar 5 juta per mm3 dan ertitrosit wanita dewasa kurang lebih 4.5 juta per mm3 dan jumlah leukosit rata-rata 11000/mm3. Pembentukan eritrosit terjadi di dalam sumsum tulang pipih (tulang belakang) dan tulang pipa. Umur eritrosit rata-rata 120 hari, setelah itu akan dihancurkan di dalam limpa dan hati.
                Leukosit atau sel darah putih tidak mengandung pigmen, diameternya rata-rata lebih besar daripada eritrosit, yaitu berkisar antara 8 sampai 15 mikron dan masing-masing mengandung inti sel. Pembentukan leukosit terjadi pada limfa, kelenjar-kelenjar limfoid, dan sumsum merah pada tulang.
                Leukosit dikelompokkan berdasarkan keberadaan butiran-butiran yang terdapat pada cairan selnya menjadi agranulosit, yaitu leukosit yang tidak memiliki butiran-butiran sehingga cairan sel jernih, tetapi memiliki satu inti yang besar. Jenis sel darah putih ini dihasilkan oleh jaringan-jaringan limfoid dan dapat dibedakan menjadi limfosit dan monosit. Bentuk leukosit lain adalah granulosit, pada cairan sel terdapat butiran-butiran yang menyerap zat warna tertentu dan inti sel berlekuk-lekuk. Granulosit dihasilkan oleh sumsum merah pada tulang dan dapat dibeda-bedakan lagi berdasarkan kemampuannya menyerap zat warna menjadi neutrofil, eosinofil, dan basofil.
a.     Limfosit mengandung sedikit cairan sel dan mempunyai sifat amuboid sehingga dapat keluar dari pembuluh darah. Jenis sel darah putih ini sangat berperan dalam melawan bakteri penyebab penyakit karena kemampuannya untuk menghasilkan zat-zat antibodi.
b.     Monosit mengandung banyak cairan sel dan bersifat fagosit terhadap bakteri. Jumlahnya menempati urutan ketiga paling banyak setelah neutrofil dan limfosit.
c.     Neutrofil merupakan jenis leukosit yang paling banyak, yaitu antara 65 sampai 705 dari seluruh jumlah leukosit. Bentuk intinya beraneka ragam dan pada cairan sel terdapat butiran-butiran yang menyerap zat warna netral Neutrofil bersifat amuboid dan fagosit.
d.     Eosinofil memiliki inti yang terdiri dari dua belahan dan butiran-butiran pada cairan selnya dapat menyerap zat warna eosin yang bersifat asam. Eosinofil bergerak lambat dan bersifat fagosit terhadap partikel-partikel asing di sekitarnya. Jumlah eosinofil meningkat pada keadaan alergi, misalnya asma dan infeksi cacing tambang.
e.     Basofil memiliki inti yang berbentuk seperti huruf S, butiran-butiran pada cairan selnya dapat menyerap zat warna yang bersifat basa. Geraknya lambat dan peranannya masih belum jelas.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemocitometer yang terdiri atas pipet dan keping kaca, pipet terbagi atas dua macam yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Hemocitometer berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menghitung jumlah sel yang ada di eritrosit dan leukosit kedua jenis hewan tersebut. Hemocitometer ini terbagi atas pipet dan keping kaca. Ada dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah (yang memiliki tanda sel butiran darah merah) dan pipet untuk sel darah putih (yang bertanda butiran darah putih). Mikroskop digunakan untuk melihat banyaknya jumlah sel darah merah maupun sel darah putih yag terdapat di dalam setiap petak yang akan diamati di hemocitometer. Kaca penutup berfungsi sebagai penutup dari bagian hemocitometer yang akan diamati di mikroskop serta alat bedah yang berfungsi untuk membedah bagian dari kadal dan mencit untuk diambil bagian darahnya.
Bahan yang digunakan yaitu larutan hayem, larutan turk dan hewan coba (kadal dan mencit). Larutan hayem digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit sedangkan larutan turk untuk menghitung jumlah leukosit. Kloroform untuk membius hewan uji yaitu kadal agar memudahkan dalam melakukan pembedahan.
Setelah dilakukan percobaan pengamatan, telah diperoleh hasil pengmatan yang sesuai dengan tabel di atas. Perhitungan jumlah eritrosit dan leukosit menggunakan rumus yaitu:
Perhitungan jumlah sel darah merah/ eritrosit

     Nx10.000
 

               

Begitupun dengan perhitungan jumlah sel darah putih/ leukosit juga terdapat rumus dalam menentukan jumlahnya. Rumus tersebut yaitu:

Nx50
 



Diketahui N merupakan jumlah keseluruhan sel dari petak yang diamati.
               
                Jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan-hewan poikilotermik dan homoiotermik yang digunakan sebagai percobaan sudah sesuai dengan teori, hewan homoiotermik lebih banyak jumlah eritrositnya dibandingkan dengan hewan poikilotermik, hal ini dikarenakan adaptasi hewan homoiotermik terhadap lingkungannya lebih membutuhkan banyak eritrosit. Di dalam eritrosit terdapat pigmen yaitu hemoglobin yang berperan dalam mengikat lebih banyak oksigen. Seperti yang telah diketahui bahwasanya, hewan homoiotermik merupakan hewan yang suhu tubuhnya tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Sehingga akan membutuhkan lebih banyak eritrosit di dalam tubuhnya.
                Jumlah leukosit yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah akan menyebabkan gangguan atau penyakit yang akan menyerang tubuh.  Apabila jumlah leukosit didalam tubuh suatu makhluk hidup atau hewan tertentu diatas normal maka akan  menyebabkan suatu  penyakit leukimia karena produksi sel darah putih secara terus-menerus, sehingga jumlah sel darah putih lebih tinggi daripada jumlah sel darah merah. Sedangkan apabila jumlah leukosit didalam tubuh rendah, maka akan menyebabkan terjadinya leukopenia, yaitu tubuh sangat rentan terhadap berbagai macam infeksi dan serangan virus ataupun penyakit, hal ini sesuai dengan peran leukosit yaitu sebagai pertahanan tubuh terhadap benda-benda asing.
                Begitupun dengan jumlah eritrosit di dalam tubuh, apabila jumlah terlalu banyak atau terlalu sedikit akan menyebabkan penyakit yang menyerang tubuh penderita. Apabila jumlah eritosit terlalu tinggi maka akan menyebabkan penyakit polistemia yang berpengaruh terhadap jantung dan metabolisme tubuh. Polisitimea adalah sebuah kondisi yang terjadi karena kandungan eritrosit terlalu tinggi dalam tubuh yang ditandai dengan kondisi darah akan menjadi sangat kental dan tidak bisa beredar ke semua bagian tubuh dengan baik. hal tersebut juga sama halnya apabila jumlah eritrosit terlalu rendah atau sedikit juga akan menyebabkan penyakit yaitu anemia, anemia ini merupakan suatu kondisi eritrosit berada dibawah batas normal. Anemia ini akan mengakibatkan transportasi sel darah merah akan terganggu dan jaringan tubuh si penderita akan mengalami kekurangan oksigen.
               
                Perbedaan jumlah eritrosit maupun leukosit pada makhluk hidup dipengaruhi oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor umur, aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh, jenis kelamin, posisi tubuh dan juga adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan. Umur dapat mempengaruh jumlah eritrosit karena antar umur yang tua dan muda akan memiliki jumlah eritrosit yang berbeda. Di mana di atas 25 tahun, eritrosit akan mengalami penurunan hingga usia tua. Jenis kelamin, antara pria dan wanita akan memiliki jumlah eritrosit yang berbeda, pada wanita jumlahnya lebih sedikit yaitu sekitar 4,5 juta/mm3, sedangkan pada laki-laki sekitar 5 juta/mm3, hal ini disebabkan karena lelaki melakukan sistem metabolisme tubuhnya lebih besar daripada wanita. Aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh juga turut mempengaruhi, karena semakin sering atau aktif kita bergerak maka akan membutuhkan lebih banyak energi yang dikeluarkan sehingga oksigen yang diperlukan juga semakin banyak untuk proses metabolisme yang mengakibatkan meningkatnya kadar hemoglobin, apabila eritrosit meningkat maka kadar hemoglobin juga akan mengalami peningkatan. Posisi tubuh juga akan mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit, misalnya ketinggian tempat yang ditinggalinya, akan memberikan pengaruh karena pada umumnya hewan atau manusia yang beradaptasi di lingkungan oksigen rendah maka akan meningkatkan jumlah eritrosit dan leukositnya untuk beradaptasi.


KESIMPULAN

Perhitungan eritrosit dan leukosit menggunakan alat yaitu hemocitometer. Untuk perhitungan jumlah sel-selnya menggunakan dua rumus yang berbeda antara eritrosit dan leukosit.
Terdapat perbedaan jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan poikilotermik dan homoiotermik. perbedaan jumlah ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor umur, aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh, jenis kelamin, posisi tubuh dan juga adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan














































DAFTAR PUSTAKA



Bajpai.2002. Histologi Dasar Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia,
Campbell, Reece, et al. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Chanake, et al. 2017. Fetal hemoglobin is much less prone to DNA cleavage compared to the adult protein. Redox Biology Journal Vol. 12: 114-120.
Doshi, Rajashree dan Anagha Panditrao, 2013. Optical Sensor System for Hemoglobin Measurement. International Journal of Computational Engineering Research Vol. 3 (7): 41-45.
Hayward, Scott A. L, Bruno Mnso and Andrew R. Cossins. 2014. Molecolar basis of chill resistance adaptations in poikilothermic animals. Journal of Experimental Biology Vol.217: 6-15.
Ibraimov, A. I. 2017. Cell Thremoregulation: Problems, Advances and Perspectives. Journal of Molecular Biology Research Vol. 7(1): 58-79.
Kalasker, Vishal, et al. 2014. Effect of Iron Deficiency Anemia on Glycosylated Hemoglobin Levels in Non Diabetic Indian Adults. International Journal of Medical and Health Sciences Vol. 3 (1): 40-43.
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira. Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem  Edisi 6. Jakarta: EGC



Mari Berbagi!

  SOAL BIOLOGI #PART 1 1.       Berikut ini adalah lima pokok data ilmiah: 1.       Hasil eksperimen 2.       Merumuskan masalah 3.   ...