Senin, 05 November 2018

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Peranan Eritrosit dan Leukosit


PERANAN ERITROSIT DAN LEUKOSIT PADA HEWAN HOMOIOTERMIK MENCIT (Mus musculus) DAN POIKILOTERMIK KADAL (Mabouya multifasciata) SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Arina Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121

ABSTRAK
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Komposisi darah terdiri atas tiga bagian yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Kadar eritrosit dan leukosit antar hewan berbeda-beda, misalnya pada kadal yang tergolong hewan poikilotermik dan mencit yang tergolong hewan homoiotermik. Oleh karena itu, percobaan ini bertujuan untuk menghitung eritrosit dan leukosit hewan poikilotermik dan homoiotermik. Alat yang digunakan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit adalah hemocitometer yang terdiri atas dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan hayem untuk eritrosit dan turk untuk leukosit dan aquades. Pada mencit dilakukan dislokasi leher terlebih dahulu sebelum dilakukan pengamatan, sedangkan kadal dibius dengan menggunakan kloroform. Kemudian darah diambil dengan pipet yang dibedakan antara eritrosit dan leukositnya, diberikan larutan yang telah ditentukan. setelah itu, diamati di mikroskop untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit. Dalam menghitung jumlah eritosit menggunakan rumus Nx10.000 sedangkan menghitung leukosit menggunakan rumus Nx50.

Kata kunci : Darah, eritrosit, leukosit, poikilotermik, homoiotermik
                                                                          

PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Pigmen respirasi yang terdapat pada hampir semua vertebrata dan banyak invertebrata adalah hemoglobin. Pada vertebrata, hemoglobin terkandung di dalam eritrosit. Hemoglobin vertebrata terdiri dari empat subunit (rantai-rantai polipeptida), masing-masing dengan satu kofaktor yang disebut gugus heme (heme group) yang mengandung satu atom besi di pusatnya. Setiap atom besi mengikat satu molekul O2 dengan demikian, satu molekul hemoglobin tunggal dapat mengangkut empat molekul-molekul O2, seperti semua pigmen respirasi, hemoglogin berikatan dengan O2 secara reversibel, memuat O2 di dalam paru-paru atau insang, dan melepaskannya di bagian-bagian tubuh yang lain. Proses ini bergantung pada kekompakan di antara subunit-subunit hemoglobin (Campbell, 2008: 83).
                    Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darag merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel-sel darah merah dengan bentuk-bentuk abnormal disebut poikilosit; sel-sel yang lebih kecil disebut mikrosit dan yang lebig besar disebut makrosit. Bila setetes darah diletakan pada aca obyek dan ditutup dengan kaca penutup, sel- sel darah merah bertumpuk-tumpuk mirip tumpukan logam; keadaaan ini disebut formasi rouleaux (Bajpai, 2002).
                    Leukosit berjumlah 5 sampai 10 ribu per mm3 darah. Mereka digolongkan sebagai:
a.     Granulosit: memiliki granula dalam sitoplasma (60-70% jumlah total leukosit). Tipe granulosit adalah sebagai berikut:
1.       Neutrofil atau polimorf: (60 sampai 65% jumlah total leukosit). Mereka terpulas lemah, baik untuk zat warna asam dan basa
2.       Eosinofil: (1 sampai 7%) juga disebut asidofil, granula terpulas merah dengan zat warna seperti eosin.
3.       Basofil: (0.5 sampai 2%). Granula terpulas biru dengan zat warna basa seperti biru metilen atau hematoksilin
b.         Agranulosit: tanpa granula dalam sitoplasma (30 samapi 40% jumlah total leukosit). Tipe granulosit adala sebagai berikut:
1.          Limfosit
2.          Monosit (Bajpai, 2002).
 
Lingkungan dingin menimbulkan beberapa masalah bagi semua organisme hidup, terutama golongan hewan poikilotemik. Efek dari suhu rendah pada kinerja sebagian besar jenis hewan poikilotemik yaitu ditentukan oleh sejauh mana kegiatan tubuh dalam mengurangi suhu tubuhnya dan mengurangi laju reaksi biokimia yang terjadi. Proses-proses molekuler yang mendasari suatu fungsi sel normal, seperti protein dan membran integritas, yang memiliki hubungan erat dengan sifiat seluler seperti homeostasis dan aktivitas lanjutan sel  (Hayward et al, 2014).
Seperti diketahui, hasil metabolisme organisme memiliki rentang sempit kondisi fisik dan kimia internal. Banyak mekanisme yang memiliki fungsi untuk menjaga ketetapan internal relatif bahkan ketika ada perubahan besar di lingkungan sekitarnya (homeostasi). Homeostasis tergantung pada kemampuan organisme untuk merespons lingkungan dengan mengubah metabolismenya. Namun, mekanisme kehilangan panas tubuh dan sel-sel individual ternyata berbeda. Sperti diketahui, aliran panan eksternal dari tubuh dilakukan dengan cara radiasi, konduksi , konveksi dan penguapan air (Ibraimov, 2017).
Kandungan eritrosit dalam darah mengandung sebuah pigmen yang berfungsi mengikat oksigen. Hal inilah yang mendasari keadaan di lingkungan dingin memiliki jumlah eritrosit yang banyak. Hemoglobin (Hb) biasanya diukur sebagai bagian dari jumlah darah lengkap dari sampel darah. Hemoglobin berperan penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan periferal lain dari tubuh dan menukar oksigen untuk karbon dioksida dan kemudian membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru di mana ia menukar oksigen. Hemoglobin terdiri dari empat molekul protein, yang disebut rantai globulin; Setiap rantai globulin mengandung struktur pusat penting yang disebut molekul heme. Tertanam dalam molekul heme adalah besi yang sangat penting dalam mengangkut oksigen dan karbon dioksida dalam darah kita. Besi yang terkandung dalam hemoglobin bertanggung jawab atas warna merah darah. Jika kadar hemoglobin melewati batas kritis maka masalah terjadi seperti anemia pada hemoglobin dan polisitemia rendah pada tingkat hemoglobin yang tinggi. Beberapa metode digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin total dalam darah (Doshi, 2013).
Hemoglobin (Hb) adalah protein tetramik dalam  eritrosit yang terdiri atas  dua alfa (141 residu) dan dua rantai beta (146 residu), membentuk α2β2 heterotetramer 64 kDa. Setiap subunit menyimpan heme di tengahnya
yang bertanggung jawab atas kemampuan pengikatan oksigennya. Meski sering dipandang semata-mata sebagai protein pengangkut oksigen, Hb memiliki kaya akan zat kimia yang berkaitan dengan reaktivitas atom besi pada kelompok heme. (Chanake,  2017).
Berdasarkan tingkat penderita hemoglobin dikategorikan mengalami anemia ringan, sedang atau berat. Anemia ringan (pasien laki-laki 12-12,9 gm / dl & pasien wanita 11-11,9 gm / dl), anemia sedang (pasien pria 9-11,9 gm / dl & pasien wanita 8 -10,9 gm / dl) dan anemia berat (pasien laki-laki < 9gm / dl & pasien wanita <8 gm / dl) (Kalasker, 2014).
Polistemia. Berbeda dari anemia, ditandai dengan oleh SDM dalam darah yang terlalu banyak dan peningkatan hematokrit. Terdapat dua jenis umum polistemia, bergantung pada keadaan yang memicu produksi SDM berlebihan, polistemia primer dan polistemia sekunder. Polistemia Primer disebabkan oleh penyakit, mirip tumor di sumsum tulang belakang di mana eritropoliesis berlangsung dengan kecepatan berlebihan tak terkendalai dan tidak dapat diatur oleh mekanisme-mekanisme yang secara normal mengatur eritropoietrin. Polistemia sekunder, sebaliknya. Adalah mekanisme adaptif yang sesuai yang dipicu oleh eritropoietrin untuk memperbaiki kemampan darah mengangkut O2 sebagai respons terhadap penurunan berkepanjangan penyaluran O2 ke jaringan. Hal ini terjadi secara normal pada orang yang tinggal di tempat tinggi, di mana O2 yang tersedia di udara atmosfer lebih sedikit, atau orang yang penyaluran O2 nya ke jaringan terganggu oleh penyakit paru kronik atau gagal jantung (Sherwood, 2014).
Leukosit (Sel darah putih atau SDP) adalah satuan mobile pada sistem pertahanan imun tubuh. Imunitas adalah kemampuan tubuh menahan atau menyingkirkan benda asing. Berikut beberapa fugsi dari leukosit yaitu: 1). Neutrofil adalah spesialis fagositik 2). Eosinofil merupakan spesies jenis lain. Peninfkatan eosinofil dalam darah (eosinofilia) berkaitan dengan keadaan alergik (misalnya asma dan hay fever) 3). Basofil adalah leukosit yang paling sedikit dan paling kurang dipahami. Sel ini secara struktur dan fungsi cukup mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tetapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh (Sherwood, 2014).
Leukosit dan turunan-turunannya, bersama dengan berbagai protein plasma, membentuk sistem imun, suatu sistem pertahanan internal yang mengenali dan menghancurkan atau menetralkan benda-benda dalam tubuh yang asing bagi “diri normal”. Secara spesifik, sistem imun  (1) mempertahankan tubuh dari patogen penginvasi (mikroorganisme penyebab penyakit misalnya bakteri dan virus); (2) mengidentifikasi dan menghancrkan sel kanker yang timbl di tubuh; (3) berfungsi sebagai “petugas kebersihan” yang membersihkan sel-sel tua (misalnya sel darah merah yang sudah uzur) dn sisa jaringan (misalnya jaringan yang rusak akibat trauma atau penyakit) yang terakhir ini esensial bagi penyembuhan luka dan perbaikan jaringan (Sherwood, 2014).
 
 
METODE PENELITIAN
                    Percobaan “Menghitung Eritrosit dan Leukosit Hewan Poikilotermik dan Homoiotermik” memiliki tujuan yang sama dengan judul percobaan, yaitu untuk menghitung eritrosit dan leukosit pada hewan yang tergolong poikilotermik dan tergolong homoiotermik. hewan yang tergolong poikilotermik pada percobaan ini menggunakan kadal (Mabouya multifasciata) dan hewan yang tergolong homoiotermik adalah mencit (Mus musculus).
                    Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemocitometer yang terdiri atas pipet dan keping kaca, pipet terbagi atas dua macam yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Hemocitometer berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menghitung jumlah sel yang ada di eritrosit dan leukosit kedua jenis hewan tersebut. Hemocitometer ini terbagi atas pipet dan keping kaca. Ada dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah (yang memiliki tanda sel butiran darah merah) dan pipet untuk sel darah putih (yang bertanda butiran darah putih). Mikroskop digunakan untuk melihat banyaknya jumlah sel darah merah maupun sel darah putih yag terdapat di dalam setiap petak yang akan diamati di hemocitometer. Kaca penutup berfungsi sebagai penutup dari bagian hemocitometer yang akan diamati di mikroskop serta alat bedah yang berfungsi untuk membedah bagian dari kadal dan mencit untuk diambil bagian darahnya.
                    Bahan yang digunakan yaitu larutan hayem, larutan turk dan hewan coba (kadal dan mencit). Larutan hayem digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit sedangkan larutan turk untuk menghitung jumlah leukosit. Kloroform untuk membius hewan uji yaitu kadal agar memudahkan dalam melakukan pembedahan.
                    Prosedur kerja secara sistematis diawali dengan membunuh hewan uji yaitu kadal dan marmut. Kadal dibius terlebih dahulu menggunakan kloroform. Sedangkan marmut dibunuh dengan dilakukan dislokasi leher. Kemudian membedah bagian tubuh dari kedua hewan tersebut sehingga tampak jantung dan pembuluh darah besar. Menusuk salah satu pembuluh darah sehingga darah keluar. Setelah itu, darah yang keluar tersebut dengan pipet darah merah/pipet darah putih disesuaikan dengan sel darah yang akan diamati. Menghisap darah sampai tanda 0.5 setelah itu segera memasukkan pipet tersebut ke dalam masing-masing larutan. Bagi yang akan melakukan pengamatan menghitung sel darah merah (eritrosit) akan menggunakan larutan hayem, larutan hayem dihisap hingga mencapai angka 101. Sedangkan, apabila yang diamati adalah leukosit maka menggunakan larutan turk. Larutan turk yang dihisap berbeda jumlahnya dengan larutan hayem yaitu hanya mencapai angka 11 saja.
Mengkocok pipet yang berisi darah dengan masing-masing larutan (larutan hayem atau larutan turk) kira-kira selama 3 menit, mengkocoknya dengan gerakan membentuk angka delapan. Setelah selesai 3 menit melakukan pengocokan, menyentuhkan ujung pipet pada bagian ruangan udara hemocitometer yang telah ditutup menggunakan kaca penutup. Setelah semua bagian dari hemocitometer terisi larutan, akan dilakukan pengamatan di bawah mikroskpo dengan cara menghitung sel darah merah atau sel darah putih dalam petak. 
                    Perhitungan sel darah putih (leukosit) dilakukan di petak-petak bagian tepi yaitu hanya terdapat 4 petak saja, sedangkan perhitungan sel darah merah (eritrosit) menghitung jumlah sel darahnya yaitu di bagian tengah petak yang terdapat 5 petak.
                    Dalam perhitungan jumlah sel darah merah/ eritrosit menggunakan rumus:

 
 

Nx10.000
 

               

Begitupun dengan perhitungan jumlah sel darah putih/ leukosit juga terdapat rumus dalam menentukan jumlahnya. Rumus tersebut yaitu:

Nx50
 

















HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari percobaan menentuka jumah erirosit dan leukosit hewan poikilotermik dan homoiotermik dapat dilihat di tabel hasil pengamatan dibawah ini.





Kelompok
Poikilotermik
Homoiotermik
Leukosit
Eritrosit
Leukosit
Eritrosit
1

5.040.000


2



10.360.000
3


7.400

4
4.350



5

6.610.000


               


Berdasarkan tabel hasil pengamatan diatas. Kelompok 1 mengamati eritrosit pada hewan poikilotermik yaitu kadal (Mabouya multifasciata) dan diperoleh jumlah eritrosit sebanyak 5.040.000.  Kelompok  2 menghitung jumlah eritrosit pada hewan homoiotermik yaitu mencit (Mus musculus) dan  telah diperoleh jumlah eritrosit sebanyak 10.360.000. kelompok 3 mengamati jumlah leukosit pada hewan poikilotermik dan didapatkan hasil sebanyak 7.400 sedangkan kelompok 4 mengamati jumlah leukosit pada hewan homoiotermik dan diperoleh hasil sebanyak 4.350. kelompok 5 mengamati jumlah eritrosit pada hewan poikilotermik sama seperti kelompok 1 dan didapatkan sebanyak 6.610.000.
Darah merupakan sejenis jaringan ikat yang sel-selnya tertahan dan dibawa dalam matrik cairan (plasma). Sel darah adalah semua sel dalam segala bentuk yang secara normal ditemukan dalam darah. Pada mamalia, sel-sel darah dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: 1). Sel darah merah atau eritrosit, fungsi utama adalah untuk mengangkut oksigen 2). Sel darah putih atau leukosit, menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi 3). Keping darah berperan dalm koagulasi darah.
Eritrosit disebut juga sebagai sel darah merah. Warna merah pada eritrosit disebabkan oleh adanya hemoglobin. Hemoglobin tersusun dari senyawa besi hemin dan suatu jenis protein, yaitu globin. Peranan utama eritrosit adalah sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh


tubuh. Peranan lain eritrosit adalah menjaga keseimbangan asam-basa cairan darah dan juga mengangkut O2 di dalam tubuh. Setiap molekul hemoglobin (Hb) mengandung 4 atom besi dan setiap atom besi dapat mengangkut 1 molekul oksigen (O2). Molekul-molekul oksigen tersebut diangkut oleh Hb dalam bentuk oksihemoglobin.
Jumlah eritrosit pada hewan dan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis kelamin, umur dan adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan. Pada umumnya hewan jantan memiliki jumlh eritrosit lebih banyak dari pada hewan betina. Misalnya pada manusia jumlah eritrosit pria sekitar 5 juta per mm3 dan ertitrosit wanita dewasa kurang lebih 4.5 juta per mm3 dan jumlah leukosit rata-rata 11000/mm3. Pembentukan eritrosit terjadi di dalam sumsum tulang pipih (tulang belakang) dan tulang pipa. Umur eritrosit rata-rata 120 hari, setelah itu akan dihancurkan di dalam limpa dan hati.
                Leukosit atau sel darah putih tidak mengandung pigmen, diameternya rata-rata lebih besar daripada eritrosit, yaitu berkisar antara 8 sampai 15 mikron dan masing-masing mengandung inti sel. Pembentukan leukosit terjadi pada limfa, kelenjar-kelenjar limfoid, dan sumsum merah pada tulang.
                Leukosit dikelompokkan berdasarkan keberadaan butiran-butiran yang terdapat pada cairan selnya menjadi agranulosit, yaitu leukosit yang tidak memiliki butiran-butiran sehingga cairan sel jernih, tetapi memiliki satu inti yang besar. Jenis sel darah putih ini dihasilkan oleh jaringan-jaringan limfoid dan dapat dibedakan menjadi limfosit dan monosit. Bentuk leukosit lain adalah granulosit, pada cairan sel terdapat butiran-butiran yang menyerap zat warna tertentu dan inti sel berlekuk-lekuk. Granulosit dihasilkan oleh sumsum merah pada tulang dan dapat dibeda-bedakan lagi berdasarkan kemampuannya menyerap zat warna menjadi neutrofil, eosinofil, dan basofil.
a.     Limfosit mengandung sedikit cairan sel dan mempunyai sifat amuboid sehingga dapat keluar dari pembuluh darah. Jenis sel darah putih ini sangat berperan dalam melawan bakteri penyebab penyakit karena kemampuannya untuk menghasilkan zat-zat antibodi.
b.     Monosit mengandung banyak cairan sel dan bersifat fagosit terhadap bakteri. Jumlahnya menempati urutan ketiga paling banyak setelah neutrofil dan limfosit.
c.     Neutrofil merupakan jenis leukosit yang paling banyak, yaitu antara 65 sampai 705 dari seluruh jumlah leukosit. Bentuk intinya beraneka ragam dan pada cairan sel terdapat butiran-butiran yang menyerap zat warna netral Neutrofil bersifat amuboid dan fagosit.
d.     Eosinofil memiliki inti yang terdiri dari dua belahan dan butiran-butiran pada cairan selnya dapat menyerap zat warna eosin yang bersifat asam. Eosinofil bergerak lambat dan bersifat fagosit terhadap partikel-partikel asing di sekitarnya. Jumlah eosinofil meningkat pada keadaan alergi, misalnya asma dan infeksi cacing tambang.
e.     Basofil memiliki inti yang berbentuk seperti huruf S, butiran-butiran pada cairan selnya dapat menyerap zat warna yang bersifat basa. Geraknya lambat dan peranannya masih belum jelas.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hemocitometer yang terdiri atas pipet dan keping kaca, pipet terbagi atas dua macam yaitu pipet sel darah merah dan pipet sel darah putih, mikroskop, kaca penutup, pipet tetes dan alat bedah. Hemocitometer berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk menghitung jumlah sel yang ada di eritrosit dan leukosit kedua jenis hewan tersebut. Hemocitometer ini terbagi atas pipet dan keping kaca. Ada dua macam pipet yaitu pipet sel darah merah (yang memiliki tanda sel butiran darah merah) dan pipet untuk sel darah putih (yang bertanda butiran darah putih). Mikroskop digunakan untuk melihat banyaknya jumlah sel darah merah maupun sel darah putih yag terdapat di dalam setiap petak yang akan diamati di hemocitometer. Kaca penutup berfungsi sebagai penutup dari bagian hemocitometer yang akan diamati di mikroskop serta alat bedah yang berfungsi untuk membedah bagian dari kadal dan mencit untuk diambil bagian darahnya.
Bahan yang digunakan yaitu larutan hayem, larutan turk dan hewan coba (kadal dan mencit). Larutan hayem digunakan untuk mengamati jumlah eritrosit sedangkan larutan turk untuk menghitung jumlah leukosit. Kloroform untuk membius hewan uji yaitu kadal agar memudahkan dalam melakukan pembedahan.
Setelah dilakukan percobaan pengamatan, telah diperoleh hasil pengmatan yang sesuai dengan tabel di atas. Perhitungan jumlah eritrosit dan leukosit menggunakan rumus yaitu:
Perhitungan jumlah sel darah merah/ eritrosit

     Nx10.000
 

               

Begitupun dengan perhitungan jumlah sel darah putih/ leukosit juga terdapat rumus dalam menentukan jumlahnya. Rumus tersebut yaitu:

Nx50
 



Diketahui N merupakan jumlah keseluruhan sel dari petak yang diamati.
               
                Jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan-hewan poikilotermik dan homoiotermik yang digunakan sebagai percobaan sudah sesuai dengan teori, hewan homoiotermik lebih banyak jumlah eritrositnya dibandingkan dengan hewan poikilotermik, hal ini dikarenakan adaptasi hewan homoiotermik terhadap lingkungannya lebih membutuhkan banyak eritrosit. Di dalam eritrosit terdapat pigmen yaitu hemoglobin yang berperan dalam mengikat lebih banyak oksigen. Seperti yang telah diketahui bahwasanya, hewan homoiotermik merupakan hewan yang suhu tubuhnya tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Sehingga akan membutuhkan lebih banyak eritrosit di dalam tubuhnya.
                Jumlah leukosit yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah akan menyebabkan gangguan atau penyakit yang akan menyerang tubuh.  Apabila jumlah leukosit didalam tubuh suatu makhluk hidup atau hewan tertentu diatas normal maka akan  menyebabkan suatu  penyakit leukimia karena produksi sel darah putih secara terus-menerus, sehingga jumlah sel darah putih lebih tinggi daripada jumlah sel darah merah. Sedangkan apabila jumlah leukosit didalam tubuh rendah, maka akan menyebabkan terjadinya leukopenia, yaitu tubuh sangat rentan terhadap berbagai macam infeksi dan serangan virus ataupun penyakit, hal ini sesuai dengan peran leukosit yaitu sebagai pertahanan tubuh terhadap benda-benda asing.
                Begitupun dengan jumlah eritrosit di dalam tubuh, apabila jumlah terlalu banyak atau terlalu sedikit akan menyebabkan penyakit yang menyerang tubuh penderita. Apabila jumlah eritosit terlalu tinggi maka akan menyebabkan penyakit polistemia yang berpengaruh terhadap jantung dan metabolisme tubuh. Polisitimea adalah sebuah kondisi yang terjadi karena kandungan eritrosit terlalu tinggi dalam tubuh yang ditandai dengan kondisi darah akan menjadi sangat kental dan tidak bisa beredar ke semua bagian tubuh dengan baik. hal tersebut juga sama halnya apabila jumlah eritrosit terlalu rendah atau sedikit juga akan menyebabkan penyakit yaitu anemia, anemia ini merupakan suatu kondisi eritrosit berada dibawah batas normal. Anemia ini akan mengakibatkan transportasi sel darah merah akan terganggu dan jaringan tubuh si penderita akan mengalami kekurangan oksigen.
               
                Perbedaan jumlah eritrosit maupun leukosit pada makhluk hidup dipengaruhi oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor umur, aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh, jenis kelamin, posisi tubuh dan juga adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan. Umur dapat mempengaruh jumlah eritrosit karena antar umur yang tua dan muda akan memiliki jumlah eritrosit yang berbeda. Di mana di atas 25 tahun, eritrosit akan mengalami penurunan hingga usia tua. Jenis kelamin, antara pria dan wanita akan memiliki jumlah eritrosit yang berbeda, pada wanita jumlahnya lebih sedikit yaitu sekitar 4,5 juta/mm3, sedangkan pada laki-laki sekitar 5 juta/mm3, hal ini disebabkan karena lelaki melakukan sistem metabolisme tubuhnya lebih besar daripada wanita. Aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh juga turut mempengaruhi, karena semakin sering atau aktif kita bergerak maka akan membutuhkan lebih banyak energi yang dikeluarkan sehingga oksigen yang diperlukan juga semakin banyak untuk proses metabolisme yang mengakibatkan meningkatnya kadar hemoglobin, apabila eritrosit meningkat maka kadar hemoglobin juga akan mengalami peningkatan. Posisi tubuh juga akan mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit, misalnya ketinggian tempat yang ditinggalinya, akan memberikan pengaruh karena pada umumnya hewan atau manusia yang beradaptasi di lingkungan oksigen rendah maka akan meningkatkan jumlah eritrosit dan leukositnya untuk beradaptasi.


KESIMPULAN

Perhitungan eritrosit dan leukosit menggunakan alat yaitu hemocitometer. Untuk perhitungan jumlah sel-selnya menggunakan dua rumus yang berbeda antara eritrosit dan leukosit.
Terdapat perbedaan jumlah eritrosit dan leukosit pada hewan poikilotermik dan homoiotermik. perbedaan jumlah ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor umur, aktivitas tubuh atau kegiatan tubuh, jenis kelamin, posisi tubuh dan juga adaptasi hewan terhadap oksigen lingkungan














































DAFTAR PUSTAKA



Bajpai.2002. Histologi Dasar Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia,
Campbell, Reece, et al. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Chanake, et al. 2017. Fetal hemoglobin is much less prone to DNA cleavage compared to the adult protein. Redox Biology Journal Vol. 12: 114-120.
Doshi, Rajashree dan Anagha Panditrao, 2013. Optical Sensor System for Hemoglobin Measurement. International Journal of Computational Engineering Research Vol. 3 (7): 41-45.
Hayward, Scott A. L, Bruno Mnso and Andrew R. Cossins. 2014. Molecolar basis of chill resistance adaptations in poikilothermic animals. Journal of Experimental Biology Vol.217: 6-15.
Ibraimov, A. I. 2017. Cell Thremoregulation: Problems, Advances and Perspectives. Journal of Molecular Biology Research Vol. 7(1): 58-79.
Kalasker, Vishal, et al. 2014. Effect of Iron Deficiency Anemia on Glycosylated Hemoglobin Levels in Non Diabetic Indian Adults. International Journal of Medical and Health Sciences Vol. 3 (1): 40-43.
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira. Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem  Edisi 6. Jakarta: EGC



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Berbagi!

  SOAL BIOLOGI #PART 1 1.       Berikut ini adalah lima pokok data ilmiah: 1.       Hasil eksperimen 2.       Merumuskan masalah 3.   ...