PERBEDAAN
TINGKAT KEPEKATAN MEDIUM TERHADAP BENTUK ERITROSIT PADA HEWAN POIKILOTERMIK DAN
HEWAN HOMOIOTERMIK
Arina
Firdausi Nur Ardhan
150210103102
Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
Jln
Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember Jawa Timur 68121
Email
: arinafirdausi16@gmail.com
ABSTRAK
Darah
adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat
tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut
bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh
terhadap virus
atau bakteri. Komposisi darah terdiri atas tiga
bagian yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan
keping-keping darah (trombosit). Struktur
eritrosit normal adalah tidak memiliki inti dan berbentuk lempeng bikonkaf
dengan diameter kira-kira 7-8 mikrometer dengan ketebalan 2,5 mikrometer pada
bagian paling tebal serta 1 mikrometer atau kurang pada bagian tengahnya.
Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler,
hal tersebut disebabkan karena eritrosit memiliki toleransi osmotik yang
berbeda. Berdasarkan pernyataan sebelumnya, eritrosit pada hewan poikilotermik
dan hewan homoiotermik memiliki toleransi osmotik yang berbeda terhadapa
berbagai tingkat kepekatan medium. Oleh karena itu, tujuan dari percobaan ini
adalah untuk mengetahui besarnya toleransi eritrosit hewan poikilotermik dan
homoiotermik terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Alat yang digunakan
adalah mikroskop, kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, papan dan alat seksio
serta gelas piala. Sedangkan bahan yang digunakan adalah garam fisiologis 0.7%
NaCl, 0.9% NaCl, aquadest dan berbagai larutan garam dapur dengan berbagai
konsentrasi. Bentuk
sel eritrosit dipengaruhi oleh berbagai kepekatan medium. Pada larutan isotonis
akan berbentuk normal (tidak ada perubahan), pada hewan poikilotermik larutan
hipotonisnya 0.7% NaCl, sedangkan hewan homoiotermik larutan isotonisnya adalah
0.9% NaCl. Aquades bersifat hipotonis yang menyebabkan lisis, NaCl 1% bersifat
hipertonis yangn menyebabkan krenasi. Pada praktikum ini, semua hasil yang
diperoleh sesuai dengan teori.
Kata
kunci : Darah, eritrosit, poikilotermik, homoiotermik, osmotik
PENDAHULUAN
Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang
disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada
gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi tertutup.
Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel darah merah),
leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Mescher, 2010).
Darah
memiliki dua komponen utama - plasma dan elemen terbentuk. Hampir segala
sesuatu yang membawa darah, seperti nutrisi, hormon dan limbah, dilarutkan
dalam plasma, yang sebagian besar air. unsur terbentuk, yang merupakan sel dan
bagian dari sel, juga mengapung dalam plasma. unsur terbentuk termasuk sel-sel
darah putih (leukosit), yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, dan
trombosit, yang membantu membentuk gumpalan. Sel darah merah (sel darah merah)
bertanggung jawab untuk satu tugas darah yang paling penting - membawa oksigen
dan karbon
dioksida (Neelam, et al 2015).
Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darah merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel-sel darah merah dengan bentuk-bentuk abnormal disebut poikilosit; sel-sel yang lebih kecil disebut mikrosit dan yang lebih besar disebut makrosit. Bila setetes darah diletakan pada kaca obyek dan ditutup dengan kaca penutup, sel- sel darah merah bertumpuk-tumpuk mirip tumpukan logam; keadaaan ini disebut formasi rouleaux (Bajpai, 2002).
Enzim sel darah merah seperti sel lain pada umumnya memiliki membran sel yang dapat memiliki berfungsi bermacam terhadap sel darah itu sendiri. Salah satu fungsi membran sel sebagai barier semipermeabel yang memungkinkan molekul berukuran kecil dapat keluar masuk keadalam sel. Hasil pengamatan mikroskop elektron terhadap membran sel menunjukan bahwa membran sel merupakan lipid bilayer. Penyusun utamanya adalah fosfolipid yang terdiri dari bagian kepala yang polar (hidrofilik) dan ekor non-polar (hidrofobik). Fosfolipid ini tersusun atas bagian nonpolar yang membentuk daerah hidrofobik yang diapit oleh daerah kepala pada bagian dalam dan luar membran (Alakomi, 2007).
Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan memiliki karakteristik yang berbeda pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi yang berbeda bergantung pada permeabilitas membran sel terhadap lingkungannya. Pada kondisi larutan yang hipotonis seperti larutan NaCl dengan konsentrasi NaCl 0.4%sel umumnya akan mengalami lisis. Pada kondisi larutan NaCl 0.9%, larutan dikatakan isotonis dengan eritrosit. Sedangkan pada larutan dengan kondisi hipertonik seperti pada NaCl 1.8%, eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya (McGill, 2013).
Tekanan osmotik berarti sebuah lorong/ tempat air dari yang berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermeabel ke daerah yang berkonsentrasi rendah (misalnya NaCl). Hal utama dalam tekanan osmotik adalah tranportasi pada larutan (sringkali air murni dan air garam), terpisah dengan filter khusus yaitu sebuah membran yang disebut membran semipermeabel. Membran semipermeabel adalah filter organik dengan lubang yang sangat kecil. Membran tersebut hanya akan memungkinkan molekul kecil seperti molekul air yang mampu melewatinya. Lapisan tipis dari membran semipermeabel itulah yang menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan osmotik (Adokar, 2013).
Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup, misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika meletakan sel darah merah dalam suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darah akan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu meletakan sel darah merah dalam suatu larutan yang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari larutan tersebut akan ditarik masuk kedalam sel darah sehingga sel mengembang dan pecah. Proses ini disebut hemolisis (Isnaeni, 2006).
Osmosis adalah proses
pergerakan molekul air dari larutan dengan konsentrasi rendah menuju larutan
dengan konsentrasi tinggi melalui membran semipermeable (selektif permeable).
Keadaan membran sel dan kapiler permeabel terhadap air sehingga kadarnya sama.
Membran semipermeable adalah membran yang hanya dapat dilewati oleh beberapa
molekul tertentu seperti air, namun tidak dapat dilewati zat terlarut secara
langsung seperti protein. (I Made, 2011)
Krenasi adalah sebuah
keadaan dimana sel menjadi mengkerut atau mengempis dikarenakan kehilangan atau
keluarnya air dari dalam sel keluar sel dalam jumlah yang banyak karena
dipengaruhi keadaan lingkungan sel yang hipertonis sehingga terjadi osmosis
(Suwolo, 2000:89)
Lisis adalah keadaan
dimana air dari lingkungan masuk kedalam sel dalam jumlah yang berlebih,
akibatnya sel menggelembung dan pecah diakibatkan membran sel tidak mampu
menahan bentuk sel, pada sel darah merah (eritrosit) peristiwa lisis disebut
homeolisis atau peristiwa pecahnya eritrosit yang disebabkan masuknya air
kedalam sel darah merah dan mengakibatkan hemoglobin keluar dari dalam sel dan
laruta dengan lingkunya. Membran plasma sel darah merah selektif permeable
sehingga dapat dilewati oleh air, dan zat – zat tertentu dapat juga melewatinya
namun ada juga yang tidak dapat mlewatinya. (Suwolo, 2000:88)
METODE PENELITIAN
Percobaan
mengenai “Toleransi Osmotik Eritrosit Hewan Poikilotermik dan Hewan
Homoiotermik Terhadap Berbagai Tingkat Kepekatan Medium” ini memiliki tujuan
untuk mengetahui besarnya toleransi osmotik ertrosit di kedua jenis hewan
tersebut terhadap berbagai tingkat kepekatan
medium. Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop, kaca benda,
kaca penutup, pipet tetes, jarum pentul,
papan dan alat seksiosedangkan bahan yang digunakan meliputi larutan
garam fisiologis untuk poikilotermik 0.7%NaCl, untuk homoiotermik 0.9% NaCl,
aquadest dan berbagai larutan garam dapur dengan berbagai konsentrasi.
Papan seksio da alat seksio
berfungsi untuk membedah hewan uji, pada percobaan kali ini hewan uji yang
digunakan yaitu kadal dan mencit. Kemudian jarum pentul guna menusuk bagian
pembuluh hingga keluar sel darah merahnya. Pipet tetes yang berfungsi untuk
mengambil eritrosit dari hewan-hewan tersebut. Kaca benda dan kaca penutup
digunakan untuk tempat atau wadah dari eritrosit hewan yang akan diamati di
bawah mikroskop. Pada saat pengamatan di bawah mikroskop harus dilakukan dengan
perbesaran lemah terlebih dahulu.
Prosedur kerja yang dilakukan
pada percobaan ini yaitu pertama, membunuh dan membedah hewan-hewan uji yang
tergolong hewan poikilotermik (kadal) dan hewan homoiotermik (mencit). Setelah
dilakukan pembedahan, pada bagian pembuluh hewan uji ditusuk dengan menggunakan
jarum pentul hingga keluar darah. Ketika darah keluar, darah tersebut diambil
atau dihisap dengan menggunakan pipet tetes. Setelah itu, darah yang ada di
pipet tetes diletakkan di atas kaca benda. Terdapat beberapa perlakuan yang
berbeda-beda pada bagian ini, ada yang tanpa diberikan larutan apapun (sebagai
kontrol), ada yang ditetesi aquades, ada yang ditetesi larutan NaCl 0.7%, NaCl
1%, dan NaCl 0.9%. hal ini bertujuan agar mengetahui bagaimana bentuk dari
eritrosit hewan-hewan trsebut terhadap berbagai tingkat kepekatan medium.
Setelah itu, dilakukan pengamatan di bawah mikroskop dan diamati bagaimana
bentuk-bentuk dari eritrosit tersebut.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil yang
diperoleh dari percobaan “Toleransi Osmotik Eritrosit Hewan Poikilotermik dan
homoiotermik Terhadap Kepekatan Medium” dapat dilihat dan diamati pada tabel
pengamatan di bawah ini.
|
Kelompok
|
Hewan
|
Medium
|
Keterangan
|
|
1
|
Kadal
|
Kontrol
|
Normal
|
|
Kadal
|
Aquadest
|
Lisis
|
|
|
2
|
Kadal
|
NaCl 0.7%
|
Normal
|
|
3
|
Kadal
|
NaCl 1%
|
Krenasi
|
|
4
|
Mencit
|
Kontrol
|
Normal
|
|
Mencit
|
Aquadest
|
Lisis
|
|
|
5
|
Mencit
|
NaCl 0.9%
|
Normal
|
|
Mencit
|
NaCl 1%
|
krenasi
|
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat
disimpulkan bahwa semua hasil dari pecobaan ini sesuai dengan teori atau
literatur yang ada. Kelompok 1, mengamati bentuk eritrosit pada hewan
poikilotermik yakni kadal, melakukan dua perlakuan medium yang berbeda yaitu
kontrol (tanpa diberikan larutan apapun) dan diberikan larutan aquadest. Pada
saat perlakuan kontrol, bentuk sel dari erirosit normal atau tidak terjadi
perubahan, namun pada saat diberikan larutan aquadest, bentuk sel eritrosit
menjadi lisis. Hal ini dikarenakan aquadest bersifat hipotonis. Pengenceran
dengan aquades kurang dianjurkan kerena dapat menyebabkan sel mengembang dan
pecah karena sifat aquadest yang hipotonis. Hal ini disebabkan karena cairan
aquadest masuk ke dalam sel melalui membran semipermeabel (Diarti, 2013).
Kelompok 2 mengamati eritrosit hewan kadal dan menggunakan larutan NaCl dengan
konsentrasi yaitu NaCl 0.7%. Pada medium NaCl 0.7%, bentuk sel eritosit normal,
hal ini dikarenakan pada umumnya cairan eritrosit poikilotermik (misalnya
kadal) isotonis dengan 0.7% NaCl. Sedangkan pada kelompok 3, mengamati hewan
poikilotermik (kadal) di medium NaCl 1%. Bentuk sel menjadi krenasi. Hal ini
dikarenakan, NaCl 1% merupakan larutan hipertonis, sehingga sel eritrosit
mengalami krenasi. Kelompok 4, mengamati eritrosit hewan homoiotermik yaitu
mencit dengan dua medium yang berbeda yaitu kontrol dan diberikan aquades. Pada
saat tanpa diberikan larutan (perlakuan kontrol), bentuk sel eritrosit normal
atau tidak mengalami perubahan sedangkan saat diberikan larutan aquades mnjadi
lisis. Hal ini sama halnya seperti pada perlakuan di kelompok 1, bahwasanya
aquades bersifat hipotonis sehingga menyebabkan sel eritrosit hewan mengalami
lisis. Kelompok 5 mengamati eritrosit pada hewan mencit dengan 2 medium yang
berbeda yaitu NaCl 0.9% da NaCl 1%. Pada saat diberikan larutan NaCl 0.9%,
bentuk sel eritrosit normal dikarenakan eritrosit homoiotermik isotonis dengan
0.9%, sedangkan saat diberikan larutan NaCl 1% akan mengalami krenasi karena
larutan tersebut merupakan larutan hipertonis.
Proses osmosis dipengaruhi oleh kadar zat
terlarut, baik yang terlarut di dalam lingkungan sel luar ataupun zat terlarut
di dalam cairan sel. Antara kedua cairan tersebut dipisahkan oleh membran sel
yang bersifat semipermebel. Osmosis sendiri diartikan sebagi peristiwa
mengalirnya zat pelarut dari daerah yang hipotonis zat terlarut ke daerah
hipertonis zat terlarut.
Umumnya cairan eritrosit poikilotermik
isotonis dengan 0.7% NaCl dan cairan eritrosit homoiotermik isotonis dengan
0.9% NaCl. Apabila eritrosit dimasukkan ke dalam larutan yang hipotonis , maka
akan mengalami lisis dikarenakan membran eritrosit tidak mampu lagi menahan
tekanan zat pelarut. Sebaliknya, apabila erirosit dimasukkan ke dalam cairan
hipertonis, maka air akan keluar dari dalam eritrosit dan eritrosit dapat
mengalami krenasi.
Larutan-larutan yang digunakan pada
percobaan ini yaitu aquades, NaCl 0.9%, NaCl 0.7% dan NaCl 1%. Perbedaan
pemberian larutan ini agar mengetahui bagaimana bentuk dari eritrosit terhadap
perbedaan jenis larutan tersebut. Aquades bersifat hipotonis yang akan
menyebabkan sel eritrosit menjadi lisis, NaCl 1% yang bersifat hipertonis yang
akan menyebabkan sel eritrosit menjadi krenasi. Sedangkan hewan poikilotermik
akan isotonis dengan larutan NaCl 0.7% yang menyebabkan sel eritrosit berbentuk
normal, dan hewan homoiotermik yang isotonis dengan larutan NaCl 0.9% yang
menyebabkan bentuk sel eritrosit menjadi normal.
Sel darah merah berupa cakram bikonkaf dengan diameter lebih kurang mikron. Tebal tepiannya 1.9 mikron. Darah normal mengandung 4 sampai 6 juta sel darah merah dalam satu milimeter kubik darah. Sel matang tidak memiliki inti. Sitoplasmanya mempunyai kerangka terdiri atas serabut-serabut yang disebut spektrin. Sel darah merah dalam berbagai kondisi larutan memiliki karakteristik yang berbeda pada kondisi larutan yang berbeda. Kondisi yang berbeda bergantung pada permeabilitas membran sel terhadap lingkungannya. Pada kondisi larutan yang hipotonis seperti larutan NaCl dengan konsentrasi NaCl 0.4% sel umumnya akan mengalami lisis. Pada kondisi larutan NaCl 0.9%, larutan dikatakan isotonis dengan eritrosit. Sedangkan pada larutan dengan kondisi hipertonik seperti pada NaCl 1.8%, eritrosit akan mengalami krenasi pada selnya (McGill, 2013). Sehingga fungsi dari eritrosit sendiri yang berkaitan dengan toleransi osmotik adalah:
a. Mengamati peristiwa hemolisis.
Kecepatan hemolisis eritrosit berbeda-beda tergantung pada tingkat konsentrasi larutan NaCl yang ditambahkan.
b. Menghitung Persentase Hemolisis
Bila
eritrosit mengalami hemolisis maka hemoglobin akan larut dalam mediumnya.
Akibat dari terlarutnya hemoglobin tersebut, medium akan berwarna merah. Makin
banyak eritrosit yang mengalami hemolisis maka makin merah warna mediumnya.
Dengan dibandingkan warna medium dengan larutan standar (eritrosit dalam air
suling), maka dapat ditentukan tingkat kerapuhan membran eritrosit (tingkat
toleransi osmotik membran eritrosit) (Soewolo, 2000).
Terdapat
perbedaan toleransi osmotik antara hewan poikilotermik dengan hewan
homoiotermik. perbedaan tersebut teletak pada kadar larutan isotonisnya. Pada
hewan poikilotermik misalnya kadal kadar isotonisnya yaitu 0.7% NaCl, sedangkan
pada hewan homoiotermik kadar isotonisnyayaitu 0.9% NaCl.
Sehingga
dapat diamati bahwa, yang lebih toleran adalah pada hewan homoiotermik, karena
pada hewan homoiotermik kadar isotonisnya lebih tinggi dibandingkan dengan
hewan poikilotermik. Pada hewan homoiotermik kadar isotonis sebesar 0.9%
NaCl.Salah satu faktor yang mempengaruhi toleransi osmotik terhadap berbagai
tingkatan medium adalah faktor usia eritrosit. Semakin tua umur eritrosit maka
inti dri eritrosit akan hilang dan lenyap, jadi terdapat ruang yang lebih di
dalamnya untuk mengikat oksigen. Sehingga hubungan antara faktor usia dengan
toleransi osmotik, apabila umur eritrosit semakin tua akan menyebabkan berkurangnya
tingkat kemampuan eritrosit dalam meengikat oksigen.
KESIMPULAN
Bentuk
sel eritrosit dipengaruhi oleh berbagai kepekatan medium. Pada larutan isotonis
akan berbentuk normal (tidak ada perubahan), pada hewan poikilotermik larutan
hipotonisnya 0.7% NaCl, sedangkan hewan homoiotermik larutan isotonisnya adalah
0.9% NaCl. Aquades bersifat hipotonis yang menyebabkan lisis, NaCl 1% bersifat
hipertonis yangn menyebabkan krenasi. Pada praktikum ini, semua hasil yang diperoleh
sesuai dengan teori.
DAFTAR PUSTAKA
Adokar,
Dineshkumar U. Danesh S. Patil and Amrita Gupta. 2013. Generation of
Electricity by OSMOSIS. International
Journal of Emerging Technology and Advanced
Engineering Vol.
3(1): 846-851.
Alakomi, H. L. 2007. Weakening of the Gram-Negative Bacterial Outer Membrane: a Tool for
Increasing Microbiological Safety, Finland: VTT Technical Research Centre.
Bajpai.2002. Histologi
Dasar Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia.
Diarti, Maruni Wiwin. Erlin Yustin Tatontos dan Aden
Turmji. 2013. LARUTAN PENGENCER ALTERNATIF NaCo 0.9% DALAM PENGECATAN GIEMSA
PADA PEMERIKSAAN MORFOLOGI SPERMATOZOA. Jurnal
Kesehatan Prima Vol.9 (2).
I
Made Suma Anthara. 2011. Homeostatis Cairan Tubuh pada Anjing dan Kucing. Buletin Veteriner Udayana. ISSN 2085 –
2495 Vol 3 (1) :23 – 37.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi
Hewan. Yogyakarta: Kanisius
Mc. Gill. 2013. Red Cell Fragility [online]. http ://www.Medicine.mcGill.ca/physio/vlab/bloodlab/eryfrag1_n.htm
diakses pada tanggal 14 November 2017 pukul 00.15
Mescher, Anthony L. 2010. Histology dasar junqueira.
Jakarta: EGC.
Neelam, Singh, Semwall B.C, Maurya Krishna, Khatoon
Ruqsana, et all. 2015.Artificial Blood a Tool For Survival of Human. Journal of Pharmacy. Vol 3(5):11-21.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar